
PARIS (RIAUPOS.CO) - Demonstrasi berujung kerusuhan di Prancis, Sabtu (17/10) dipicu kemarahan rakyat akibat himpitan ekonomi, merosotnya kualitas pendidikan, dan buruknya layanan publik. Unjuk rasa dengan kemarahan serupa muncul di jalanan Lisbon (Portugal), Milan dan Bologna (Italia), Brussels dan Liege (Belgia), dan Albania.
Profesor Alberto Alemanno dari HEC Paris menilai, Prancis telah menjadi episentrum dari gerakan protes Eropa. Demonstrasi itu merupakan sinyal tegas ketidakpuasan publik terhadap tingginya biaya hidup, kurangnya pendanaan pendidikan, dan suramnya prospek masa depan.
”Kini mulai meledak dan menyebar secara serempak di Benua Biru,” kata guru besar yang meneliti demokratisasi Eropa itu, seperti dikutip dari Al Jazeera, kemarin (18/10).
Baca Juga: AS dan Rusia Berdamai soal Jual Beli Solar, Harga Minyak Dunia Langsung Turun
Unjuk rasa di Paris itu kelanjutan dari protes pelajar yang menuntut perbaikan asilitas sekolah sejak pertengahan September. Barisan pelajar dan guru bergabung dengan serikat buruh, kelompok pekerja, hingga loyalis gerakan Gilets Jaunes (rompi kuning).
Di Paris, bentrokan pecah di sekitar alun-alun Place de la Republique. Mobil dibakar. Pertokoan barang-barang branded dijarah massa. Seperti di Limoges, amuk massa berujung pada pembakaran balai kota yang membuat sebagian atapnya runtuh.
Di Lyon, gedung kantor pariwisata ludes dilalap api. Sementara di Marseille, demonstran merangsek ke dalam balai kota. Diberitakan Metro, seorang pengunjuk rasa meninggal setelah henti jantung saat berjalan di Boulevard Magenta, Paris.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut lebih dari 1.800 orang ditangkap. Dia menuding kelompok kiri ekstrem dan penjahat oportunis sebagai biang keladi yang mengubah unjuk rasa menjadi penjarahan. ”Tanpa kekuatan keamanan dalam negeri, tidak akan ada arak-arakan yang berjalan normal,” tegasnya seperti dikutip dari jaringan CNEWS dan Le Figaro, kemarin (18/10).
Dirangkum dari BBC, ketidakpuasan yang sama mendorong warga di sejumlah negara turun ke jalan di hari yang sama. Di jalanan Lisbon, Portugal, puluhan ribu orang memprotes krisis biaya hidup, upah rendah, dan harga perumahan yang meroket lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Menteri Urusan Parlemen Portugal, Carlos Abreu Amorim, menyatakan pemerintah tidak akan menyerah pada teriakan dari jalan.
Di Italia, unjuk rasa yang berpusat di Milan berubah ricuh. Sehingga memaksa polisi menembakkan gas air mata di alun-alun katedral. Bentrokan serupa dilaporkan terjadi di Bologna. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menuding kelompok hooligan sebagai penabur kekacauan yang memanfaatkan kebebasan berpendapat. ”Mendemonstrasikan adalah hak. Membakar kota kita bukan,” tegasnya.
Terpisah, ratusan mahasiswa di Brussels dan Liege, Belgia, yang memprotes kenaikan biaya pendidikan bentrok dengan polisi. Sementara di Albania, mahasiswa menggelar demonstrasi berhari-hari untuk menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur.(wan/jun/jpg)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




