JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Indonesia Arena bergemuruh begitu wasit pertandingan semifinal Piala Asia Futsal 2026 antara Indonesia melawan Jepang meniup pluit panjang, Kamis (5/2). Indonesia lolos ke final usai mengalahkan Samurai Biru dengan skor 5-3 dalam duel 50 menit lewat extra time.
Di final, Garuda bakal menantang Iran di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2) besok. Kelolosan Indonesia ini penuh drama. Garuda mampu berkali-kali unggul, termasuk yang pertama kali pada menit ke-12 lewat Samuel Eko. Gol itu juga membuat Garuda unggul 1-0 pada babak pertama.
Di babak kedua, Indonesia sempat berhasil menggandakan keunggulan jadi 2-0 atas Jepang. Semua berkat gol bunuh diri Takehiro Motoishi yang salah mengantisipasi bola tendangan Ardiansyah Nur.
Tapi, Jepang menolak menyerah. Pasukan Kensuke Takahashi seketika bangkit dengan mencetak dua gol sekaligus, masing-masing lewat Takehiro Motoishi (30’) dan Kazuya Shimizu (34’), untuk membuat skor berubah jadi 2-2.
Setelah kedudukan 2-2, permainan Indonesia memang terasa hidup lagi. Firman Ardiansyah mampu mencetak gol ketiga Garuda lewat tendangan di menit ke-38. Tapi, kemenangan di depan mata Indonesia sirna saat 30 detik terakhir.
Jepang dapat penalti setelah Iqbal melakukan handball dan Shimizu mencetak gol penyama kedudukan jadi 3-3 sehingga pertandingan harus berlanjut ke extra time. Garuda harus meladeni laga 2x5 menit tambahan untuk menentukan pemenang.
Pada babak tambahan waktu, tempo pertandingan tak banyak berubah. Jepang langsung mengambil inisiatif serangan di menit pertama dan langsung mengancam gawang Habiebie. Tapi Indonesia juga bukan tanpa perlawanan.
Garuda secara perlahan mampu keluar dari tekanan. Kurang dari semenit Indonesia mendapat gol lagi. Reza Gunawan sukses membuat Garuda unggul lagi setelah memanfaatkan kesalahan Yusei Arai di area sendiri. Skor 4-3 untuk Indonesia di paro awal babak tambahan waktu.
Keunggulan 4-3 membuat Indonesia makin percaya diri dalam bermain. Garuda kali ini tampil lebih tenang meskipun Jepang langsung menerapkan strategi power play dengan Shimizu sebagai kiper terbang. Tapi strategi itu berbuah petaka untuk Jepang.
Kesalahan di area pertahanan Indonesia langsung dihukum oleh Dewa Rizki dengan melepaskan tembakan gleser dari tengah ke arah gawang Jepang yang kosong. Indonesia unggul lebih jauh 5-3 saat laga sisa kurang dari tiga menit.
Petaka kembali menghampiri Jepang di menit ke-49. Kiper Habiebie melanggar pemain Jepang di area terlarang sehingga berbuah penalti untuk Samurai Biru. Untungnya, Shimizu kali ini gagal mencetak gol setelah tembakannya melambung.
Pelatih Timnas Futsal Indonesia Hector Souto angkat bicara mengenai keberhasilan ini. Ia jadi sosok kunci yang membuat Garuda ke final dan cetak sejarah besar. “Jadi pertama-tama, saya ingin mempersembahkan kemenangan ini kepada pacar saya yang merawat bayi saya di Spanyol,” kata Souto dalam jumpa pers usai laga.
“Sangat sulit untuk jauh dari keluarga. Itulah mengapa saya menangis. Saya pikir pertandingannya sulit. Benar-benar sulit seperti yang saya duga. Dan saya katakan bahwa kita harus bermain sempurna,” tambahnya.
Menurut Souto, keberhasilan Jepang melakukan comeback karena kelengahan para pemain Indonesia saat unggul. Iqbal Iskandar dan kolega disebut Souto merasa kedudukan 2-0 sudah aman, sehingga Jepang mampu menyamakan kedudukan.
“Saya pikir kita bermain sangat baik di babak pertama. Dan di babak kedua, saya meminta para pemain untuk bermain lebih agresif, lebih banyak menguasai bola dan menciptakan peluang dan kami bermain sangat langsung,” terang Souto.
“Saya pikir dalam pikiran mereka, 2-0 sudah cukup. Dan melawan Jepang, Iran, dan tim-tim kuat lainnya, itu tidak pernah cukup. Dan kami baru mulai bermain lagi setelah skor 2-2. Kami kembali dengan perasaan kami. Kami mengubah beberapa detail taktik yang memberi kami gol ketiga,” tambahnya.
“Gol keempat, itu sangat penting bagi kami. Dan dengan skor 4-3, mereka bermain power play, kami merebut satu bola. Kami memiliki gagasan yang sangat jelas tentang apa yang ingin kami lakukan. Dan kami mencetak gol. Itulah inti permainannya,” lanjut dia.(das)
Lapoan JPG, Jakarta
Editor : Arif Oktafian