Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Berpeluang Tembus ke Level 6.000

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). IHSG pada pekan ini diperkirakan bisa menembus level 6.000. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). IHSG pada pekan ini diperkirakan bisa menembus level 6.000. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Advertisement

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih mendapat dukungan sentimen global. Pelemahan dolar AS (USD), ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga Amerika Serikat, hingga stabilnya harga minyak diproyeksi mampu menjaga minat investor terhadap pasar saham. 

Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menjadi perhatian. Praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan, IHSG bergerak dengan level support di kisaran 5.607–5.805, sedangkan resistance berada pada 6.056–6.226.

Advertisement

Menurut Hans, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,1 persen, meski inflasi yang tercermin dari indeks personal consumption expenditures (PCE) masih relatif tinggi. ”Kondisi tersebut membuat peluang The Fed untuk kembali menaikkan atau mempertahankan suku bunga pada pertemuan September relatif berimbang,” ujar Hans, Ahad (5/7).

Di Eropa, tekanan inflasi mulai mereda sehingga risiko inflasi dan perlambatan ekonomi dinilai semakin seimbang. Sementara itu, survei PMI S&P Global menunjukkan kinerja manufaktur dunia bergerak tidak seragam. Amerika Utara dan Asia Timur masih menguat, sedangkan kawasan ASEAN melambat sejak meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Advertisement

Hans menambahkan, harga minyak dunia juga relatif stabil. ”Pemulihan produksi minyak Timur Tengah berlangsung lebih cepat dari perkiraan, sementara permintaan impor minyak Cina masih lemah sehingga menahan kenaikan harga,” imbuhnya.

Meski sentimen eksternal cukup positif, kondisi ekonomi domestik masih dibayangi sejumlah tantangan. Pertumbuhan penerimaan pajak mulai melambat, padahal menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara. Selain itu, PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni dari 50 pada Mei, yang menandakan aktivitas manufaktur kembali terkontraksi.

Dia juga menyoroti penurunan cadangan devisa, meningkatnya inflasi pada Juni, serta kembali terjadinya defisit neraca perdagangan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).(mim/dio/jpg)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

IHSG diperkirakan menguat terbatas di tengah tekanan global, suku bunga AS, dan ketidakpastian geopolitik.

Rupiah dan IHSG Mulai Pulih

Rupiah dan IHSG Mulai Pulih

Rupiah dan IHSG menguat seiring harapan damai AS-Iran, didukung turunnya harga minyak dan meredanya risiko geopolitik.

IHSG Ditutup Menguat 

IHSG Ditutup Menguat 

IHSG ditutup menguat 1,11% ke 6.195, dipimpin saham energi di tengah sentimen inflasi dan kondisi pasar global.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer