TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - MENEMUKAN Masjid Al Jihad Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, tidaklah sulit. Bagi masyarakat Kuansing maupun pengunjung yang datang menyaksikan pacu jalur setiap Agustus, tentu pernah melihat ini. Apalagi mereka yang menonton di area pancang start arena perpacuan jalur, Tepian Narosa. Karena, di area ini hanya ada satu-satunya masjid.
Meski tidak terlalu besar dan bangunannya tidak terlalu mentereng, tetapi masjid ini memiliki sejarah yang panjang sebagai rumah ibadah yang mensyiarkan Islam di Kabupaten Kuansing. Dari luar masjid, nampak berdiri tegak dan kokoh dua menara masjid. Lalu di atasnya ada satu kubah utama dan satu kubah sedikit kecil.
Di bagian kiri masjid persis ke arah fasilitas tempat wudu, ada meriam tua yang ditanam dengan semen. Meriam ini memiliki kisah dan simbol berdirinya masjid. Bagian dalam masjid, dihiasi dengan ornamen kaligrafi dan dinding kuning emas serta karpet yang nyaman untuk beribadah.
Konon Masjid Al Jihad sudah dibangun pada masa penjajahan Belanda. Meski dulu namanya bukanlah Masjid Al Jihad. Setidaknya begitulah cerita yang disampaikan H Ali Akman, salah seorang sesepuh Desa Koto Taluk saat berbincang dengan Riau Pos bersama Ketua Pengurus Masjid Al Jihad H Jefri Eriadi Sag, pekan lalu.
Meski pria yang akrab disapa Tuak Aman sudah berusia 96 tahun (lahir 1930), tapi ingatannya masih cukup kuat ketika ditanya soal sejarah Masjid Al Jihad. “Dulu namanya bukan Al Jihad, tetapi Masjid Jamik Koto Taluk,” ungkapnya.
Tuak Aman menyebutkan, Masjid Jamik Koto Taluk di bangun oleh para penghulu dan masyarakat Kenegerian Teluk Kuantan pada tahun 1914. Posisinya berada di bangunan Puskesmas Kuantan Tengah sekarang. Oleh Belanda ketika itu yang ada di Talukkuantan, meminta dipindahkan ke lokasi sekarang, sekitar tahun 1947. Ketika itu usianya sekitar 17 tahun.
Dengan pemindahan itu, otomatis semuanya dibongkar dan dihancurkan. Tak ada lagi tiang-tiang bersejarah yang tinggal. Masyarakat Kenegerian Telukkuantan sama-sama membangunnya ulang. Di saat dalam pembangunan, masyarakat menemukan meriam yang sudah dibuang oleh Belanda. “Meriam itulah yang ditanam di bagian kiri Masjid Al Jihad sekarang,” katanya.
Sebetulnya, kata Tuak Aman, ada beberapa meriam yang sudah tak digunakan dan dibuang Belanda ke Kuantan (Sungai Kuantan). Tapi hanya satu yang ditemukan. Meriam itu dipikul bersama-sama ke lokasi masjid. “Penemuan meriam itu jadi cikal bakal nama Masjid Al Jihad yang berarti perjuangan, seperti cerita orang-orang tua padanya,” paparnya.
Sekarang Masjid Al Jihad tetap berdiri tegak di sekitar Tepian Narosa dan menjadi ikonik di Tepian Narosa. Menurut Ketua Pengurus Masjid Al Jihad Jefri Eriadi, Masjid Al Jihad dibangun di atas lahan yang diserahkan Suku Kenegerian Telukkuantan.
Berdiri di atas lahan 60x70 meter persegi dengan bangunan masjid 25x30 meter persegi. Masjid Al Jihad mampu menampung 600-800 jemaah. Dulu, peran Suku di Kenegerian Telukkuantan sangat terlihat dalam masjid. Para penghulu suku sepakat membagi tugas untuk menjalankan syiar Islam di masjid.
Misalnya saja, Suku Tiga bertugas sebagai bilal. Suku Empat bertugas sebagai kotik (khatib) masjid, Suku Lima sebagai imam, dan Suku Enam sebagai kodi atau penghulu yang menikahkan anak cucu kemenakan di kampung.
Ini untuk membantu tugas KUA yang dulu tak banyak dan tak bisa menjangkau seluruh masjid. Berbeda dengan sekarang, peran suku mulai pudar dan digantikan dengan peran KUA.
Di bulan Ramadan, Masjid Al Jihad melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan. Seperti tadarus yang dilakukan para remaja dan orang dewasa di kampung. Ada penyediaan takjil bagi musafir, pemuda dan masyarakat yang ingin berbuka di masjid. Pemberian santunan pada anak yatim sebanyak 24 orang.
Dalam memakmurkan masjid, pengurus memiliki misi memberikan pembinaan dan kajian rutin kepada umat muslim terlebih khusus jemaah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Al-Qur;an dan hadis. “Sekarang Masjid Al Jihad menjadi salah satu ikonik di Tepian Narosa dalam syiar agama Islam yang perlu dijaga dan di ramaikan,” ujarnya.
Pengurus tetap berupaya menjalankan amanah masyarakat untuk merawat dan menjaganya yang sekarang menjadi bagian kawasan wisata Pacu Jalur Kabupaten Kuansing. Terutama kebersihannya sehingga orang yang datang berkunjung untuk salat merasa nyaman.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuansing, H Suhelmon MA mengatakan, Masjid Al Jihad termasuk salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Kuansing. Namun sayang tidak termasuk sebagai masjid Cagar Budaya karena nilai-nilai keasliannya semasa Masjid Jamik Koto Taluk tidak terlihat di gedung yang dibangun baru.
“Kalau misalnya di Masjid Al Jihad itu terdapat tiang masa Masjid Jamik Koto Taluk atau mimbar dan lainnya, dia bisa masuk Masjid Cagar Budaya Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, kisah sejarah Masjid Al Jihad yang sangat minim jadi penyebab. Makanya, ia mengingatkan pada seluruh masjid di Kuansing untuk rutin menyusun dokumentasi dan profil masjid yang ada sehingga bisa menambah informasi masyarakat luas.***
Laporan DESRIANDI CANDRA, Telukkuantan
Editor : Arif Oktafian