Meskipun sudah empat tahun berlalu. Namun memori ingatan Suparto masih jelas menyimpan, bagaimana ia dan warga lainnya di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau berkonflik dengan kawanan gajah sumatera. Konflik yang terjadi saat itu tidak hanya sekadar rusaknya tanaman perkebunan, namun juga kawanan gajah masuk ke permukiman dan mengancam keselamatan warga.
Laporan: SOLEH SAPUTRA, Pekanbaru
DICERITAKAN Suparto, konflik antara warga dan gajah di daerahnya sudah mulai terjadi sejak tahun 1995 hingga tahun 2020. Saat itu, ia dan warga lainnya membuka kebun dengan menanam kelapa sawit. Namun baru seminggu ditanam, kawasan gajah memasuki area kebun dan memakan bibit kelapa sawit yang baru ditanam.
“Awal konflik itu saat kami baru mulai menanam sawit, bibit baru ditanam satu minggu sudah habis dimakan kawanan gajah,” kata Suparto.
Tidak ingin luas kebun kelapa sawit yang dirusak kawasan gajah semakin luas, warga kemudian melakukan penjagaan kebun dengan membawa petasan. Begitu kawanan gajah mendekat, warga kemudian membunyikan petasan dan mengarahkannya ke kawanan hewan mamalia tersebut agar menjauh dari area kebun.
“Warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” sebutnya.
Karena tanaman kelapa sawit selalu diganggu gajah dan belum sempat hingga berbuah, kemudian warga Desa Pinggir mengganti tanaman kebun mereka dengan pohon karet. Pilihan penggantian tanaman ini ternyata juga bukan merupakan keputusan tepat. Bibit-bibit pohon karet ternyata juga menjadi makanan favorit gajah.
“Kalau bibit kelapa sawit dimakan gajah pada bagian pucuknya, sedangkan bibit karet dimakan kawanan gajah pada bagian kulitnya sehingga tanaman mati,” ujarnya.
Sering terjadinya konflik antara masyarakat dan gajah di wilayah Desa Pinggir, akhirnya mendapat perhatian dari Rimba Satwa Foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
RSF saat itu langsung turun ke lokasi konflik dan menghimpun informasi dari warga. Diketahui, bahwa lahan perkebunan yang dikelola warga tersebut merupakan jalur koridor gajah sehingga akan sering menjadi perlintasan gajah.
“RSF saat itu langsung datang, dan menyebut bahwa lokasi kebun kami itu merupakan jalur lintasan gajah,” katanya.
Sadar konflik ini tidak akan berakhir jika tidak segera dilakukan tindakan. RSF kemudian mengedukasi warga Desa Pinggir untuk menanam tanaman yang tidak disukai gajah, namun tetap memiliki nilai ekonomi tinggi di lahan-lahan mereka.
“Sudah sejak dua tahun terakhir, kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF. Hingga terbentuklah Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya,” sebutnya.
Bersama anggota KTH lainnya, Suparto saat ini mengelola program agroforestri yang merupakan program kemitraan RSF dan PHR. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi interaksi negatif dengan gajah melalui pertanian. Jenis tanaman yang digunakan adalah tanaman yang rendah gangguan dari gajah, tetapi bernilai ekonomi tinggi, seperti durian, matoa, kopi, alpukat, dan aren.
“Sejak ada tanaman ini, jika ada gajah yang datang, mereka hanya melintas saja, tanamannya tidak diganggu atau dimakan. Terakhir kami lihat gajah melintas di kebun kami itu sekitar dua bulan lalu,” sebutnya.
Selain menanam tanaman yang tidak disukai gajah. Masyarakat Desa Pinggir juga melakukan rehabilitasi habitat dengan menambah volume tumbuhan yang menjadi pakan gajah. Mereka menggarap budidaya rumput odot (Pennisetum Purpureum) yang disukai gajah. Rumput itu dipelihara di sebuah pekarangan kecil di belakang rumah-rumah warga.
Saat ukurannya cukup besar, rumput-rumput itu kemudian ditanam kembali di koridor jalur gajah, tepi sungai, atau batas-batas kebun masyarakat. Tujuannya agar gajah tetap berada di jalurnya dan mendapatkan sumber makanan. Dengan cara ini, permukiman dan kebun warga tetap aman dari gajah, dan mereka dapat hidup berdampingan.
“Program ini sangat membantu dalam mengatasi interaksi negatif dengan gajah, sehingga konflik antara gajah dan manusia mengecil. Bahkan saat gajah melintas, saat ini justru menjadi hiburan bagi warga terutama anak-anak. Tidak lagi menjadi hama,” kata Suparto.
Selain agroforestri, KTH Alam Pusaka Jaya juga mengembangkan peternakan kambing bantuan dari PT PHR. Bantuan berupa indukan kambing dari PHR ini kini telah berkembang pesat.
“Untuk agroforestrinya saat ini belum membuahkan hasil dari sisi ekonomi, tapi konflik gajah-manusia mengecil. Kami saat ini juga fokus pada peternakan kambing yang dibantu PHR. Awalnya bantuan berupa indukan kambing 13 ekor terdiri dari sembilan betina dan tiga jantan, sekarang alhamdulillah sudah 23 ekor, sangat bagus pertumbuhannya, dan kesehatannya kita pantau terus,” jelasnya.
Upaya Hidup Berdampingan dengan Gajah
Database and GIS Officer RSF Git Fernando menyebutkan, untuk mengurangi dampak konflik antara manusia dan gajah. Menurutnya dapat dilakukan dengan cara hidup berdampingan dengan gajah, tujuan dilakukan program agroforestri yakni mengurangi dampak konflik tersebut.
“Program agroforestri ini yakni menanam tanaman yang tidak disukai gajah di jalur lintasan gajah. Jadi selama ini gajah berkonflik dengan manusia itu, karena tanaman yang ditanam masyarakat itu sawit. Di mana sawit ini salah satu makanan primadona bagi gajah,” katanya.
Karena itu, pihaknya mendorong masyarakat untuk menanam tanaman yang tidak disukai gajah, tapi bernilai ekonomi bagi masyarakat. Hingga saat ini, total lahan yang sudah ditanami tanaman tersebut seluas 225 hektare yang tersebar di lima desa. Yakni Desa Buluh Manis, Pematang Pudu, Pinggir, Balai Raja, dan Desa Semunai yang semuanya ada di Kabupaten Bengkalis.
“Saat ini total sudah 225 hektare lahan yang ditanami tanaman yang tidak disukai gajah tapi bernilai ekonomi. Seperti durian, matoa, kopi, alpukat, dan aren. Dengan total bibit sebanyak 32 ribu lebih, alhamdulillah juga sudah ada beberapa tanaman yang berbuah. Dan ketika gajah melintas di lokasi ini, gajah hanya akan melintas saja tanpa merusak tanaman yang ada,” sebutnya.
Selain program untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Pihaknya juga melaksanakan program pembinaan habitat gajah dengan program pengkayaan pakan. Untuk program ini, hingga saat ini pihaknya sudah mengelola sekitar 400 hektare untuk pengembangan tanaman pakan gajah.
“Upaya ini juga sangat membantu untuk memitigasi konflik manusia dengan gajah. Karena dengan adanya pengkayaan pakan di suatu titik, maka gajah akan bersama-lama disana karena pakannya tercukupi. Dengan begitu konflik juga akan berkurang,” katanya.
“Melalui program-program yang dibuat ini, kami membagi pola ruang, jadi ada ruang hidup untuk manusia melalui program agroforestri dan ruang hidup untuk gajah melalui pengkayaan pakan,” sambungnya.
Dijelaskan Git, penggantian jenis tanaman saat ini masih menjadi yang paling efektif untuk mencegah terjadinya konflik. Karena, jalur koridor gajah dari dahulu hingga saat ini tidak akan berubah.
“Jalur koridor gajah dari dulu itu tidak akan pernah berubah. Kalau berubah sedikit itu biasanya kalau ada hambatan, seperti sekarang ini dibuat parit besar. Gajah akan berbelok ke kiri atau kanan, tapi kalau sudah bisa melewati hambatan itu akan kembali ke jalur semulanya lagi,” jelasnya.
Karena itu, dalam kesempatan tersebut pihaknya mengajak kepada seluruh pihak terkait, mulai dari pemerintah, swasta Non Government Organization (NGO) dan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan gajah. Karena gajah bisa memberikan keuntungan.
“Gajah inilah yang bisa menjaga ekosistem sebenarnya. Kalau kita jaga gajah, gajah pasti jaga hutan. Kalau hutan terjaga, oksigen pasti bagus. Keuntungannya bagi kita juga kan, dengan kata lain hutan jaga kita. Siklusnya akan seperti itu. Karena oksigen itu mahal,” sebutnya.
Disebutkan Git, saat ini jumlah gajah yang berada disekitar area wilayah kerja PHR berjumlah sekitar 75 ekor. Berkah kerjasama dalam hal mengurangi konflik antara gajah dengan masyarakat, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ada sembilan anak ekor gajah yang lahir.
“Dari hasil kolaborasi antara pihak perusahaan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), NGO dan masyarakat buktinya dalam tiga tahun terakhir ada sembilan ekor anak gajah yang lahir. Hal ini membuktikan kerjasama semua pihak masih berdampak bagi kelestarian gajah, tinggal bagaimana memaksimalkan lagi upaya tersebut,” ajaknya.
Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto menjelaskan, bahwa upaya-upaya konkret tersebut merupakan implementasi dari program TJSL. PHR bekerja sama dengan BBKSDA Riau dan RSF terus berupaya melindungi dan melestarikan gajah dan habitatnya.
“Gajah adalah hewan yang penting bagi ekosistem, dan mereka memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam,” kata Rudi.
Dijelaskannya, strategi untuk mewujudkan konservasi gajah yang telah dilakukan seperti pemanfaatan teknologi dengan pemasangan GPS Collar, penguatan sinergi pengembangan masyarakat untuk edukasi, pengembangan habitat dan koridor untuk gajah, serta pertanian agroforestri.
Secara umum, program agroforestri ini berupa pengembangan sistem tanaman di lahan-lahan masyarakat yang kerap berkonflik dengan gajah. Masyarakat yang lahannya berada di home-range dan perlintasan gajah dilibatkan, dengan menanam berbagai jenis tanaman yang rendah gangguan dari gajah, namun bernilai ekonomi tinggi.
“Inisiatif program agroforestri ini memiliki manfaat yang multi dimensi. Selain mendukung pengurangan jejak karbon melalui penanaman pohon, menjaga keanekaragaman hayati, memberdayakan ekonomi masyarakat, juga memperbesar ruang di mana gajah dapat diterima oleh masyarakat. Dengan demikian ruang-ruang yang berpotensi konflik akan mengecil,” sebutnya.
Baca Juga: Angka Stunting Kelurahan Sungai Jering Tinggal Menyisakan 7 KK
Jumlah Konflik Antara Manusia dan Satwa Terus Turun
Kepala BBKSDA Riau Genman S Hasibuan S.Hut MM mengatakan, untuk menanggulangi konflik antara satwa dan manusia sudah banyak dilakukan oleh BBKSDA Riau dan semua pihak terkait. Namun menurutnya perlu diintegrasikan agar apa yang dilakukan dapat lebih efektif.
“Untuk menanggulangi konflik antara satwa dan manusia, sebenarnya sudah banyak yang dilakukan. Baik oleh BBKSDA Riau dan juga pihak terkait seperti NGO dan perusahaan, namun memang harus diintegrasikan lagi supaya lebih efektif sehingga hasilnya lebih terlihat,” sebutnya.
Dijelaskan Genman, berdasarkan data yang pihaknya miliki, konflik antara satwa dan manusia termasuk konflik antara manusia dan gajah pada tahun 2022 ke tahun 2024 terus menurun.
“Untuk konflik antara manusia dan satwa termasuk gajah sumatera di Riau terpantau terus turun. Pada tahun 2022 itu ada 175, kemudian tahun 2023 turun menjadi 113 dan hingga September 2024 kembali turun menjadi 51 kasus,” ujarnya.
Terkait apa yang dilakukan masyarakat dengan NGO, dalam pembuatan barier alami untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah yakni menanam tanaman yang tidak disukai gajah. Menurut Genman berdasarkan hasil riset, di beberapa tempat yang menerapkan sistem serupa sudah terbukti efektif.
“Berdasarkan hasil riset, penanaman tanaman yang tidak disukai gajah untuk memitigasi konflik dengan manusia sudah terbukti efektif. Di beberapa tempat sudah terbukti efektif. Tetapi memang cara ini bukan satu-satunya, bisa juga dengan cara pengkayaan pakan dan juga memasang kawat kejut,” ujarnya.***
Editor : RP Edwar Yaman