KISRUH KPK

Perwakilan 75 Pegawai KKPK Minta Pemeriksaan Motif Maladministrasi

Hukum | Rabu, 21 Juli 2021 - 22:06 WIB

Perwakilan 75 Pegawai KKPK Minta Pemeriksaan Motif Maladministrasi
Gedung KPK di Kuningan, Jakarta. (DOK RIAUPOS.CO)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Perwakilan 75 orang pegawai KPK yang tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) mempertimbangkan upaya hukum untuk memeriksa motif temuan malaadministrasi dalam pelaksanaan alih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Ada tiga kata kunci pada temuan yang kami anggap serius. Pertama malaadministrasi; kedua pelanggaran prosedural; dan ketiga yang amat serius adalah penyalahgunaan wewenang. Terkait dengan tiga kata kunci ini, kami mempertimbangkan upaya hukum lebih lanjut untuk mendorong adanya pemeriksaan terkait motif dilakukannya pelanggaran serius tersebut," kata perwakilan pegawai Rasamala Aritonang dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (21/7/2021.


Pada Rabu, Ombudsman RI menyatakan terdapat malaadministrasi dalam pelaksanaan TWK pegawai KPK untuk menjadi ASN. Malaadministrasi tersebut ditemukan mulai dari pembentukan dasar hukum, pelaksanaan TWK, hingga penetapan hasilnya.

"Motif ini penting untuk menilai tujuan tindakan melawan hukum yang telah mengakibatkan kerugian, tidak saja terhadap 75 pegawai tetapi juga terhadap upaya pemberantasan korupsi dalam makna yang lebih luas," ungkap Rasamala.

Rasamala mempertanyakan apa motif Kepala Biro Hukum KPK dan Direktur Perundangan Kemkumham yang menandatangani berita acara yang rapatnya tidak mereka hadiri, melainkan dihadiri oleh para pimpinan lembaga?

"Dan apa motif para pimpinan lembaga dalam hal ini Ketua KPK, Kepala BKN, KemenPAN-RB, Kepala LAN, dan Kemenkumham, yang tidak mau menandatangani rapat yang mereka hadiri?" ungkap Rasamala.

Bank BJB

Selanjutnya apa motif Kepala BKN mengajukan diri untuk melaksanakan asesmen TWK, padahal mengetahui lembaganya tidak berkompeten, bahkan tidak memiliki instrumen dalam melaksanakannya.

"Kemudian dokumen kontrak yang tanggalnya dengan sengaja dibuat mundur atau back date. Motif ini perlu didalami serius apa tujuannya dan unsur kesengajaan di dalamnya. Pendalaman lebih lanjut ini penting untuk melihat adanya indikasi dan berbagai kemungkinan, termasuk potensi pelanggaran pidana," papar Rasamala.

Menurut Rasamala, laporan hasil pemeriksaan dan tindakan korektif yang disampaikan Ombudsman secara etik moral telah mengikat, dan seharusnya dilaksanakan oleh para pihak terlapor.

"Demikian pula secara hukum, hasil temuan tersebut adalah keputusan hukum yang diterbitkan lembaga negara yang harus dihormati dan dilaksanakan oleh semua pihak terutama lembaga penegak hukum," ungkap Rasamala.

Ia pun mempertimbangkan langkah hukum selanjutnya pascatemuan Ombudsman tersebut, termasuk melapor kepada Kepolisian Republik Indonesia.

"Kami mempertimbangkan pelanggaran yang lebih serius misalnya terkait pelanggaran etik untuk pimpinan KPK bisa ke Dewas KPK tapi kalau ditemukan bukti yang kuat tentu yang punya kewenangan memroses adalah pihak kepolisian yaitu bila dari 75 pegawai yang dinyatakan tidak lulus terkait dengan penyidikan atau penyelidikan yang sedang dikerjakan tentu ada norma pidana-nya yaitu menghalangi penyidikan dapat dilaporkan ke kepolisian atau juga KPK," tutur Rasamala.

Langkah lanjutan tersebut akan dilakukan sebelum 30 Oktober 2021 karena Ombudsman RI menyatakan terhadap 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lolos TWK harus dialihkan statusnya menjadi pegawai ASN sebelum 30 Oktober 2021.

"Pimpinan KPK dengan kewenangan luar biasa telah melakukan perbuatan penyalahgunaan wewenang sudah sepantasnya untuk diberhentikan sementara. Saya yakin semua udah tahu bahwa orang yang bekerja di tengah jalan tidak bisa diberhentikan hanya dengan melakukan TWK, apa motif di balik semua ini," kata perwakilan pegawai KPK Hotman Tambunan dalam acara yang sama.

Sumber: JPNN/News/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun



Pemkab Rokan Hulu





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook





TERBARU

  • Kegiatan Pengabdian Mahasiswa KKN Unri di Desa Api-Api

    Kegiatan Pengabdian Mahasiswa KKN Unri di Desa Api-Api

    Jumat, 17 September 2021
  • LG Resmikan Air Conditioning Academy
    TINGKATKAN KOMPETENSI TENAGA SISTEM AC

    LG Resmikan Air Conditioning Academy

    Jumat, 17 September 2021
  • Dovizioso ke Petronas, Morbidelli ke Pabrikan Yamaha
    MOTOGP

    Dovizioso ke Petronas, Morbidelli ke Pabrikan Yamaha

    Jumat, 17 September 2021
  • "Doctor Romantic 3" Mulai Syuting Tahun 2022
    DRAMA KOREA

    "Doctor Romantic 3" Mulai Syuting Tahun 2022

    Jumat, 17 September 2021
  • Sakit Hati ke Orangtuanya, Bayi 7 Bulan Dibunuh Pakai Kapak
    PEMBUNUHAN SADIS

    Sakit Hati ke Orangtuanya, Bayi 7 Bulan Dibunuh Pakai Kapak

    Jumat, 17 September 2021
  • Pemkab Meranti Kembali Lantik Pejabat Eselon III dan IV Jumat Pagi
    PELANTIKAN PEJABAT

    Pemkab Meranti Kembali Lantik Pejabat Eselon III dan IV Jumat Pagi

    Jumat, 17 September 2021
  • EPAPER RIAU POS  2021-09-16.jpg

  • KSOP Selatpanjang Bersih-Bersih Turun ke Laut
    HARI PERHUBUNGAN

    KSOP Selatpanjang Bersih-Bersih Turun ke Laut

    Kamis, 16 September 2021
  • Keluh Kesah Nafa Urbach soal Pinjol Ilegal: Bisa Membunuh Pelan-Pelan
    SELEBRITAS

    Keluh Kesah Nafa Urbach soal Pinjol Ilegal: Bisa Membunuh Pelan-Pelan

    Kamis, 16 September 2021
  • Marc Marquez Harus Ubah Riding Style
    MOTOGP

    Marc Marquez Harus Ubah Riding Style

    Kamis, 16 September 2021
  • Ririn Dwi Ariyanti dan Aldi Bragi Bakal Rujuk
    JIKA ADA KESEPAKATAN SELAMA PROSES MEDIASI

    Ririn Dwi Ariyanti dan Aldi Bragi Bakal Rujuk

    Kamis, 16 September 2021


Froozen Food - FOX Hotel Pekanbaru




riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com