PENDIDIKAN

Pembelajaran Tatap Muka Tetap Ada

Nasional | Selasa, 07 Juli 2020 - 10:04 WIB

Pembelajaran Tatap Muka Tetap Ada
Totok Suprayitno (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemendikbud)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan pembelajaran tatap muka di sekolah tetap ada. Hal ini sekaligus mengklarifikasi anggapan bahwa ke depan, pembelajaran hanya diterapkan jarak jauh (PJJ) dan secara daring saja.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemendikbud Totok Suprayitno menyampaikan, yang dimaksut permanen ialah  tidak menghilangkan peran teknologi ketika kondisi sudah normal nantinya. Mengingat, saat ini, banyak guru yang telah melakukan terobosan  untuk memperkuat sistem pembelajarannya dari rumah dengan teknologi. Meski awalnya, mereka juga cukup kesulitan.

"Karena pandemi ini, banyak hal positif yang dapat diambil. Guru jadi belajar secara cepat menggunakan teknologi. Ini hal positif, masa mau dihilangkan," ungkapnya dalam acara bincang sore secara virtual, kemarin (6/7).

Artinya, ketika pembelajaran tatap muka sudah bisa dilaksanakan maka peran teknologi tak akan dihilangkan. Karena tak dapat dipungkiri bila peran teknologi ini sangat besar dalam proses pembelajaran. "Dari yang semula hanya dari teks, diperluas dari teknologi," tuturnya.


Dia mencontohkan, guru tetap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Namun, untuk pendalaman materi, murid bisa ditugaskan mencari bahan atau sumber yang relevan dengan topik belajar. Yang kemudian, dapat didiskusikan bersama.

"Jadi bukan seolah-olah nggak sekolah lagi," tegas Totok.

Kendati begitu, dia mengakui, jika tak semua anak tersentuh teknologi. Entah karena jaringan teknologi yang belum sampai di wilayah tersebut atau teknologi yang mahal. Karenanya, pihaknya telah menyiapkan modul khusus untuk anak-anak sekolah dasar di kelas awal. Dia berpendapat, bahwa anak-anak ini jauh lebih membutuhkan modul karena lebih susah diajar dibandingkan jenjang lebih tinggi.

Modul tersebut akan dicetak dan diedarkan di minggu-minggu awal tahun ajaran baru pertengahan Juli ini. Mengingat nantinya, pembelajaran masih akan tetap dilakukan secara PJJ pada tahun ajaran baru.

"Ini untuk membantu mengurangi hambatan belajar tadi," ungkapnya.

Tentunya, dengan disertai upaya untuk mendorong agar kementerian/lembaga terkait dapat membantu membuka internet hingga ke pedalaman. "Karena ketika teknologi semakin terjangkau, akan lebih efisien dibanding modul," sambungnya.

Selain itu, yang juga menjadi perhatian pihaknya ialah ketika pembelajaran tatap muka dimulai nanti usai pandemi. Bakal ada gap besar yang terjadi di dalam kelas. Pasalnya, ketika anak lama belajar di rumah tentu proses belajarnya sangat bervariasi. Sehingga, ada berbagai macam kemampuan anak nantinya. Nah, yang paling rentan, anak-anak yang secara sosial ekonomi tertinggal. "Wong gak pandemi, kaya miskin terjadi gap. Gap ini yang dikhawatirkan semakin meluas nanti," jelas Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Oleh sebab itu, langkah pertama ketika aktivitas di sekolah kembali dibuka nanti ialah guru harus mengidentifikasi mana saja murid yang tertinggal. Ini harus jadi pertolongan pertama bagi mereka guna mencegah gap semakin lebar.  Assessment wajib dilakukan untuk kemudian membantu mereka mengejar ketertinggalan. Sehingga, nantinya, guru mengajar disesuaikan dengan kemampuan anak.

Menurutnya, hal ini sebetulnya harus dilakukan guru setiap saat. Mendiagnosa anak untuk mengetahui umpan balik dari para murid. "Mana murid yang tertinggal, mana yang bisa mengikuti. Nah, yang tertinggal ini dibantu," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Iwan Syahril turut menegaskan hal yang sama mengenai PJJ permanen. Dia menegaskan, bahwa peran buru tak akan tergantikan. Sementara, teknologi hanya alat yang digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran.

Apalagi saat ini, para guru sudah mulai aktif menggunakan teknologi untuk proses belajar mengajar. Bahkan merujuk pada data pusdatin, ada penambahan pengguna baru sekitar 3,3 juta pada fitur rumah belajar Kemendikbud. Belum lagi di laman guru berbagi. Hingga 3 Juli 2020, sebanyak 5,9 juta akses pembelajaran yang dibagi dengan 950 ribu pengunjung dan 1,2 juta pengunduh materi. Hal ini membuktikan bahwa para guru telah berupaya untuk memahami teknologi.  

Bagi guru yang masih mengalami kesulitan, pihaknya pun telah membantu dengan mengadakan webinar selama satu bulan kedepan. Sehingga, dapat membantu mereka melaksanakan PJJ selama masa pandemi ini. "Ada dua topik per hari selama sebulan. Umum dan khusus per kelas. Yang umum misalnya fleksibilitas kurikulum saat pandemic," papar Iwan.

Karenanya, dia meyakini bahwa pembelajaran hybrid atau menggabungkan pembelajaran tatap muka dan online bisa sangat efektif membantu proses pembelajaran. Nantinya pun, prosesnya diserahkan sepenuhnya pada guru dan sekolah. Apakah gradasinya 10 persen online dan 90 persen tatap muka ataupun lainnya. Bisa juga dengan melakukan flip learning. Yakni, pekerjaan di sekolah dikerjakan di rumah dan sebaliknya.

"Guru merekam bahan ajar, dibagikan ke siswa. Kemudian di kelas, langsung diskusi atau lakukan project. Ini lebih bagus, ketemu langsung feedback," ungkapnya.

Mengenai diagnosa siswa, Iwan juga menegaskan, bahwa hal ini penting dilakukan oleh guru. Dia mengibaratkan kondisi ini dengan klub sepakbola. Usai libur, mereka bakal menjalani assessment untuk mengidentifikasi kemampuan apa yang perlu ditingkatkan. Jika, kecepatan lari kurang maka diberikan latihan lari dengan porsi khusus. Namun bukan berarti nantinya mereka bakal dikelompok-kelompokkan ketika di kelas.(wan/mia/jpg)



youtube riaupos



Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU

Pemkab.Pelalawan - HUT Adhyaksa



Sharp Pekanbaru PSBB


UIR PMB Berbasis Rapor

EPAPER RIAU POS  2020-08-09.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com