OLIMPIADE TOKYO 2020

Brazil Raih Emas Back to Back

Olahraga | Minggu, 08 Agustus 2021 - 10:02 WIB

Brazil Raih Emas Back to Back
Pemain Brazil melakukan selebrasi usai pengalungan medali emas Olimpiade Tokyo 2020 di Stadion Internasional Yokohama, Jepang, Sabtu (7/8/2021). (LOIC VENANCE/AFP)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sejak berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952, Brazil baru meraih medali emas cabang sepakbola pada Olimpiade di kandang sendiri yakni Rio 2016. Yang luar biasa, setelah puasa gelar sangat panjang sampai 64 tahun, Brazil justru meraih emas back-to-back. Ya, Brazil kembali medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

Brazil menjadi negara kelima yang bisa mempertahankan medali emas sepakbola Olimpiade. Empat negara sebelumnya yakni Inggris Raya pada Olimpiade 1908 dan 1912, Uruguay di Olimpiade 1924 dan 1928, Hungaria di Olimpiade 1964 dan 1968 dan terakhir Argentina di Olimpiade 2004 dan 2008.


Pada partai final di International Stadium Yokohama, Sabtu (7/8), Dani Alves dkk mengalahkan Spanyol dengan skor 2-1 lewat extra time. Brazil mencetak gol lebih dulu Matheus Cunha pada menit kedua injury time babak pertama. Spanyol membalas melalui tembakan Mikel Oyarzabal pada menit ke-61.

Setelah imbang 1-1 hingga babak normal berakhir, di extra time Brazil memastikan kemenangan lewat gol dari Malcom pada menit ke-108. Yang menarik, pelatih Brazil Andre Jardine tanpa ragu menyebut Spanyol dan klub Catalan FC Barcelona sebagai role model. Padahal, kalau menengok koleksi trofi, jelas Brazil unggul atas Spanyol.

Di level Piala Dunia, misalnya. Brazil sudah lima kali menang. Sementara itu, Spanyol baru sekali. Lalu, di level kontinen, Spanyol tiga kali mengangkat trofi Euro. Brazil sendiri di ajang subkontinen Amerika Latin, sembilan kali menang Copa America. "Dominasi Spanyol dan Barcelona bersama Pep (Guardiola) adalah inspirasi bagiku menemukan metode pelatihan," papar Jardine kepada ESPN.

Pelatih 41 tahun itu melanjutkan, dominasi penguasaan bola yang mendikte lawan ala Pep saat Barcelona (2008–2012) memang merevolusi permainan sepakbola dunia secara keseluruhan. Cara bermain dengan berlama-lama menguasai bola, menciptakan peluang sebanyak-banyaknya, dan akurasi passing yang tinggi seolah kini coba diadaptasi semua tim di dunia.

Padahal, menurut pandit The Athletic Michael Cox, tak semua tim punya fleksibilitas seperti Barcelona era Pep. Jardine sama sekali tak memberikan aplaus untuk Brazil yang menang Piala Dunia 2002. Bahkan, tim yang meraih emas di Olimpiade 2016 juga menang Copa America 2019.

"Brazil memang punya bintang-bintang yang secara individual mentereng dalam diri Neymar, Marcelo, Casemiro, atau Alisson. Namun, individu-individu itu masih gagal menunjukkan energi besar secara kolektif seperti yang ditunjukkan Italia saat juara Euro 2020," tulis pandit Felipe Cardenas di ESPN.(jpg)

Bank BJB

 




Pemkab Rokan Hulu



Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



TERBARU


EPAPER RIAU POS  ajsdjasda.jpg


OPINI

Atan Sengat 2021-12-01 11:18:12
RUBAIDA ROSE guru MA Ponpes Nurul Islam Kampung Baru Kuantan Singingi Redefinisi Makna Belajar buat Guru 01 Desember 2021



riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com