
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Salah satu keluhan yang paling umum terjadi saat seorang wanita mengalami menstruasi adalah nyeri perut atau nyeri haid.
Tak jarang kondisi ini dapat membuat tubuh wanita merasa lemas,tidak bertenaga bahkan pingsan, saat tidak mempu menahan rasa sakit ketika proses alami keluarnya darah dari alat reproduksi tersebut terjadi.
Namun faktanya, haid yang normal justru proses haid yang tidak mengalami rasa sakit. Hal ini diungkapkan langsung oleh Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Eka Hospital Pekanbaru, dr Yohanes Iddo Adventa sp OG Subsp FER MH. Saat menjadi narasumber Media Gathering dan Membahas fenomena Sakit saat Haid, Normal atau Red Flag, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya,Haid yang sehat memang idealnya tidak menimbulkan rasa sakit yang melumpuhkan atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, secara medis, munculnya rasa tidak nyaman atau kram ringan pada hari pertama atau kedua masih dianggap normal karena adanya kontraksi rahim.
Apalagi proses haid yang normal memiliki durasi dan frekuensi 4 sampai 8 hari. Saat haid, tubuh memproduksi zat kimia bernama prostaglandin yang memicu otot rahim berkontraksi untuk meluruhkan dinding rahim. Kadar prostaglandin yang seimbang hanya memicu kram ringan, sementara kadar yang terlalu tinggi memicu nyeri hebat.
Nyeri haid yang berlebihan dan tidak wajar sering kali merupakan sinyal dari tubuh terkait masalah reproduksi, seperti andometriosis atau pertumbuhan jaringan dinding rahim di luar rongga rahim yang memicu peradangan kronis dan nyeri panggul luar biasa saat menstruasi. Kasus ini marak ditemukan pada perempuan usia produktif.
Selain itu, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau gangguan hormon yang ditandai dengan sel telur kecil-kecil (kista kecil) di indung telur, menyebabkan haid tidak teratur atau jarang terjadi.
Kemudian tumor jinak pada otot rahim atau indung telur yang mengacaukan volume darah dan memicu kram perut hebat. Pasalnya darah air tidak hanya harus keluar ke arah bawah atau vagina. Bisa jadi darah haid malah mbik ke saluran pembuahan atau rahim yang menumpuk dan dapat menjadi sel miom atau kista.
Di Riau sendiri, kata dia lagi, Endometriosis sudah banyak terjadi, sekitar 10 sampai 15 persen. Penyebabnya pun beragam, namun teori paling kuat adalah karena darah menstruasi tersebut tidak seluruhnya turun melalui vagina, tapi naik juga ke atas. Artinya, darah mens tersebut tidak mengalir keluar di jalur semestinya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




