NASIB DUNIA OLAHRAGA

Maju Kena, Mundur Kena

Liputan Khusus | Sabtu, 10 April 2021 - 09:33 WIB

Maju Kena, Mundur Kena

Berolahraga saat pandemi Covid-19 ibarat makan buah simalakama. Warga harus menerapkan protokol kesehatan. Pakai masker dan jaga jarak di antaranya. Tapi olahraga juga jadi keharusan untuk menjaga imun tubuh. Beberapa olahraga, apalagi yang profesional, tak mungkin tanpa jaga jarak. Apalagi harus memakai masker. Belum lagi keriuhan penonton yang jadi sumber dana olahraga selain sponsor. Dilema. Maju kena, mundur pun kena.

Laporan: TIM RIAU POS (Pekanbaru)


AZAN Asar usai berkumandang. Di kamp latihan angkat besi dan angkat berat di Jalan Bambu Kuning, Tenayan Raya, Pekanbaru, satu per satu atlet angkat besi dan berat mulai berdatangan ke kamp latihan itu. Terlihat juga sejumlah atlet PPLP Riau mulai melakukan beragam gerak pemanasan.

Pemanasan sangat diperlukan bagi atlet sebelum masuk ke latihan inti. Senda gurau khas anak-anak juga menghiasi sesi latihan mereka saat itu. "Hei hei heii....jaga jarak. Kan sudah diingatkan untuk senantiasa mematuhi protokol kesehatan," ujar salah seorang pelatih yang ada di kamp itu, Irwandi.

Sore itu Riau Pos bersama Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Riau Drs H Emrizal Pakis melakukan kunjungan ke kamp latihan itu. Di kamp ini memang sejumlah atlet Riau yang akan diterjunkan dalam PON di Papua sedang tunak berlatih di bawah bimbingan para pelatih tentunya.

Dari rencana, selain kamp latihan angkat besi dan berat yang akan dikunjungi, ada sejumlah tempat latihan para atlet lainnya yang bakal dikunjungi. Namun, karena waktu dan kondisi yang tidak memungkinkan hanya satu lokasi latihan ini yang sempat dikunjungi. Namun, Emrizal Pakis memastikan bahwa para atlet tersebut berlatih dengan tekun guna meraih prestasi dalam PON mendatang.

Cucuran keringat terlihat membasahi sekujur tubuh mereka. Dengus  nafas  terdengar memburu. Letih? Tentulah itu. Namun, setelah istirahat sejenak, mereka kembali mengangkat barbel yang beratnya mencapai ratusan kilogram.

Maharani, atlet angkat besi andalan Riau yang tengah dipersiapkan dalam PON mendatang sedang duduk mengatur nafas yang tersengal. Dia baru saja melakukan latihan dengan mengangkat barbel. Keringat bercucuran dari wajah manisnya. Beberapa menit berikutnya, dia mulai bersiap-siap mengangkat barbel yang ada di depan matanya.

Dengan berkonsentrasi, kedua tangannya mulai memegang barbel. Sejurus kemudian tangannya mulai bergerak mengangkat barbel tersebut. Upss terangkat penuh. "Dapat ambil fotonya bang?" ujarnya kepada Riau Pos.

Maharani sepertinya mengerti apa keinginan Riau Pos saat melihat dirinya berlatih.

"Alhamdulillah dapat," jawab Riau Pos.

Di sisi lain, sejumlah atlet PPLP juga terlihat semangat dan antusias berlatih. Satu per satu mereka bergilir mengangkat barbel. Mereka terlihat bersemangat menjalani latihan yang diberikan. Keringat mereka pun bercucuran, tak terlihat rasa lelah dan letih pada diri mereka.

"Seperti inilah kami setiap hari. Saat pandemi kami tetap berlatih. Protokol kesehatan menjadi perhatian utama kami. Makanya sebelum latihan digelar, para atlet diminta untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah ada," ujar Irwandi.

Alhamdulillah, sampai saat ini latihan yang dilaksanakan berjalan dengan baik. Intinya protokol kesehatan menjadi perhatian utama. Dari pengamatan Riau Pos, di beberapa sudut disediakan tempat cuci tangan dan sabun.

"Semuanya bersemangat. Mereka berlatih dengan tekun dan disiplin. Tentunya protokol kesehatan mereka patuhi," ujar Irwandi lagi.

Ketua KONI Riau Emrizal Pakis juga menuturkan hal yang sama. Para atlet yang dipersiapkan atau atlet yang lolos mengikuti PON di Papua semuanya bersemangat dalam berlatih.

"Tadi kan bisa kita lihat bagaimana para atlet berlatih dengan semangat. Dari pemantauan saya, semua cabor yang lolos PON semua atletnya gigih berlatih," ujarnya.

Tidak Ditunda Lagi
Emrizal Pakis menyebutkan, dalam menghadapi PON, ada beberapa bentuk persiapan yang dilakukan pihaknya. Pertama, mempersiapkan atlet yang berpotensi meraih medali. Kedua, persiapan terhadap daya dukung, misalnya sarana prasarana apakah itu untuk latihan, sarana prasarana pertandingan atau untuk kontingen. Ketiga, pembiayaan.

Pembiayaan maksudnya, tambah mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau ini lagi, pembiayaan yang mendukung persiapan sampai pelaksanaan PON.

"Paling tidak ini tiga persoalan yang kita hadapi hari ini dan yang kita siapkan menghadapi PON mendatang," tuturnya.

Memang betul, PON sempat tertunda, yang seharusnya dilaksanakan tahun 2020 lalu menjadi 2021 ini. Kesepakatan terakhir antara PB PON, tuan rumah, Kemenpora, KONI pusat dan langsung bertemu Presiden, sudah ada kesepakatan dan inti kesepakatan itu bahwa PON tidak ditunda lagi ke tahun 2022.

Sehubungan dengan itulah, pihaknya makin memperkuat dan melanjutkan persiapan atlet di lapangan. Ada tiga bentuk yang dipersiapkan mulai tahun 2020 lalu sampai 2021 ini.  "Tahun 2020 lalu karena Covid-19 yang melanda dan sangat tinggi, intensitas atlet dalam berlatih itu kita sebut latihan mandiri," ujarnya.

Latihan ini untuk menjaga kebugaran, menjaga stamina agar tetap fit para atlet tersebut. Mereka harus tetap melaksanakan latihan fisik untuk kepentingan tubuh dan kemampuan per cabornya. Tapi mereka tidak dipandu langsung oleh pelatih. Dia hanya diberikan komando oleh pelatih dari jarak jauh.

Kemudian, memasuki tahun 2021 ini, termasuk akhir 2020 lalu, para atlet sudah meningkatkan latihannya. Dari latihan mandiri ke training center (TC) berjalan. "Nah kalau TC berjalan ini polanya  sudah menyatukan antara atlet dan pelatih dalam satu tempat latihan," ujarnya.

Jadi kalau latihan mandiri itu berjarak antara atlet dan pelatihnya, kalau ini dia sudah menyatu. Ini  dilanjutkan sampai hari ini dan masing-masing atlet sudah latihan seperti biasa dengan cabornya dan dengan pelatihnya. TC berjalan ini sendiri, tambahnya  akan berlanjut sampai bulan Juli. Kemudian, di bulan Agustus-September 2021 para atlet akan memasuki TC penuh. Bedanya lagi TC berjalan dengan TC penuh, TC berjalan ini sebagian besar itu atletnya tidak dirumahkan, artinya tidak dipondokkan. Masing-masing atlet tetap di rumah, tapi latihannya dijadwalkan pelatih, termasuk lokasinya.

Sedangkan TC penuh, para atlet  sudah dipondokkan dalam satu tempat, bisa di hotel atau tempat lainnya. Itu akan dilaksanakan selama dua bulan, Agustus-September. Diperkirakan PON itu dilaksanakan tanggal 2-15 Oktober.

Menurun, Kembali Normal
Menjawab Riau Pos, apakah ada penurunan prestasi atlet karena pandemi ini, Emrizal Pakis yang juga mantan Asisten II Setdaprov Riau itu mengaku memang ada penurunan.

"Itu semua telah kita pelajari. Tadi saya katakan, latihan mandiri di tahun 2020, kemudian masuk ke TC berjalan, ada tidak perubahan? Ternyata ada," ujarnya.

Jadi artinya, kalau mau mencari pembandingnya tentunya untuk cabor yang sifatnya terukur. Misalnya renang. Biasanya atlet tersebut  bisa meraih waktu 13 detik misalnya di nomor yang dia lakukan. Waktu sekian lama dia melaksanakan latihan mandiri, itu ternyata terjadi kemunduran, 15 sampai 20 detik. "Artinya memang terjadi kemunduran dari prestasi puncak yang dia lakukan," tambahnya.

Tapi setelah TC berjalan mulai dilakukan sampai hari ini, mereka mulai mendapatkan kembali hasil prestasi maksimal yang mereka pernah raih. Malahan sekarang mereka sudah bisa meningkatkan prestasi.

Pihaknya melihat di angkat berat misalnya, ada angkatan atlet yang sudah melebihi angkatan mereka  di pra-PON sebelumnya. Dia berharap ini terus dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga dalam PON mendatang para atlet bisa meraih hasil yang maksimal.

 


Bank BJB
Living World Lebaran Shoping




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Menyelamatkan Jiwa
Bagus Santoso (Wakil Bupati Bengkalis)

Menyelamatkan Jiwa

Selasa, 11 Mei 2021

EPAPER RIAU POS  11-mei.jpg

telatah ramadan

Colok Tujuh Likou

Selasa, 11 Mei 2021
Colok Tujuh Likou




riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com