TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Pembentukan Dewan Perdamaian atau Board of Peace terbukti tidak membuat dunia menjadi damai. Kemarin, militer Amerika Serikat (AS) bersama Israel menggempur sejumlah daerah di Iran. Serangan itu mendapat balasan hebat. Ratusan rudal Iran menghajar Israel dan beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah.
It is war. War has begun. Pengumuman yang ditulis dalam huruf kapital itu disampaikan Daily Iran News melalui X sekitar pukul 13.00 kemarin. Mereka melaporkan terjadi ledakan di beberapa tempat di Teheran, termasuk di Bandara Mehrabad. Sekitar 30 lokasi menjadi target serangan. Lima di antaranya adalah gedung intelijen Iran, gedung kementerian pertahanan, kantor pemimpin tertinggi Iran, kantor energi atom, dan kompleks militer Parchin.
Beberapa video yang beredar menunjukkan asap membumbung tinggi dari sejumlah gedung yang dibombardir militer AS dan Israel. Militer Iran menyebut bahwa serangan udara itu dilakukan dari beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah. Namun, ada juga pesawat tempur yang menjatuhkan sejumlah bom dari langit Iran. Beberapa pesawat tempur Iran mencoba mencegat rudal-rudal AS dan Israel.
INBaca Juga: Kabar Terbaru! Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Militer AS-Israel ke Teheran
Bersamaan dengan serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidatonya. Dia membenarkan bahwa militer AS sedang melakukan serangan besar-besaran kepada Iran. Dia berdalih serangan itu demi membela diri. Dia menganggap keberadaan Iran di bawah rezim Ayatollah Ali Khamenei selama 47 tahun belakangan telah mengancam eksistensi AS.
Trump juga meng-klaim sedang membantu warga Iran membebaskan diri dari rezim yang berkuasa sejak revolusi 1979. “Setelah kami selesai, ambil alih pemerintah Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda dalam beberapa generasi,” kata Trump. Dia juga mendesak semua militer Iran untuk menyerah.
“Kepada anggota Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan seluruh polisi Iran, saya katakan bahwa Anda harus meletakkan senjata dan mendapatkan kekebalan penuh, atau Anda harus menghadapi kematian yang pasti,” tegasnya.
Trump menyebutkan tak ragu menghancurkan rudal dan meluluhlantakkan industri rudal Iran. “Itu akan benar-benar, sekali lagi, dimusnahkan. Kami akan menghancurkan militer mereka,” sebutnya.
Pernyataan senada disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menyatakan, serangan gabungan Israel dan AS ke Iran dilakukan untuk menghilangkan ancaman eksistensial. “Saudara-saudariku, warga Israel, beberapa saat yang lalu Israel dan AS melancarkan operasi untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris di Iran,” beber Netanyahu seperti dikutip AFP.
Dia juga memprovokasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah. “Waktunya telah tiba bagi semua lapisan masyarakat di Iran untuk melepaskan belenggu tirani dari rezim dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai,” sebut Netanyahu.
Serangan Balasan Iran
Pada hari yang sama, sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv, Israel. ‘’Warga diminta berlindung di tempat yang aman,’’ ujar koresponden RIA Novosti.
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel mengirimkan pesan kepada semua orang di negaranya untuk tetap berada di dekat tempat perlindungan. Pesan itu disampaikan setelah Israel mendeteksi pergerakan ratusan rudal Iran.
Komando Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Iran memang telah mendeklarasikan perang melawan AS dan Israel. Mereka menyebutkan bahwa gelombang pertama serangan rudal dan drone mulai berjalan di Israel dan pagkalan militer AS di wilayah Teluk.
“Pangkalan militer AS di Bahrain telah menjadi sasaran serangan rudal,” tulis The Guardian, menukil laporan Kantor Berita Bahrain News Agency.
Serangan juga dilakukan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al Salem di Kuwait, dan Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA). Perwakilan IRGC menambahkan bahwa Israel dan AS “salah perhitungan” dengan menyerang Iran.
Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi serangkaian ledakan di Doha. Otoritas setempat menyatakan bahwa sejumlah rudal yang menargetkan Qatar berhasil dicegat sebelum menghantam sasaran.
Maskapai Ramai-Ramai Batalkan Penerbangan ke Timur Tengah
Perang membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan ke kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara juga menyatakan menutup wilayah udaranya. Dilansir dari Reuters, negara yang menutup wilayah udaranya, antara lain, Israel, Iran, Irak, Yordania, dan Uni Emirate Arab.
“Karena penutupan sementara beberapa wilayah udara di kawasan tersebut pada 28 Februari, beberapa penerbangan flydubai terdampak,” ujar juru bicara maskapai asal Emirat. Data dari Flightradar24 menunjukkan pesawat-pesawat komersial kini menghindari area konflik demi keamanan.
Sejumlah penerbangan Qatar Airways yang berangkat pada Sabtu pagi akhirnya kembali ke wilayah udara Qatar. Hingga tadi malam, ada sejumlah maskapai yang menyatakan menunda penerbangan ke kawasan Timur Tengah. Antara lain, maskapai Rusia, Lufthansa (Jerman), Air France, Iberia, dan Wizz Air. Otoritas penerbangan Kuwait juga menghentikan semua penerbangan ke Iran. Oman Air menangguhkan semua penerbangan ke Baghdad. Lalu, Virgin Atlantic mengumumkan pembatalan layanan VS400 dari London Heathrow menuju Dubai. Maskapai ini juga memperingatkan bahwa penerbangan ke Maladewa, India, dan Arab Saudi kemungkinan mengalami durasi lebih panjang karena pengalihan rute.
Dilansir dari Deutsche Welle (DW), British Airways telah membatalkan penerbangan ke Tel Aviv dan Bahrain hingga Rabu, serta membatalkan penerbangan ke Amman.
Salah satu penerbangan, BA123 dari Heathrow ke Doha, yang awalnya berangkat tepat waktu pukul 20.00, diperintahkan untuk kembali setelah menempuh sepertiga perjalanan. Akibatnya, lebih dari 200 penumpang kembali mendarat di London beberapa jam kemudian.
Di Ambang PD III jika Rusia Bantu Iran
Kedutaan Besar Iran di Jakarta telah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai serangan AS dan Israel. Disebutkan, bahwa agresi yang dilakukan AS dan Israel menargetkan lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Teheran serta beberapa kota lainnya. Hal ini dinilai melanggar integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran.
“Serangan AS dan Israel ini merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (4) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merupakan tindakan agresi yang nyata terhadap Iran,” ujar Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam siaran persnya Sabtu (28/2).
Menanggapi agresi tersebut, Angkatan Bersenjata Iran melakukan serangan balasan untuk mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan nasional. Hak itu sesuai dengan pasal 51 Piagam PBB. “Sebagai negara pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tujuan utamanya adalah mencegah agresi, pelanggaran perdamaian, dan ancaman terhadap perdamaian, Republik Islam Iran menegaskan tanggung jawab Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan dalam menghadapi pelanggaran perdamaian dan keamanan internasional terhadap Iran ini,” tegasnya.
Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia, dengan merujuk pada berbagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh AS dan Israel selama beberapa dekade terakhir, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, dengan tegas mengecam tindakan agresif dan kriminal tersebut. Perwakilan juga memandang tindakan Washington dan Tel Aviv sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.
Kedutaan juga berharap dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, hingga kalangan akademisi terhadap Iran. Khususnya dalam mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap wilayah Iran.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana mengungkapkan, serangan AS-Israel ke Teheran ini bisa memicu perang dunia III. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat Rusia pun sejak awal sudah bersiap untuk membantu Iran.
“Betul, dan ini bisa lebih parah karena saya yakin Iran tidak seperti Venezuela, dan kawasan Amerika berbeda dengan kawasan Timur Tengah ya,” ujarnya, Sabtu (28/2). Karena itu, ia mendorong agar Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah sebelum ketegangan ini meluas. Indonesia harus mengutuk serangan Israel yang memulai perang ini karena tidak sesuai dengan Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB.
Selain itu, Indonesia juga harus segera meminta AS untuk menahan diri dalam pelibatan serangan Israel. “Indonesia bisa meminta Chairman BoP Donald Trump agar segera mengambil tindakan dan melakukan rapat darurat BoP guna pembahasan penghentian serangan,” sambungnya.
Tak hanya itu, Pemerintah Indonesia didorong untuk mendesak DK PBB segera melakukan sidang darurat atas serangan Israel ke Iran ini. Pararel dengan itu, Indonesia bisa mendraf Resolusi Majelis Umum untuk mengutuk tindakan Israel.
Prabowo Siap Jadi Mediator Perdamaian
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyampaikan penyesalan mendalam atas gagalnya perundingan antara AS dan Iran. Hal itu disampaikan Kemenlu melalui akun resmi media sosial X. Kedua belah pihak yang bertikai diminta menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi.
“Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai,” tulis Kemelu RI.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapannya untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Prabowo bahkan bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi, apabila disetujui kedua belah pihak. Terlebih, peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia.
Dihubungi terpisah, Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang mengungkapkan, pihaknya terus memantau perkembangan situasi keamanan di Iran secara seksama. Khususnya setelah KBRI Teheran mengkonfirmasi terjadinya serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota di Iran pada sekitar pukul 09.45 waktu setempat.
Menurut dia, KBRI Teheran berupaya menjalin komunikasi intensif dengan seluruh WNI yang ada di sana. KBRI pun telah menerbitkan edaran terbaru yang memuat saran dan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh WNI di kediaman masing-masing guna menjaga keselamatan dan keamanan. Saat ini diperkirakan ada sekitar 328 WNI di Iran, dengan sebaran paling banyak berada di Qom.(mia/oni/jpg/muh)
Editor : Bayu Saputra