
Kepemimpinan status quo adalah gaya manajemen dimana seorang pemimpin cenderung mempertahankan kondisi atau cara kerja saat ini. Pemimpin menghindari perubahan dan berpegang teguh pada prinsip “jika tidak rusak jangan diperbaiki” karena berisiko menciptakan stagnasi di tengah dinamika pasar yang cepat berubah. Status quo menggambarkan kondisi yang mapan dan umumya diterima oleh berbagai pihak yang terlibat, berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Pertanyaannya, apakah anda beserta tim yang saat ini sedang memegang tampuk kekuasaan ingin mempertahankan status quo? Apakah anda memiliki niat dan berupaya menyusun strategi agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan orang lain.
Ada kecenderungan para pemimpin beserta kroninya yang telah merasakan nikmatnya memegang kekuasaan, selalu ingin mempertahankan kekuasaannya. Berbagai strategi telah dirancang dan direkayasa agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan orang lain. Kalaulah jatuh ke tangan orang lain tetap pada lingkaran status quo. Jalur yang ditempuh oleh pemimpin status quo adalah merancang suksesi melalui regenerasi yang diciptakan melalui kendaraan yang aman dan nyaman bagi penumpangnya. Meskipun berganti pemimpin, namun sebagai pemimpin status quo ia mampu mewariskan kepada kelompok binaannya untuk tetap bisa mengintervensi berbagai kebijakan yang menguntungkan pada kelompok status quo.
Namun perlu disadari bahwa kehidupan itu tidak ada yang abadi, sebaik apapun kapasitas seorang pemimpin, jika dia dikelilingi oleh pengikut yang buruk, maka cepat atau lambat pengikut itu bisa mendatangkan kehancuran untuk sang pemimpin. Pengikut yang baik, adalah mereka yang bisa menghasilkan ide dan nilai.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Kayu: Riau Berpeluang Bangun Raksasa Ekonomi Baru dari Tetes Nektar Akasia
Mereka juga harus kritis dan punya pendirian, sanggup dengan tegas mengatakan ‘tidak’ jika memang diperlukan. Organisasi butuh pengikut yang bisa menghasilkan ide dan memberikan masukan. Sebaliknya pemimpin yang baik adalah: Menghormati setiap anggota tim, Tidak mempermalukan bawahan di depan umum, Menjaga etika dan sopan santun, Memberikan perlakuan yang adil, Mau menerima kritik dan saran, Tidak merasa paling benar, Bersedia mengakui kesalahan, Mengutamakan kerja tim dari pada ego pribadi, Menghargai kontribusi anggota tim, Memberikan pujian secara tulus , Memberikan penghargaan atas prestasi, Mendengarkan dan menghormati ide tim, dan Memberikan motivasi kepada tim.
Tugas pemimpin bukan membangun tembok raksasa melainkan membangun jembatan, menjadi fasilitator yang mampu menavigasi ketidakpastian. Pemimpin yang tidak melakukan upaya serius mengembangkan potensi sumberdaya yang dimiliki akan mengalami dua krisis sekaligus yaitu krisis kurangnya tenaga kerja terlatih dan krisis munculnya kekosongan kepemimpinan.
Oleh karena itu sedari awal para penganut faham status quo agar menyadari bahwa kini dunia berubah dengan cepat, Waktunya untuk Berubah, Waktunya untuk Beradaptasi, saatnya Melangkah Keluar dari Zona Nyaman.
Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, Mesin perubahan akan terus berjalan. Berubah bukan karena yang lama ‘buruk’ atau’salah’ tetapi yang lama sudah tidak relevan dan tidak kontekstual. Apa yang harus dirubah oleh pemimpin status quo?
Di antaranya mengubah mindset cara berorganisasi yang professional, mengubah cara bekerja, Mengubah cara belajar, Mengubah cara mengelola perusahaan, atau Mengubah cara mengelola pemerintahan. Jika anda yang saat ini memegang kendali kekuasaan dan ingin melanjutkan karier menuju puncak, lakukanlah perubahan dari model status quo menuju kepemimpinan baru melalui lajur pintu masuk kepemimpinan transisi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




