Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Warisan Budaya Pacu Jalur di Kuansing: “Menjinak” Mambang di Pohon Jalur

Gema Setara • Senin, 8 Juli 2024 | 09:41 WIB
Dua jalur saat berlomba di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, belum lama ini.
Dua jalur saat berlomba di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, belum lama ini.

Pacu Jalur. Iven budaya, olahraga dan pariwisata ini menjadi daya pikat, daya pukau serta  daya ungkit bergeraknya ekonomi masyarakat tempatan. Semangat kebersamaan dan gotong royong terpatri erat dalam setiap alur-alur yang patut dari pembuatan perahu jalur. Persebatian antara manusia, alam dan alam tak kasat mata pun jadi penyeri pada setiap rangkaian pembuatan satu jalur.

Laporan GEMA SETARA, Telukkuantan

TEPIAN Rajo,Desa Pulau Tengah, Kecamatan Pangean, Kuantan Singingi (Kuansing), Sabtu (8/6/2024). Panas nan membahang (hawa panas, red) hari itu tak menyurutkan langkah masyarakat dari setiap ceruk dan sudut kampung di Kecamatan Pangean melangkahkan kakinya menuju ke Tepian Rajo. Di seberang Desa Pulau Tengah terdapat juga Desa Teluk Pauh dan Desa Padang Tanggung yang masuk dalam kawasan Tepian Rajo.

Saat waktu semakin beringsut menjelajahi perputaran waktu, tribun penonton semakin tepu (penuh sesak, red) akan kehadiran masyarakat yang akan menyaksikan pacu jalur rayon Pengean. Semakin mendekat waktu pacu, tribun penonton sudah penuh sesak. Mereka (masyarakat, red) tak menghiraukan panas yang menyengat itu.

Sementara di Batang Kuantan, ratusan jalur mulai melakukan pemanasan. Bunyi tiupan peluit dan kecipak air dari setiap kayuhan dayung anak jalur menjadi irama penyeri yang membuat suasana Batang Kuantan hari itu cukup semarak. Selain itu, ada juga anak jalur yang melafalkan zikir  Laillahhaillallah.. Laillahhaillallah.. Laillahhaillallah, sambil terus mengayuh dayungnya.Baca Juga: Tak Daftar Ulang Dianggap Mengundurkan Diri, 9.005 Tamatan SD Lulus PPDB SMPN.

Selain itu, sekali-kali terdengar juga bunyi hentakan dayung yang dilakukan tukang timbo ruang pada bagian lambung jalur  Duk..dukk..dukk  yang sejurus kemudian anak-anak jalur yang sebelumnya mengayuh dayung dengan pelan dan santai secara otomatis pula mereka mempercepat kayuhannya.

Begitulah keadaannya. Riuh rendah suara penonton bersatu padu dengan pekikan semangat yang diluahkan anak-anak jalur. Sementara dari pengeras suara panitia terdengar agar anak-anak pacu menghentikan aktivitas pemanasannya, karena dalam waktu dekat perlombaan akan segera dimulai. Tapi, imbauan itu sepertinya tak dipedulikan, mereka tetap melakukan pemanasan di tengah terik matahari yang menyengat.

Tepat pukul 14.00 WIB terdengar letusan dari pancang start. Ini tanda perpacuan dimulai. Dari arah hulu terlihat dua jalur yang saling beradu cepat menuju pancang finis. Sementara tukang tari dengan mengenakan seragam khas melenggak-lenggok dengan gemulainya. Di bagian tengah jalur, tukang timbo ruang dengan pekikanmenggema memberi motivasi kepada anak-anak pacu agar mempercepat gerakan kayuhannya.

Begitulah hari itu. Tepian Rajo menjadi saksi bisu perpacuan demi perpacuan. Tepian Rajo menjadi saksi kekompakan tim dan kekompakan masyarakat dari desa yang jalurnya ikut berlaga dalam perpacuan itu. Tepian Rajo juga menjadi saksi bisu bagaimana suka dan duka peserta yang ikut berlomba dan Tepian Rajo juga menjadi saksi bisu bagaimana “perseteruan” alam gaib diikutkansertakan menjadi “peserta” tak kasat mata dalam setiap dengus napas anak-anak pacu.

Mengutip Wikipedia, pacu jalur (juga dieja sebagai pachu jalugh atau patjoe djaloer) adalah perlombaan tradisional dayung perahu atau sampan atau kano terbuat dari kayu gelondongan utuh yang dibentuk menjadi perahu khas Rantau Kuantan yang berasal dari kabupaten Kuantan Singingi, Riau.Baca Juga: FKIP Unri Pengabdian Kolaborasi Internasional

Pacu Jalur diadakan setiap tahun di Sungai Batang Kuantan di bawah rangkaian acara Festival Pacu Jalur, yang mana merupakan festival tahunan terbesar bagi masyarakat setempat (terutama di ibukota kabupaten Telukkuantan) selama ratusan tahun.

Sejak 2014, tradisi, pengetahuan, adat budaya, kesadaran biosentrisme dan praktik pacu jalur secara resmi diakui dan ditetapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian integral dari Warisan Budaya Nasional Takbenda dari Kabupaten Kuansing. 

Sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya tersebut, pemerintah Indonesia mendukung Festival Pacu Jalur yang diadakan setiap tahun di Kuansing dan mempromosikan pentingnya festival tersebut kepada masyarakat luas baik nasional maupun internasional.

Secara etimologinya, istilah pacu jalur berasal dari bahasa Minangkabau Timur  pacu secara harafiah berarti  lomba, sedangkan kata jalur berarti  perahu atau sampan.  Secara sederhana, pacu jalur dapat diterjemahkan sebagai  balapan perahu  atau  balapan kano.

Menurut sumber lisan masyarakat setempat, jalur pada mulanya merupakan sarana transportasi menyusuri  Batang Kuantan dari Hulu Kuantan hingga ke Cerenti di bagian hilir Sungai Kuantan. Karena transportasi darat belum berkembang pada masa itu, jalur tersebut sebenarnya digunakan sebagai sarana transportasi penting bagi penduduk desa, terutama digunakan sebagai sarana pengangkutan hasil bumi, seperti buah-buahan lokal dan tebu.Baca Juga: Tujuh Bulan Tersangka, Firli Tak Kunjung Ditahan

Pada masa penjajahan Belanda, pacu jalur digunakan sebagai pemeriah untuk memperingati hari lahir Wilhelmina (Ratu Belanda) yang jatuh pada  31 Agustus setiap tahunnya, dan festival ini biasanya berlangsung hingga tanggal 1 atau 2 September. Perayaan pacu jalur dipertandingkan selama 2-3 hari, tergantung jumlah lintasan yang diikuti.

Dahulu, sebelum kedatangan penjajah Belanda, pacu jalur sudah diselenggarakan penduduk setempat untuk memperingati hari-hari besar umat Islam, seperti Maulid Nabi, Idulfitri, atau bahkan untuk merayakan Tahun Baru Islam. Selanjutnya setelah kemerdekaan Indonesia, festival ini semakin berkembang dan juga digunkan untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk melestarikan tradisi budaya tersebut, pemerintah Indonesia memasukkan Festival Pacu Jalur dalam acara kalender wisata nasional tahunan Indonesia, yang biasanya diadakan sekitar tanggal 23 hingga 26 Agustus setiap tahunnya.

“Menjinak” Mambang

Adalah Hasirun atau masyarakat Desa Kampung Baru, Kecamatan Sentajo Raya lebih akrab memanggilnya dengan Irun. Sejak dua minggu sebelumnya, masyarakat  setempat melalui musyawarah desa sudah bersepakat menunjuk dia sebagai orang yang diamanahkan membuat jalur baru desa tersebut.

Saat tim Ekspedisi PWI se-Riau berkunjung ke daerah itu, Irun bersama sejumlah kawan-kawannya sedang membuat Jalur Pangeran Karamat Tangan Biso. Jalur yang sudah setengah jadi itu diberi naungan paranet berwarna hitam. Panjang jalur itu mencapai 35 meter. Satu unit jalur memang terbuat dari satu batang pohon utuh.

Pria yang sudah hampir  13 tahun membuat perahu jalur di berbagai desa yang ada di Kuansing maupun kabupaten tetangga Indragiri Hulu (Inhu) bukanlah orang bisa dipandang sebelah mata. Dari tangannya sudah banyak jalur yang berhasil meraih juara, baik juara di tingkat rayon maupun di iven pacu nasional.

Masyarakat Desa Kampung Baru sendiri bukan tidak beralasan menunjuk Hasirun sebagai pembuat jalur desa mereka. Karena dari berbagai jalur yang dibuat Hasirun rata-rata berhasil meraih juara, kalau tak juara di iven nasional di Tepian Narosa Teluk Kuantan setidaknya di perpacuan rayon.Baca Juga: Yuk, Intip Seluk Beluk Aktor Choi Tae Joon yang Sudah Menikah dengan Park Shin Hye

Hasirun sendiri melakoni pekerjaan ini sejak 1999. Hanya saja ketika itu dia hanya sebagai pembantu saja.  Namun seiring perjalanan waktu dan ketunakannya mempelajari pembuatan perahu jalur akhirnya pada 2010 dia sudah bisa membuat sendiri perahu jalur.

“Sudah 13 tahun saya membuat perahu jalur ini. Alhamdulillah perahu jalur yang saya buat bersama kawan-kawan selalu meraih prediket terbaik dari setiap ajang pacu, kalau tak pacu nasional setidaknya di pacuan rayon,” kata menjawab Riau Pos.

Apa kendala yang selalu dihadapinya ketika membuat perahu jalur, Irun mengatakan biasanya kendala utama itu sakit dan hari hujan. “Kalau sudah sakit memang tak bisa bekerja. Begitu juga kalau hujan,” ujarnya.

Apakah selama 13 tahun membuat perahu jalur dirinya mengalami hal-hal mistis, pengakuan Irun tidak pernah sama sekali. “Alhamdulillah tidak pernah mengalami hal-hal semacam itu, saya berserah diri kepada Allah SWT saja. Makanya ketika saya membuat perahu jalur saya senantiasa berzikir kepada Allah SWT,” ujarnya.

Mengapa? Katanya, karena biasalah sebatang pohon yang diambil dari hutan belantara kadang-kadang masih ada “penunggunya”. “Ada mambang penunggu pohon itu, kadang dia masih ada pada pohon itu, mengikut dia sampai ke desa. Akibatnya kadang-kadang kami yang membuat ini bisa sakit. Makanya selama saya membuat perahu jalur ini istigfar dan meminta perlindungan dari Allah SWT senantiasa saya ucapkan supaya mambang yang ada pada pohon itu mau berkawan atau jinak dengan kita,” ujarnya.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mambang merupakan makhluk halus yang menurut kepercayaan sebagian orang membinasakan manusia (bermacam-macam warnanya, ada yang kuning, merah, hitam, dan sebagainya, dan disebut juga menurut  tempatnya).Baca Juga: Hakikat Hijrah yang Hilang

Kesan mistis dari penyelenggaraan pacu jalur, sepertinya sudah terlihat dari prosesi pengambilan pohon untuk dijadikan perahu jalur. Melibatkan “orang tua” yang katanya bisa melihat alam tak kasat mata masih ada sampai saat ini. Melibatkan “orang tua” sepertinya satu kewajiban yang harus pada setiap pengambilan pohon untuk dijadikan perahu jalur.

Hal ini setidaknya diakui warga Desa Kampung Baru Yusman dan Arlisman. “Sebelum kayu ditebang harus dilakukan tepuk tepung tawar terlebih dahulu dan melepas seekor ayam kampung. Istilahnya, kita minta izinlah dulu kepada ‘penunggu’ pohon itu. Sedangkan ayam yang kita lepas itu sebagai pengganti pohon yang ditebang,” ujar Yusman.

Kalau ritual seperti ini tidak dibuat kadang-kadang berdampak kepada orang yang menebang pohon itu. “Isian tepuk tepung tawar itu umumnya berupa kumpai,  cikoraw, sitawar sidingin, kedelai hitam,bambu kuning , daun pinang daro dan ayam. Ayam biasanya dilepas. Yang lainnya selain direnjis pada pohon juga ditanam  bawah pohon yang akan ditebang tadi,” tambah Arlisman.

Kalau ini tak dibuat bagaimana? Tanya Riau Pos, keduanya berpikir sejenak. “Banyak risikonya pak, ada yang sampai muntah darah, patah kaki. Pokoknya tak selemat kalau tak dibuat. Ini pernah terjadi di kampung kami,” ujarnya Yusman lagi.

Soal penuhnya suasana mistis dari penyelenggaraan iven ini juga tidak dibantah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kuansing Drs Azhar MM. Hanya saja dia menyebut, ini sebagai bentuk khazanah  budaya saja.  

“Peran ‘orang tua’ ini sangat besar. Kita sudah berupaya untuk tidak melakukan hal-hal seperti ini, tapi  karena ini budaya yang sudah berlangsung lama, jadi agak susah untuk menghilangkannya. Tapi kalau saya memandangnya anggap sajalah ini bagian dari khazanah budaya kita dan jangan dipercaya betul terhadap hal-hal seperti ini,” ujarnya.Baca Juga: Jarang Diketahui, Bawang Merah Ternyata Efektif Tangkal Berbagai Risiko Penyakit!

Dia menyebut, tahun 2015 lalu pacu jalur telah ditetapkan sebagai warisan tak benda. Mengapa pacu jalur ditetapkan sebagai warisan tak benda karena  di sana ada sastra lisannya, ada mantra ada nilai-nilai seni karena setiap jalur ada ukiran, di belakang ada selembayung dan sebagainya.

Yang pasti pacu jalur menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan bagi masyarakat Kuansing. Bagi masyarakat Kuansing, pacu jalur ini adalah marwah kampung. Jika kampung itu tidak ada jalur sama dengan desa itu tidak memiliki  orang lelaki. “Dia menjadi marwah bagi masyarakat kampung di Kuansing, khususnya masyarakat yang berada di bertempat tinggal di pinggir-pinggir  Batang Kuantan,” ujarnya.

Apa yang menarik dari pelaksanaan pacu jalur ini adalah, dia menjadi magnet yang bisa mendatangkan orang banyak. Sekarang pacu jalur menjadi agenda wisata nasional yang mendatangkan efek domino yang cukup besar bagi masyarakat Kuansing. Dari iven ini, pergerakan ekonomi masyarakat melesat cepat, terutama dari sektor UMKM.

“Ini harus kita syukuri, dari pelaksanaan pacu jalur ini, sekarang Kuansing sudah mendunia, ekonomi masyarakatnya bergerak dengan cepat khususnya dari sektor UMKM. Semuanya sektor yang menunjang ekonomi masyarakat dari pelaksanaan pacu jalur ini bergerak dan mendatangkan keuntungan yang cukup besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, tradisi pacu jalur merupakan tradisi dari dahulu dan tidak bisa lekang dari masyarakat Kuansing. Sehingga tradisi pacu jalur menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing baik yang berada di sini dan para perantau yang ada diluar Kuansing.

“Tahun lalu minat mereka yang menontot pacu jalur sangat besar dan di medsos sampai tayang 24 juta kali, ini menunjukkan bagimana pacu jalur menjadi daya tarik sendiri bagi mereka yang tidak bisa hadir langsung di gelanggang pacu untuk menonton,” katanya.Baca Juga: Ingin Selalu Sehat dan Bahagia di Usia Senja? Coba Lakukan Kebiasaan-Kebiasaan Ini sejak Muda

Jaga Kelestarian Hutan

Pelaksanaan pacu jalur selama ini memang tidak bisa dipisahkan dari upaya penyelematan lingkungan yang harus dilakukan, khususnya untuk masyarakat desa yang akan membuat jalur baru. Betapa tidak, untuk membuat  satu jalur masyarakat harus mencari pohon kayu yang kualitasnya terbaik,umurnya sudah cukup dan ketinggiannya (panjang) kayunya pun sudah mumpuni.

“Tolong-tolong jaga lingkungan, jaga hutan kita. Jangan setiap tahun buat jalur terus. Kalau tiap tahun buat jalur, punah hutan kita, rusak lingkungan kita. Jalur yang sudah ada saja perbaiki, jangan gara-gara jalur tidak pernah jadi juara, lalu ganti jalur baru, tebang pohon lagi. Perbaiki saja jalur yang sudah ada,” ujar Bupati Kuansing Suhardiman Amby.

Dia mengatakan, memang untuk membuat jalur baru biayanya lebih murah daripada memperbaiki jalur yang sudah ada, namun ini tidak harus menjadi alasan bagi masyarakat untuk membuat jalur baru setiap tahunnya. “Kayu-kayu besar sudah mulai habis. Pohon-pohon besar yang ada sekarang kita biarkan tumbuh dengan baik dan berkembang,” ujarnya.

Pemkab Kuansing, tambah bupati, telah memberikan subsidi kepada  jalur-jalur yang bertanding. Besaran subsidi mencapai Rp2 juta per jalur. Anggaran subsidi itu berasal dari APBD Kabupaten Kuansing dan dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. “Dari Pemkab Kuansing Rp1 juta dan dari Pemprov Riau juga Rp1 juta. Manfaatkan anggaran subsidi ini dengan baik,” ujarnya.

Bupati mengakui kalau  tradisi pacu jalur Kuansing adalah ikonik, pariwisata unggulan di Kabupaten Kuansing bahkan Riau. Sekarang, tradisi yang sudah berusia seratus tahun lebih itu, sudah masuk menjadi kalender pariwisata nasional. 

“Sekarang pacu jalur Kuansing sudah masuk tujuh besar Kharisma Even Nusantara (KEN) Pariwisata Indonesia. Pemkab berharap, pacu jalur terus menggema, dan bisa tahun ini masuk tiga besar KEN Pariwisata Indonesia,” tuturnya. 

Karena itu, pemkab dalam berbagai pertemuan terus menyosialisasikannya ke masyarakat dan tamu-tamu dari luar Kuansing.  “Mengapa karena dari pelaksanaan iven pacu jalur ini mendatangkan efek domino positif bagi masyarakat, terutama pergerakan ekonomi,” ujarnya.

Falsafah Pacu Jalur

Tokoh masyarakat yang juga pengamat pacu jalur Kuansing Darwis mengungkapkan sejumla falsafah dari pelaksanaan pacu jalur itu. Gambaran besarnya dari pelaksanaan pacu jalur itu mengandung falsafah  kebersamaan, silahturahmi,  gotong royong dan  mempertahankan nilai-nilai  adat dan budaya. “Ini empat falsafah besarnya,” katanya kepada Riau Pos.

Namun, kalau dilihat dari sisi mereka yang ikut bertanding dalam jalur itu, ada satu kesatuan yang harus diisi. Di sana ada tukang tari, tukang timbo ruang dan onjai. “Masing-masing mereka ini memiliki falsafah tersendiri. Tukang tari selalu identik dengan anak kecil yg berpakaian Melayu,” ujarnya.Baca Juga: Apakah Aman Wanita Hamil 2 Bulan Minum Air Kelapa Muda? Coba Simak Ini

Ini, tambahnya,  bermakna anak muda Kuansing yang mampu berdiri di atas goncangan ombak dan gelombang untuk mencapai suatu tujuan. “Ini artinya pemuda Kuantan harus mampu menjalani kehidupan ini sekeras apa pun tantangan hidup untuk menuju kesuksesan,” ujarnya.

Tukang timbo ruang selalu identik dengan orang dewasa. Ini bermakna, seorang timbo ruang adalah pemimpin dalam jalur yang akan mengatur dan memerintahkan anak pacu dalam strategi bakayuah saat berpacu.

“Seorang pemimpin harus memahami orang yang dipimpinnya dan harus mampu menyikapi situasi dan kondisi untuk mengambil suatu kebijakan dan keputusan demi kemajuan negerinya,” ujarnya.

Selanjutnya tukang onjai, juga identik dangan orang dewasa yang bertugas memberikan aba-aba dan arahan kepada tukang kemudi agar jalur tetap lurus dan tidak salah jalan. Tukang onjai ini diibaratkan adalah seorang pimpinan adat/seorang ulama yang senantiasa memberikan petuah dan nasihat kepada anak cucu kemenakan/kepada umat.

“Tukang tari, tukang timbo ruang, tukang onjai selalu di tangannya memegang lidi kelapa, daun ditawar sidingin, arai pinang, ini bermakna seluruh yang ada di dalam jalur walaupun berlatar belakang yang berbeda tetap berada dalam satu genggaman untuk meraih kesuksesan,” ujarnya.***

Editor : RP Edwar Yaman
#Kayu Jalur #kuansing #pacu jalur #warisan budaya