Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Angka Kemiskinan versi BPS Beda dari Bank Dunia

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef).(Esther Sri Astuti)
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef).(Esther Sri Astuti)

Advertisement

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai garis kemiskinan yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini terlalu rendah.

Penilaian tersebut muncul di tengah perbedaan mencolok angka kemiskinan yang menggunakan standar BPS dan Bank Dunia. BPS mencatat persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.

Sementara itu, dalam rilis terakhir Bank Dunia, sebanyak 64,2 persen penduduk Indonesia disebut berada di bawah garis kemiskinan.

”Ukuran garis kemiskinan BPS menurut saya terlalu rendah, seharusnya bisa dihitung dari rata rata pendapatan per kapita penduduk Indonesia,” kata Esther, akhir pekan lalu.

Esther menjelaskan, BPS menggunakan garis kemis­kinan nasional yang dihitung berdasarkan kebutuhan dasar masyarakat. Sementara Bank Dunia menggunakan standar Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli untuk melakukan perbandingan kemis­kinan antarnegara.

Advertisement

”Perbedaan utama antara garis kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia terletak pada tujuan, standar, dan metode pengukuran yang digunakan,” ujarnya.

Dalam perhitungannya, garis kemiskinan BPS mencakup pengeluaran minimum untuk makanan setara 2.100 kilokalori per kapita per hari, ditambah kebutuhan non-makanan seperti perumahan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan.

Adapun Esther menyebut perbedaan ambang batas tersebut cukup besar. Garis kemiskinan BPS berada di kisaran Rp669 ribu per bulan, sedangkan menurut standar Bank Dunia sekitar Rp2,9 juta per bulan. ”Jadi jika melihat ukuran garis kemiskinan BPS sekitar Rp669 ribu per bulan, sedangkan menurut World Bank sekitar Rp2,9 juta per bulan,” katanya.

Esther menilai pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian terhadap ukuran garis kemiskinan. Menurutnya, penggunaan ambang batas yang lebih tinggi memang berpotensi membuat jumlah penduduk yang masuk kategori miskin ikut meningkat.

Namun, ia menilai perubahan tersebut tetap diperlukan apabila ingin memperoleh gambaran kemiskinan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

BPS Tegaskan Desil Kesejahteraan Bukan Ukuran Tunggal Ekonomi

BPS Tegaskan Desil Kesejahteraan Bukan Ukuran Tunggal Ekonomi

BPS menegaskan desil kesejahteraan merupakan pemeringkatan relatif berdasarkan berbagai faktor sosial ekonomi, bukan ukuran tunggal kemiskin

BPS Provinsi Riau Juara Satu Penyusunan Laporan Keuangan

BPS Provinsi Riau Juara Satu Penyusunan Laporan Keuangan

BPS Provinsi Riau meraih peringkat pertama penyusunan laporan keuangan wilayah 2025 berkat transparansi dan tata kelola yang baik.

Usai Riau, BRK Syariah Kini Gandeng BPS Kota Batam Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 di Kepri

Usai Riau, BRK Syariah Kini Gandeng BPS Kota Batam Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 di Kepri

BRK Riau dan BPS untuk mengawal jalannya Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Batam, pada Rabu (24/6/2026)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer