TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Iran memamerkan berbagai persenjataan canggihnya, termasuk drone, rudal, dan pasukan militer, dalam parade tahunan yang digelar pada hari Rabu (17/4/2024).
Pameran kekuatan ini dilakukan setelah adanya rencana Israel melakukan balasan terhadap serangan udara Iran pekan lalu.
Parade militer tersebut menampilkan berbagai peralatan militer canggih Iran, seperti drone Ababil, Arash, dan Mohajer, rudal balistik jarak menengah Dezful, dan sistem rudal pertahanan udara S-300.
Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam pidatonya di parade tersebut menegaskan kembali peringatannya bahwa tindakan agresi sekecil apapun dari Israel akan direspons pihaknya dengan keras.
“Serangan terkecil yang dilakukan Israel akan menimbulkan respons yang besar dan keras," tegasnya dalam pidato di depan tentara reguler dan Korps Garda Revolusi Islam (IGRC) di sebuah pangkalan militer di pinggiran Teheran.
Peringatan itu disampaikannya setelah Israel menyatakan akan membalas serangan udara Iran akhir pekan lalu. Berbagai negara telah menyampaikan seruan agar menahan diri karena balasan itu bisa berdampak luas.
Juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, menyatakan bahwa Iran tidak akan lolos begitu saja dari serangannya.
Iran mengklaim serangan udaranya ke Israel sukses dan mencapai semua tujuannya, termasuk menimbulkan kerusakan pada pangkalan udara dan pusat intelijen yang diduga digunakan Israel untuk menyerang konsulat Iran di Damaskus.
Iran menegaskan bahwa serangannya ke Israel pekan lalu bersifat terbatas dan dilakukan untuk membela diri setelah serangan terhadap konsulatnya di Damaskus, Suriah.
Menurutnya, jika Iran ingin melakukan serangan yang lebih besar, tidak ada yang tersisa dari rezim Zionis.
Serangan yang dijuluki Operasi Janji Sejati itu, kata Raisi, menurunkan kejayaan rezim Zionis Israel di mata dunia. "Operasi ini menunjukkan bahwa angkatan bersenjata kami siap,” katanya.
Iran menyatakan bahwa mereka telah memberi tahu Amerika Serikat dan memberikan peringatan 72 jam kepada negara-negara tetangga sebelum serangan itu terjadi.
Namun, Israel mengklaim bahwa sebagian besar proyektil yang ditembakkan Iran ketika itu berhasil ditembak jatuh, dengan bantuan Amerika Serikat dan sekutunya. Serangan itupun diklaim hanya menyebabkan kerusakan minimal.
Presiden Raisi juga mengecam negara-negara yang berusaha menormalisasi hubungan dengan Israel. Dia menyebut normalisasi hubungan ini sebagai kegagalan strategis bagi Israel dan memalukan bagi negara-negara yang melakukannya.
“Negara-negara ini, kini dipermalukan di depan rakyatnya sendiri yang merupakan kegagalan strategis bagi rezim Israel," katanya seperti dilansir dari France24.
Komandan Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Hamid Vahedi, dalam parade tersebut memperingatkan musuh-musuh Iran agar tidak melakukan kesalahan strategis. "Kami 100 persen siap di semua lini udara," tegasnya seperti dikutip kantor berita ISNA.
Sebagai bagian dari persiapan Teheran untuk menanggapi Israel, komandan angkatan laut Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa kapal perang akan dikerahkan di Laut Merah untuk mengawal pelayaran komersial Iran.
“Angkatan Laut sedang menjalankan misi untuk mengawal kapal-kapal komersial Iran ke Laut Merah dan fregat Jamaran kami hadir di Teluk Aden dalam pandangan ini,” kata Komandan Angkatan Laut Shahram Irani, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim seperti dilansir dari Al Jazeera.
Laut Merah telah mengalami gangguan signifikan terhadap pelayaran menuju Israel karena serangan dari kelompok Houthi Yaman.
Kelompok yang didukung Iran ini telah menyerang sejumlah kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sejak November dalam apa yang mereka sebut sebagai aksi solidaritas terhadap Palestina dan menentang perang Israel yang terus berlanjut di Gaza.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan agar Israel menahan diri ketika mempertimbangkan tanggapannya terhadap serangan drone dan rudal Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya pada akhir pekan lalu.
Putin menyampaikan pernyataan tersebut dalam panggilan telepon dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi pada hari Selasa. Para pemimpin membahas apa yang disebut Kremlin sebagai tindakan pembalasan yang diambil oleh Iran setelah serangan Israel terhadap konsulat Iran di ibu kota Suriah, Damaskus, pada 1 April.
Putin dalam komentar publik pertamanya mengenai serangan Iran, mengatakan akar penyebab ketidakstabilan di Timur Tengah saat ini adalah konflik Israel-Palestina yang terus berlanjut .
“Vladimir Putin menyatakan harapannya bahwa semua pihak menunjukkan pengendalian diri yang wajar dan mencegah babak baru konfrontasi yang penuh dengan konsekuensi bencana bagi seluruh kawasan,” kata Kremlin seperti dilansir dari Al Jazeera.
Sumber: Padek.jawapos.com
Editor : M. Erizal