
Enam bulan setelah injeksi perdana Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Area A Lapangan Minas pada 23 Desember 2025, kabar mengenai kinerja proyek ini menjadi sangat penting bagi masa depan produksi minyak Indonesia. Ketika proyek tersebut diluncurkan, PHR menempatkan CEOR sebagai salah satu strategi untuk menghidupkan kembali potensi lapangan tua yang telah berproduksi sejak era awal industri minyak Indonesia (1952).
Pemberitaan pada 24 Desember 2025 oleh berbagai media nasional, termasuk Kompas, Dunia Energi, dan Bloomberg Technoz, menegaskan ekspektasi bahwa respons produksi akan mulai terlihat sekitar enam bulan setelah injeksi. PHR menargetkan tambahan produksi puncak sekitar 2.800 barel minyak per hari (BOPD) dari Stage-1 Area A, sementara secara lebih luas penerapan CEOR di Minas diarahkan untuk meningkatkan perolehan minyak sebesar sekitar 12-16 persen dari Original Oil in Place (OOIP).
Hal yang menarik, pada Juni 2026, sekitar enam bulan setelah injeksi, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa proyek EOR di Area A telah menunjukkan hasil nyata, dengan produksi dilaporkan meningkat hingga 300 persen dibandingkan kondisi sebelumnya dan dinilai sesuai dengan target yang direncanakan.
Angka 300 persen tersebut tentu perlu dibaca secara hati-hati, ia menunjukkan peningkatan relatif pada area/pola yang dievaluasi, bukan berarti produksi Minas secara keseluruhan bertambah 300 persen atau bahwa tambahan 2.800 BOPD telah dicapai secara permanen.
Karena itu, memasuki Agustus 2026, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa CEOR dapat memberikan respons awal, melainkan memastikan bahwa respons tersebut dapat dipertahankan, dikonversi menjadi incremental oil yang terukur, ekonomis, aman, dan konsisten dalam jangka menengah hingga satu tahun bahkan lebih.
Hal ini sangat penting karena EOR pada dasarnya bukan teknologi “sekali injeksi langsung menghasilkan”, melainkan proses reservoir yang memerlukan waktu untuk propagasi chemical front, mobilisasi minyak residual, perubahan mobility ratio, perbaikan sweep efficiency, serta komunikasi antara sumur injeksi dan produksi.
Baca Juga: Hadiah Kemerdekaan
Dalam CEOR di Lapangan Minas, PHR menggunakan kombinasi alkali, surfaktan, dan polimer atau ASP. Surfaktan berfungsi menurunkan interfacial tension antara minyak dan air sehingga minyak yang terperangkap oleh gaya kapiler dapat dimobilisasi; polimer meningkatkan viskositas fluida injeksi sehingga mobility ratio menjadi lebih baik dan penyapuan reservoir meningkat; sedangkan alkali membantu membentuk atau mempertahankan kondisi kimia yang mendukung efektivitas surfaktan sekaligus mengurangi sebagian kehilangan chemical akibat interaksi dengan batuan. Dengan demikian, keberhasilan enam bulan pertama merupakan milestone yang sangat positif, tetapi belum boleh dianggap sebagai hasil akhir.
Secara teoritis, CEOR merupakan bentuk tertiary recovery yang bekerja setelah mekanisme primary recovery dan secondary recovery termasuk waterflood tidak lagi mampu menguras minyak secara optimal. Tantangan terbesar pada reservoir mature seperti Minas (di produksi sejak 1954) adalah keberadaan residual oil yang masih tertinggal di pori-pori batuan serta buruknya penyapuan (sweep) akibat keberagaman (heterogenitas) reservoir, mobility ratio, channeling, dan water breakthrough.
Itulah sebabnya keberhasilan CEOR tidak hanya ditentukan oleh formula chemical, tetapi merupakan kombinasi antara kualitas reservoir characterization, desain pattern, compatibility chemical dengan formation water dan crude oil, adsorption, salinity, temperatur, injectivity, fracture containment, surveillance, dan kemampuan fasilitas permukaan menangani produced fluid. Literatur internasional memperlihatkan bahwa chemical EOR dapat berhasil secara komersial apabila proses screening, pilot design, surveillance dan scale-up dilakukan secara disiplin.
Daqing Oilfield di China, misalnya, menjadi salah satu contoh paling kuat keberhasilan polymer flooding; publikasi dari Society Petroleum Engneer (SPE) mencatat bahwa polymer flooding telah menghasilkan incremental recovery yang signifikan dan lebih dari 12 tahun, menjadi bagian penting produksi lapangan tersebut. Mangala Field di Rajasthan, India, juga memberikan pelajaran penting.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




