Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gelombang Panas Tewaskan 1.300 Orang

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Warga menyejukkan diri dengan mandi air pancuran di Crown Fountain, Millennium Park, Chicago, Illinois saat suhu udara melampaui 90 derajat Fahrenheit (sekitar 32 derajat Celsius), Senin (29/6/2026). (AFP)
Warga menyejukkan diri dengan mandi air pancuran di Crown Fountain, Millennium Park, Chicago, Illinois saat suhu udara melampaui 90 derajat Fahrenheit (sekitar 32 derajat Celsius), Senin (29/6/2026). (AFP)

Advertisement

 

JENEWA (RIAUPOS.CO) - Gelombang panas ekstrem yang menyelimuti Eropa berubah menjadi bencana kesehatan. Dalam sepekan terakhir, menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1.300 orang meninggal akibat suhu yang memecahkan rekor di berbagai negara.

WHO bahkan menyebut, panas ekstrem sebagai “silent killer” yang kini mengancam sekitar 150 juta penduduk di benua tersebut. “Stres panas sering disebut sebagai silent killer. Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip dari BBC, Senin (29/6).

Advertisement

Tedros mengingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Suhu di Benua Biru meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Menurut dia, gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi, kini hampir muncul setiap tahun akibat perubahan iklim. WHO menilai, krisis tersebut membutuhkan respons cepat dari seluruh negara Eropa.

Advertisement

Rekor Suhu Panas

Korban jiwa terbesar dilaporkan berasal dari Prancis. Dilansir ABC News, Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan selama tiga hari pada puncak gelombang panas pekan lalu. Sebanyak 85 persen korban merupakan warga berusia di atas 65 tahun. 

Lonjakan kematian terjadi terutama di wilayah yang berstatus peringatan merah cuaca ekstrem. Otoritas kesehatan Prancis juga mencatat peningkatan tajam jumlah warga yang meninggal di rumah, terutama di kawasan ibu kota Paris.

Sementara itu, rekor suhu panas terus bermunculan di berbagai negara. Jerman mencatat suhu 41,7 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Republik Ceko menyusul dengan rekor baru 41,9 derajat Celsius, sedangkan Polandia mencatat suhu tertinggi sepanjang masa sebesar 40,5 derajat Celsius.

Cuaca ekstrem juga memicu berbagai gangguan. Kebakaran hutan terjadi di sejumlah wilayah Jerman, termasuk kawasan yang masih menyimpan amunisi Perang Dunia II.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Ukir Sejarah, Crystal Palace Kalahkan Rayo Vallecano untuk Raih Trofi Pertama di Eropa

Ukir Sejarah, Crystal Palace Kalahkan Rayo Vallecano untuk Raih Trofi Pertama di Eropa

Crystal Palace mengukir sejarah untuk meraih trofi pertama mereka di Eropa setelah kalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final Liga Konferensi.

Kebakaran Lahan 0,5 Ha di Bangkinang Padam, BPBD Ingatkan Warga Waspadai Cuaca Ekstrem 

Kebakaran Lahan 0,5 Ha di Bangkinang Padam, BPBD Ingatkan Warga Waspadai Cuaca Ekstrem 

BPBD Kabupaten Kampar ingatkan warga untuk mewaspadai cuaca ekstrem. Namun demikian, udara masih dalam katagori tidak sehat. 

 ISPU Capai 192 Kategori Tidak Sehat, BPBD Kampar Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem

 ISPU Capai 192 Kategori Tidak Sehat, BPBD Kampar Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem

Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan memperhatikan kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer