Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dominasi Eropa Belum Tergusur

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Pemain Inggris Jude Bellingham dan Harry Kane melakukan pemanasan dalam sesi latihan timnas Inggris di Kansas City, Missouri, Rabu (8/7/2026). (afp)
Pemain Inggris Jude Bellingham dan Harry Kane melakukan pemanasan dalam sesi latihan timnas Inggris di Kansas City, Missouri, Rabu (8/7/2026). (afp)

Advertisement

 

WASHINGTONDC (RIAUPOS.CO) - Penambahan peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim diharapkan membuka peluang lebih besar bagi negara-negara di luar kekuatan tradisional untuk bersaing. Pada kenyataannya, enam dari delapan tim yang bertahan berasal dari Eropa.

Afrika mengirim 10 wa­kil atau dua kali lipat lebih banyak. Asia tampil dengan sembilan peserta dari sebelumnya enam peserta. Sementara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada lolos otomatis sebagai tuan rumah sehingga CONCACAF punya sembilan wakil. Konfigurasi itu diharapkan membuat Piala Dunia 2026 bukan hanya arena persaingan Eropa (16 wakil) dan Conmebol (6 wakil).

Advertisement

Harapan itu sempat terlihat sepanjang fase grup hingga babak 16 besar. Sejumlah wakil Asia tidak terkalahkan pada laga pembuka. Sembilan dari 10 wakil Afrika berhasil lolos ke fase gugur. Ketiga tuan rumah pun sama-sama mampu melaju hingga babak 16 besar.

Namun, saat memasuki perempat final, peta kekuatan kembali mengerucut. Enam dari delapan tim yang lolos berasal dari Eropa, yakni Prancis, Spanyol, Inggris, Belgia, Norwegia, dan Swiss. Amerika Selatan dan Afrika masing-masing hanya menyisakan satu wakil. Asia? Nihil.

Advertisement

Sistem Jadi Pembeda

Apa yang membuat Eropa terus mendominasi? Sejumlah media menilai keunggulan negara-negara Benua Biru bukan hanya lahir dari kualitas individu pemain, melainkan dibangun melalui sistem yang berkembang selama puluhan tahun.

Marca melaporkan, keunggulan timnas asal Ero­pa ditopang infrastruktur sepakbola, pembinaan usia muda, pemahaman taktik, hingga kualitas lima liga elite. Yakni, Premier League, LALIGA, Bundesliga, Serie A, dan Ligue 1. Kompetisi yang ketat membuat para pemain terbiasa menghadapi pertandingan berintensitas tinggi sejak usia muda. 

Michael Cox dalam kolomnya di The Athletic juga menilai kekuatan finansial dan pembinaan usia muda menjadi faktor utama. Selain itu, kualitas kompetisi juga memegang peranan. Bukan hanya domestik, tetapi juga Euro (Piala Eropa) maupun Nations League. 

“Euro menawarkan persaingan yang nyaris setara dengan Piala Dunia sehingga menjadi bekal ideal bagi para pemain sebelum tampil di turnamen terbesar tersebut,” tulis analis sepakbola ternama asal Inggris tersebut. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Libas Kanada 3-0, Maroko Melaju ke Perempat Final Piala Dunia, Brahim Diaz dan Ounahi Bersinar, Selebrasi Minum Teh Curi Perhatian

Libas Kanada 3-0, Maroko Melaju ke Perempat Final Piala Dunia, Brahim Diaz dan Ounahi Bersinar, Selebrasi Minum Teh Curi Perhatian

Selebrasi minum teh ala dua pemain Timnas Maroko curi perhatian penonton. Libas Kanada 3-0, Maroko melaju ke perempat final piala dunia

Gol Menakjubkan Sidny Lopes Cabral ke Gawang Argentina Terpilih sebagai Gol Terbaik Piala Dunia 2026

Gol Menakjubkan Sidny Lopes Cabral ke Gawang Argentina Terpilih sebagai Gol Terbaik Piala Dunia 2026

Gol melengkung Sidny Lopes Cabral dari Tanjung Verde ke gawang Argentina memenangkan voting publik sebagai gol terbaik di Piala Dunia 2026.

Lionel Scaloni Bela Pemainnya dari para Pengkritik setelah Kekalahan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Lionel Scaloni Bela Pemainnya dari para Pengkritik setelah Kekalahan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Pelatih Argetnina Lionel Scaloni membela para pemainnya dari para pengkritik setelah kekalahan Albiceleste di final Piala Dunia 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer