
SEPANG (RIAUPOS.CO) - Grand Prix Qatar di Sirkuit Lusail pada 6-8 November ini akan digelar di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang semakin memanas. Seluruh kru dan juga pembalap menghadapi risiko penutupan wilayah udara secara mendadak hingga ancaman keamanan.
Namun, pembalap tidak bisa begitu saja memilih absen. “Sepertinya balapan akan tetap berjalan seperti Grand Prix biasa. Jadi, kami harus berangkat. Kami memang tidak punya pilihan lain. Jika tidak datang, tentu ada sanksi yang menanti,” ujar pembalap Red Bull KTM Tech 3, Maverick Vinales dikutip dari GPOne.
Ya, pembalap memang berpotensi mendapat hukuman jika memutuskan absen. Selain denda, laporan Motorsport menyebut rider berpotensi mendapat larangan tampil dalam dua seri terakhir di Portugal dan Valencia jika tidak mengikuti sesi latihan ,Jumat (6/11).
Baca Juga: Juara Bertahan PSG Pecahkan Rekor Liga Champions dengan Kemenangan Telak 6-0 atas Villarreal
Vinales sebenarnya bukan satu-satunya yang merasa keberatan. Sebanyak 19 dari 22 rider telah menandatangani surat kepada MotoGP Group. Mereka meminta promotor untuk mengambil tanggung jawab penuh jika terjadi insiden selama balapan.
Pembalap Ducati Francesco Bagnaia sempat mengungkap hasil negosiasi tersebut. “Jelas bahwa kami telah mendapatkan hampir semua yang kami minta. Itu hal yang positif,” kata Bagnaia, dikutip dari GPOne. “(Tetapi) ada beberapa hal yang sebenarnya kami harapkan, tetapi tidak akan pernah terwujud. Memang begitulah kenyataannya,” lanjutnya.
Di tengah penolakan, setidaknya ada tiga pembalap yang tidak ikut menandatangani surat keberatan. Menurut laporan jurnalis Spanyol Mela Chercoles, mereka adalah Marco Bezzecchi, Ai Ogura, dan Johann Zarco. Seusai GP Malaysia akhir pekan lalu, Ogura memang tidak mempermasalahkan jika balapan tetap berlangsung. (ka/bas/jpg)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




