JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pelaksanaan wukuf di Arafah sebagai puncak pelaksanaan haji berjalan dengan lancar kemarin (15/6). Seperti biasa, ada tenda khusus bagi rombongan Amirul Hajj sekaligus untuk menyampaikan khutbah wukuf. Tahun ini khutbah wukuf dibawakan oleh Habib Ali Hasan Al Bahar.
Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu membawakan pesan mengenai pentingnya akhlak dan jati diri. Setiap jemaah dari penjuru dunia membawa akhlak dan jati diri negara masing-masing. Menurut dia, jemaah haji Indonesia juga harus bisa membawa akhlak dan jati diri selama berada di Arab Saudi.
Habib Ali Hasan lantas menyampaikan bahwa Arafah merupakan tempat untuk membuka hati. Dia mengajak semua jemaah haji untuk terus mengingat dan saling mengingatkan
tentang jati diri manusia. ’’Keberadaan kita dan semua kita, berbaju putih, berselimut kain ihram, pakaian kita sama, keagungan Arafah betul-betul kita rasakan,’’ katanya.
Baca Juga: Doa Wukuf Jemaah Haji Indonesia Dipimpin Habib Ibrahim Lutfi
Dia menegaskan bahwa Arafah merupakan tempat untuk membuka mata hati. Tempat di mana setiap orang melihat diri sendiri sebagai manusia. ’’Kita melihat seluruh saudara umat Islam di seluruh dunia membawa panji kehormatan bangsanya masing-masing,’’ tuturnya. Menurut dia, akhlak jemaah haji Indonesia adalah gambaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Habib Ali Hasan juga menyampaikan pada momen wukuf, Allah membanggakan ketaatan umatnya kepada para malaikat. Pada momen Arafah, Allah melapangkan pengampunannya. ’’Hai malaikatku, lihatlah mereka hamba-hambaku. Dalam keadaan berdebu, dalam keadaan lusuh mereka datang,’’ katanya.
Sebelum pembacaan khutbah wukuf, Menteri Agama (Menag) sekaligus Amirul Hajj Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan beberapa hal. Antara lain mengenai kuota haji Indonesia yang bertambah cukup banyak tahun ini. Dari kuota dasar 221 ribu menjadi 241 ribu jemaah. Sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar. ’’Sekaligus rekor pemberangkatan jemaah haji terbesar untuk Indonesia sendiri,’’ tuturnya.
Yaqut juga mengungkapkan penyelenggaraan haji terkait dengan aturan atau kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Di antaranya, kebijakan pemberian smart card. Dia mengatakan, kebijakan Saudi itu harus dihormati dan dijalankan dengan baik.
Baca Juga: Satu Jemaah Calon Haji Riau Meninggal Dunia di Arafah
Dia menjelaskan, kebijakan smart card itu merupakan upaya Saudi untuk memberikan pelayanan terbaik. Di antaranya, membatasi keberadaan jemaah yang tidak resmi. Keberadaan jemaah yang tidak resmi itu kerap kali mengganggu jemaah yang resmi.
Pagi sebelum pelaksanaan wukuf, Kemenag melaporkan pendorongan jemaah dari Makkah menuju Arafah berjalan dengan baik dan sesuai jadwal. Total 553 kloter jemaah berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf. Pendorongan jemaah menuju Arafah dimulai sejak Jumat pagi pukul 06.00 waktu setempat. ’’Alhamdulillah, pagi tadi (15/6) pukul 03.00 waktu setempat jemaah haji kloter terakhir meninggalkan Makkah menuju Arafah,’’ kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Subhan Cholid. Dia menuturkan, rombongan terakhir yang berangkat menuju Arafah adalah dari kloter 15 embarkasi Padang. Sementara itu, jemaah yang menjalani safari wukuf diberangkatkan ke Arafah pukul 11.00 waktu setempat.
Subhan mengatakan, sebelum jemaah datang ke tenda-tenda di Arafah, sejumlah petugas haji sudah bersiap di sana. Mereka memastikan seluruh pelayanan sudah siap sebelum jemaah datang. Mulai kesiapan tenda hingga penyediaan makanan atau katering.
Menuju Arafah, Jemaah Riau Scan Kartu Nusuk
Berbeda dari tahun sebelumnya dalam proses pemberangkatan jemaah haji dari hotel ke Arafah, Muzdalifah dan Mina, jemaah haji tahun ini akan melalui proses scan barcode smart card sebelum menaiki bus. Menjelang didorong ke Arafah, Jemaah Provinsi Riau terlebih dahulu menjalani scan barcode smart card atau yang lebih di kenal dengan kartu nusuk yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi.
Smart card mulai diaktivasi oleh petugas maktab secara bertahap dan diperiksa ketika jemaah masuk wilayah mashaer (Arafah, Muzdalifah dan Mina).
“Pemeriksaan ini dilakukan petugas Saudi di berbagai tempat. Pemeriksaan ini untuk memastikan jemaah yang bersangkutan memiliki visa haji atau tidak,” ungkap Kepala Sektor 2 Makkah H Syahrudin.
“Semua jemaah Riau khususnya dan Indonesia umumnya sebelum diberangkatkan menuju Arafah dilakukan scan kartu nusuk-nya oleh petugas Saudi,” tambah Syahrudin.
“Bagi jemaah yang belum mendapatkan kartu nusuk tidak perlu khawatir. Sebab lembar visa haji tercetak sudah disiapkan oleh siskohat dan dipegang oleh ketua kloter dan prosesnya dientri di sistem secara manual, bukan melalui scan. namun hal tersebut berjalan lancar dan tidak ada hambatan,” sambungnya.
Syahrudin juga mengatakan, keberangkatan jemaah dilaksanakan dalam dua skema, murur dan nonmurur.
“Beberapa hari yang lalu kita sudah mendata jemaah haji yang masuk ke dalam kategori murur, jemaah yang diberi fasilitas khusus selama pelaksanaan Armuzna. Jemaah kategori murur ini setelah dari arafah tidak turun dari bus untuk mabit di musdalifah, melainkan berhenti sejenak untuk selanjutnya dibawa ke tenda mina,” katanya.
Menurut Syahrudin, di Sektor 2 Makkah terdapat 52 kloter yang terdiri dari 18 Kloter BTH Batam, 31 Kloter JKG dan 3 Kloter SOC.(wan/c6/oni/jpg/ilo/muh)
Editor : RP Bayu Saputra