Nono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik

Nasional | Selasa, 07 Juli 2020 - 19:58 WIB

Nono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik
Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono saat menjadi pembicara tunggal di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono mengingatkan, Indonesia harus mewaspadai perkembangan lingkungan strategi kawasan Asia Pasifik yang berpengaruh terhadap pergeseran geopolitik, geoekonomi dan geostrategi.

Demikian diungkapkan Nono Sampono saat memenuhi undangan Menko Polhukam, Mahfud MD dan jajaran pejabat eselon I dan II sebagai pembicara tunggal di Lingkungan Kementerian Polhukam, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

"Yang bakal terpengaruh oleh perkembangan lingkungan strategi kawasan Asia Pasifik sebenarnya bukan hanya kita (Indonesia, red), tapi secara keseluruhan akan menimpa negara-negara Asean," ujarnya.

Pasalnya kata Nono Sampono, sejak bulan Mei 2018 saja, sudah terjadi perubahan-perubahan besar keamanan di Asia yang dinamakan Indo Pacifik Region. 


Dan yang paling harus diwasapadai menurut Nono bukan hanya sebatas kemanan perbatasan. 

Tapi efek dari persaingan perdagangan global yang bakal masuk melalui jalur-jalur laut dan pemanfaatan pelabuhan Indonesia. 

"Kita harus akui, saat ini barang-barang dari Cina misalnya, itu sudah kemana mana, banyak Negara sudah ketergantungan dengan Cina, termasuk negara kita," urainya. 

"Bisa kita bayangkan, dari kita bangun tidur, mandi sampai berangkat kerja kita hampir menggunakan barang Cina. Demikian juga perabotan dan asesoris rumah tangga juga dari Cina," timpalnya.

Sementara lanjut Nono, negara pesaingnya seperti Amerika belum mampu bersaing dengan Cina. 

"Kalau Amerika saja belum mampu, apalagi kita. Dari segi politik, saat ini kita hanya bisa mempertahankan segala macam keragaman sumber daya alam yang kita miliki," tukasnya.

Hingga saat ini kata Nono lagi, Indonesia masih kalah agresif dalam memperluas pasar maupun investasi di kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara anggota Asean yang lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. 

Sebagai negara dengan wilayah terluas dan memiliki area yang menjadi penghubung sebagian besar negara di Asia Tenggara, Indonesia harus mengoptimalkan peluang strategis di kawasan tersebut tidak hanya ekspor produk barang maupun jasa, namun juga investasi. 

Investasi ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tapi juga memperkuat integrasi antar kawasan.

Saat ini Indonesia hanya bertumpu pada kesepakatan perdagangan bebas Asean atau Asean Free Trade Agreement (AFTA) beserta kesepakatan Asean dengan negara mitra (Asean-Cina FTA/ACFTA, Asean-Korea FTA/AKFTA, Asean-Japan CEP/AJCEP, Asean-India FTA/AIFTA dan Asean Australia New Zealand FTA-AANZFTA), namun penetrasi pasar masih sangat minim. 

Kondisi ini harus berubah jika Indonesia menginginkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tengah-tengah perang dagang AS-Cina.

"Kita harus bisa menghadapi persaingan dalam perdagangan global yang saat ini mereka kuasai. Karena, 90 persen perdagangan dunia itu melalui laut dan melintasi Indonesia. Ini Yang perlu kita manfaatkan. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen atau Pasar saja. Tapi, kita juga harus bisa menjadi produsen," tegasnya.

Laporan: Yusnir (Jakarta)
Editor: Eko Faizin



youtube riaupos



Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU

Pemkab.Pelalawan - HUT Adhyaksa



Sharp Pekanbaru PSBB


UIR PMB Berbasis Rapor

EPAPER RIAU POS  2020-08-03.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com