Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

156 Rumah di Desa Teluk Buntal Terendam Banjir Akibat Kanal Perusahaan HTI Sagu Meluap, Warga Terdampak Sampaikan Hal Ini

Wira Saputra • Senin, 29 Desember 2025 | 19:50 WIB

 

Petugas meninjau banjir yang melanda Desa Teluk Buntal, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, beberapa hari lalu.
Petugas meninjau banjir yang melanda Desa Teluk Buntal, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, beberapa hari lalu.

SELATPANJANG  (RIAUPOS.CO)  – Sedikitnya 156 rumah warga yang tersebar di tiga dusun Desa Teluk Buntal Kecamatan Tebingtinggi Timur terendam banjir air gambut.  Ini terjadi akibat kanal  PT Nasional Sago Prima (NSP) meluap. Banjir yang terjadi sejak 16 Desember lalu masih dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Tidak hanya permukiman warga, sejumlah fasilitas umum, kebun masyarakat, serta ruas jalan penghubung antar-dusun yang menjadi akses vital aktivitas harian warga juga ikut tergenang. Kondisi tersebut membuat mobilitas masyarakat lumpuh total selama berhari-hari.

Meski genangan air kini mulai berangsur surut, dampak banjir masih sangat dirasakan warga. Sejumlah rumah belum dapat ditempati secara normal dan kebun warga belum sepenuhnya pulih, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat terganggu.

 Baca Juga: Sepanjang 2025, Ditjenpas Kirim 1.882 Napi ke Nusakambangan

Kerugian ekonomi yang ditanggung warga pun dinilai cukup besar. Warga di Dusun I, Dusun II, dan Dusun III menjadi kelompok paling terdampak akibat luapan kanal perusahaan yang posisinya berada tidak jauh dari kawasan permukiman.

Warga yang bermukim di sekitar area perkebunan dan kanal operasional pun mempertanyakan keberadaan perusahaan hutan tanaman industri (HTI) sagu itu. Apalagi sebelumnya perusahaan ini dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat beberapa tahun silam.

Kekecewaan warga semakin mencuat lantaran menilai respons perusahaan sangat lamban. Berdasarkan pengakuan warga, pihak PT NSP baru turun ke lokasi setelah banjir berlangsung cukup lama dan sorotan publik mulai menguat.

 Baca Juga: Polres Bengkalis Tetapkan Dua Tersangka Kasus Bentrok Berdarah Karyawan PT SIS dan PAB

Sejak hari pertama kejadian, perusahaan disebut belum menunjukkan tanggung  jawab penuh atas musibah yang merendam ratusan rumah warga tersebut.

“Air masuk ke rumah kami sampai sepinggang orang dewasa. Perabot rusak, kebun mati, tapi perusahaan baru datang setelah berhari-hari. Kami seperti dibiarkan menghadapi bencana ini sendiri,” keluh Sulaiman, salah seorang warga setempat.

Nada serupa disampaikan Indra, warga lainnya. Ia menegaskan bahwa kehadiran perusahaan seharusnya tidak hanya bersifat seremonial atau sekadar peninjauan lokasi.

 Baca Juga: Polres Bengkalis Tetapkan Dua Tersangka Kasus Bentrok Berdarah Karyawan PT SIS dan PAB

“Warga berharap kehadiran perusahaan bukan hanya datang melihat-lihat, tetapi benar-benar membantu masyarakat terdampak dan mengambil langkah konkret agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.

Kritik keras juga datang dari Camat Tebingtinggi Timur, Mazlin Jamal. Ia mengaku sangat kecewa atas peristiwa yang menimpa warga Desa Teluk Buntal, khususnya masyarakat di tiga dusun terdampak.

“Yang paling parah itu lima hari sejak kejadian. Seluruh jalan di beberapa dusun terendam lebih dari 50 sentimeter. Sementara rumah dan kebun warga tergenang air lebih dari satu meter. Sekarang memang sudah surut, tapi masih menyisakan genangan setinggi mata kaki,” bebernya.

 Baca Juga: Inflasi Inhil Tertinggi Ketiga Nasional

Mazlin menilai, meskipun air telah surut, inisiatif dan empati perusahaan terhadap 156 kepala keluarga terdampak tergolong sangat minim. Bantuan baru disalurkan secara bertahap setelah adanya peninjauan lapangan serta rekomendasi dari satuan tugas bencana setempat, bukan atas kesadaran dan inisiatif perusahaan sendiri.

“Baru dua hari lalu mereka menyalurkan bantuan sembako. Padahal banjir sudah terjadi sejak 16 Desember 2025,” ungkapnya, Ahad (28/12/2025) sore.

Ia menjelaskan, tim satuan tugas telah mengeluarkan tiga poin rekomendasi kepada perusahaan. Pertama, meminta PT NSP segera menyalurkan bantuan sembako kepada seluruh keluarga terdampak.

Kedua, perusahaan diminta melakukan perbaikan jalan warga yang rusak akibat genangan air. Ketiga, perusahaan diharapkan membangun tanggul permanen di sepanjang kanal wilayah operasional mereka guna mencegah banjir serupa terulang.

Mazlin menegaskan, perusahaan tidak bisa berdalih bahwa banjir tersebut murni disebabkan faktor alam. Pasalnya, saat kejadian berlangsung tidak terjadi hujan.

“Ini bukan hujan deras, tapi luapan kanal. Jadi tidak bisa dibilang faktor cuaca,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, Kecamatan Tebingtinggi Timur kerap dilanda banjir yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas perusahaan hutan tanaman industri sagu tersebut.

Bahkan, kepada Riau Pos, Mazlin mengungkapkan bahwa sejumlah bencana besar di wilayah Pulau Sumatera disebut bersumber dari kawasan kebun PT NSP, termasuk kebakaran hebat yang terjadi pada 2014 silam.

Ironisnya, menurut Mazlin, dampak negatif aktivitas perusahaan justru lebih dominan dirasakan masyarakat dibanding manfaatnya. Kontribusi perusahaan kepada warga dinilai nyaris tidak terasa, termasuk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

 Baca Juga: Waspada, Intensitas Hujan Tinggi, Debit Sungai Kuantan di Kuansing Naik

“Dari laporan yang kami terima, perusahaan ini hampir tidak pernah berkontribusi langsung kepada masyarakat. Apalagi bicara soal CSR,” pungkasnya.

Warga kini mendesak pemerintah daerah dan pihak berwenang agar bersikap tegas, tidak hanya berhenti pada rekomendasi, tetapi memastikan tanggung jawab lingkungan dan sosial PT NSP benar-benar dijalankan, demi mencegah bencana serupa kembali terulang di kemudian hari.

Sementara itu, upaya konfirmasi yang dilakukan Riau Pos kepada manajemen PT NSP tidak membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, perusahaan belum memberikan klarifikasi maupun penjelasan resmi, meski telah dihubungi melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa hari terakhir.(wir)

 

Editor : Edwar Yaman
#tebingtinggi timur #pt nsp #Desa Teluk Buntal #banjir #meranti #perusahaan hti sagu