KONFLIK AFGHANISTAN

Mantan Presiden Afghanistan Hanya Punya Dua Menit untuk Tinggalkan Negaranya

Internasional | Minggu, 02 Januari 2022 - 06:09 WIB

Mantan Presiden Afghanistan Hanya Punya Dua Menit untuk Tinggalkan Negaranya
Mantan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, yang melarikan diri ke Uni Emirat Arab. (REUTERS/DAILY MAIL)

ABU DHABI (RIAUPOS.CO) - Mantan presiden Afghanistan yang digulingkan, Ashraf Ghani, membeberkan detik-detik kelompok Taliban merangsek Istana Presiden dan mengambil alih kekuasaan pada pertengahan Agustus 2021.

Dalam wawancara Radio 4 BBC, Ghani mengaku hanya diberi waktu dua menit  untuk meninggalkan Kabul sebelum ditangkap pasukan Taliban.


Saat itu, Ghani mengatakan ia hanya memiliki waktu kurang dari dua menit untuk bersiap pergi dari Kabul. Penasihat keamanan nasional, papar Ghani, menyuruhnya pergi dalam waktu singkat.

"Pada pagi hari itu, saya tidak punya firasat bahwa pada sore hari, saya akan pergi (meninggalkan Kabul, red)," kata Ghani saat melakukan wawancara dengan mantan Kepala Staf Pertahanan Inggris, Jenderal Nick Carter, seperti dikutip CNN.

Ghani bercerita, otoritas Afghanistan awalnya diberitahu pejuang Taliban tidak akan memasuki Kabul. Namun, ternyata pasukan Taliban berhasil masuk ke Kabul.

Ghani mengatakan, ia sempat menunggu mobil untuk mengantarkannya ke Kementerian Pertahanan. Namun, kendaraan itu tak kunjung datang dan ia malah bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional, Hamdullah Mohib, dan kepala Layanan Perlindungan Presiden Afghanistan (PPS).


"Mereka mengatakan PPS runtuh. Jika saya mengambil sikap, mereka semua akan terbunuh, dan mereka tidak akan mampu melindungi saya," tutur Ghani.

Mohib, yang kala itu berada dalam ketakutan, hanya memberikannya waktu maksimal dua menit untuk bersiap pergi. Awalnya, mereka berencana pergi ke Khost, tetapi gagal karena daerah itu telah dikuasai Taliban.

Saat itu, Ghani dan beberapa ajudannya bingung harus pergi ke mana untuk kabur dari Taliban.

"Hanya pada saat pesawat kami lepas landas, itu menjadi jelas bahwa kami benar-benar pergi," ucap Ghani.

Ghani kini berada di Uni Emirat Arab (UEA). Di awal Taliban mengambil alih kekuasaan, Ghani dituding kabur membawa jutaan uang negara, termasuk emas, ke luar negeri. Namun, Ghani membantah tuduhan bahwa ia kabur dan tak melindungi negara.

"Saya bersedia diperiksa pemeriksaan, seperti yang saya sarankan sebelumnya, segera setelah tuduhan ini diajukan oleh PBB, atau firma investigasi, gaya hidup saya diketahui semua orang. Ini adalah tuduhan," tegas Ghani.

Selain itu, Ghani menilai kejatuhan Afghanistan di tangan Taliban merupakan kesalahan dari keputusannya mempercayai mitra-mitra asing.

"Semua dari kami membuat kesalahan besar dengan berasumsi kesabaran dari komunitas internasional akan terus ada," ucap Ghani.

Banyak warga Afghanistan yang menyalahkan kepemimpinan Ghani atas kejatuhan negara ke tangan Taliban. Ghani pun membela diri dan mengatakan ia dijadikan kambing hitam dan pekerjaan selama hidupnya dihancurkan.

Cerita ini muncul ketika Ghani mengingat kembali kekacauan yang menimpa Afghanistan pada Agustus lalu kala Taliban berkuasa. Beberapa analis memprediksi Kabul tak akan jatuh dalam beberapa pekan atau bulan. Namun, Taliban berhasil berkuasa hanya dalam beberapa jam.

Sejak Taliban berkuasa, Afghanistan di ambang kekacauan. Masyarakat semakin kelaparan dan pembatasan terhadap perempuan semakin meningkat. Tak hanya itu, ada beberapa anggota Taliban yang diklaim melakukan balas dendam pada eks pejabat pemerintahan sebelumnya.

Sumber: AFP/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun



DIPO Hearing HRD HEAD



Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



DPRD SIAK





riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com