Tidak Terima, Mahathir Tantang Voting di Parlemen

Internasional | Selasa, 03 Maret 2020 - 09:16 WIB

MALAYSIA (RIAUPOS.CO) -- Gejolak politik di Malaysia belum usai. Penunjukan Muhyiddin Yassin sebagai perdana menteri (PM) ke-8 Malaysia Sabtu (29/2) tidak membuat situasi kondusif.

Itu tidak seperti yang diharapkan Raja Malaysia Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah. Hanya berselang beberapa saat setelah penunjukan Muhyiddin, jagat Twitter Malaysia diramaikan dengan tagar #NotMyPM (#BukanPMSaya, red). Saat itu ada 47 ribu cuitan yang menyertakan tagar tersebut.

"Saya mendukung pemerintah yang saya pilih dalam pemilu ke-14. Maaf Muhyiddin, Anda bukan PM saya dan saya mengatakan tidak pada pemerintahan pintu belakang Anda," cuit Aaron Denison, salah seorang penduduk Malaysia, seperti dikutip The Straits Times. Dia menegaskan tidak pernah memilih pemerintahan yang korup, tapi yang membawa perubahan.


Meski kini ada di Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu), Muhyiddin adalah orang lama di UMNO. Partai yang digawangi Najib Razak itu dikenal akan skandal korupsi 1MDB. UMNO kini masuk koalisi pemerintahan di bawah kepemimpinan Muhyiddin. Mayoritas warga Malaysia berang karena penunjukan Muhyiddin seakan-akan mendepak pemerintahan lama hasil koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipilih secara demokratis. Lebih dari 130 ribu orang sudah menandatangani petisi yang menyatakan bahwa penunjukan Muhyiddin adalah pengkhianatan terhadap pilihan rakyat saat Pemilu 2018.

Bukan hanya penduduk Malaysia yang enggan menerima PM yang baru dilantik kemarin pagi (1/3) di Istana Negara itu. Mahathir Mohamad juga tak rela jika kursi PM harus diserahkan ke Muhyiddin. Mahathir meyakini bahwa dukungan parlemen untuknya jauh lebih tinggi daripada Muhyiddin. Anggota parlemen yang mendukungnya memilih tidak menghadiri pelantikan Muhyiddin.

Hanya beberapa jam sebelum pelantikan, Mahathir menyatakan bahwa presiden Bersatu itu sudah berkhianat. Mahathir akan berusaha menggelar voing di parlemen untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang memiliki dukungan lebih. Dia ataukah PM yang baru. "Ini hal yang aneh. Pihak yang kalah justru akan membentuk pemerintahan, yang menang menjadi oposisi. Aturan hukum tidak lagi digunakan," ujar politikus 94 tahun itu seperti dikutip Agence France-Presse.

Parlemen Malaysia beranggota 222 orang. Kandidat PM harus membuktikan kepada raja bahwa dia didukung minimal 112 anggota parlemen. Mahathir mengklaim bahwa dirinya sudah mengantongi dukungan tersebut. Terlebih, di detik-detik terakhir koalisi PH yang sebelumnya mendukung Anwar justru mengalihkan suara untuknya. Mahathir yakin Muhyiddin tidak punya dukungan sebanyak itu. Meski lama berkecimpung di dunia politik, Muhyiddin bukan tokoh utama yang dijagokan. Sosoknya tidak seterkenal Anwar maupun Mahathir.

"Saya katakan pada masyarakat bahwa saya memiliki dukungan mayoritas. Saya punya 114 suara," ujar dia dalam konferensi pers. Dukungan itu bisa dibuktikan dalam bentuk deklarasi dan surat.

Saat ini muncul spekulasi bahwa pembentukan pemerintahan yang baru harus tertunda. Sebab, koalisi pendukung Mahathir meminta agar parlemen diizinkan bersidang kembali pada 9 Maret mendatang sesuai dengan jadwal sebelumnya.

Koalisi PH yang menguasai pemerintahan sebelumnya sudah menabur janji untuk mengungkap skandal korupsi 1MDB dan mengembalikan uang rakyat yang sudah dicuri. Mahathir khawatir kasus korupsi yang kini berjalan di pengadilan itu akan terdampak dengan adanya pemerintahan yang baru.

Analis politik dari Singapura Hasan Hafri menegaskan, situasi politik di Malaysia saat ini memang tidak pasti. Dia sepakat dengan Mahathir agar digelar pemungutan suara di parlemen untuk menunjukkan siapa yang memiliki dukungan terbesar. "Dengan voting, Anda bisa melihat koalisi manakah yang didukung mayoritas," tegasnya. (sha/c10/oni)

Laporan JPG, Malaysia






Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU


Achmad - Idul Fitri

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-06-02.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com