Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Negara Terus Membayar Harga dari Ekonomi yang Tidak Belajar

R
Penulis: Redaksi❯
FAJARWATY KUSUMAWARDHANI. (MAHASISWA PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK UGM)
FAJARWATY KUSUMAWARDHANI. (MAHASISWA PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK UGM)

Advertisement

 

Ada repetisi yang ironis dari kabut asap di Riau. Setiap kali langit berubah kelabu dan jerubu mengapung di udara, kita kembali melakukan hal yang hampir sama: menghitung titik panas, mengirim personel, menerbangkan helikopter water bombing, membuat modifikasi cuaca, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, lalu menunggu hujan. Kemudian, ketika hujan datang dan api padam, perhatian publik pun ikut mereda. Sampai musim kemarau berikutnya.

Pola itu terlalu lama berlangsung untuk disebut sebagai kejadian luar biasa. Ia telah menjadi persoalan kebijakan publik yang berulang, melibatkan ekologi gambut, tata ruang, ekonomi ekstraktif, kepentingan investasi, konflik tenurial, kapasitas pemerintah, penegakan hukum, dan tentu saja politik anggaran.

Advertisement

Pemerintah memang tidak tinggal diam. Operasi pemadaman darat dan udara terus diperkuat. Riau termasuk enam provinsi prioritas penanganan karhutla, bersama Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Namun pertanyaan seharusnya bukan lagi tentang seberapa cepat kita memadamkan api, tetapi mengapa api yang sama terus kembali.

Secara ekologis, gambut memang memiliki karakter yang membuat kebakaran menjadi persoalan serius. Studi mengenai kebakaran di Pulau Rupat, misalnya, menunjukkan bahwa pengelolaan kanal yang buruk, kondisi gambut yang rusak, dan fenomena El Nino dapat berinteraksi dalam memperluas kebakaran. 

Advertisement

Di sinilah kita perlu mengubah cara melihat karhutla. Kalau setiap tahun kita mengatakan “kemarau menyebabkan kebakaran”, maka kebijakan kita akan selalu berorientasi pada pemadaman ketika kemarau tiba. 

Namun jika kita mengatakan bahwa “kerentanan gambut terha­dap kebakaran merupakan hasil dari interaksi faktor ekologis, tata ruang, aktivitas ekonomi, tata kelola, dan insentif”, maka kebijakan kita harus bergerak jauh lebih ke hulu. Model pembangunan di atas ruang yang rentan secara ekologis seharusnya menjadi titik awal desain kebijakan.

Karhutla dalam Perspektif Ekonomi Politik Pembangunan

Dari perspektif ekonomi politik pembangunan, karhutla dapat dibaca sebagai konsekuensi dari pertemuan antara kepentingan ekonomi, kekuasaan atas sumber daya, dan kapasitas negara. Riau tumbuh dalam sejarah ekonomi yang sangat berkaitan dengan eks­ploitasi sumber daya alam. 

Ekspansi perkebunan, kehuta­nan, dan komoditas berbasis lahan menciptakan nilai ekonomi, lapangan pekerjaan, penerimaan, dan aktivitas investasi. Tetapi pada saat yang sama, perubahan bentang alam juga menghasilkan risiko ekologis yang tidak seluruhnya masuk ke dalam perhitungan keuntungan ekonomi. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan

Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan

Pemerintah Provinsi Riau mendorong kolaborasi dengan dunia usaha dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

Dua Daerah Tanggap Darurat Bencana Karhutla, Pemprov Riau Pantau Eskalasi 

Dua Daerah Tanggap Darurat Bencana Karhutla, Pemprov Riau Pantau Eskalasi 

Pemprov Riau pantau eskalasi Karhutla di seluruh kabupaten/kota. Saat ini Pekanbaru dan Pelalawan telah menetapkan status tanggap darurat

Kemenag Riau Sesuaikan Pembelajaran di Tengah Dampak Kabut Asap Karhutla

Kemenag Riau Sesuaikan Pembelajaran di Tengah Dampak Kabut Asap Karhutla

Karhutla merusak sendi-sendi pendidikan Provinsi Riau. Banyak sekolah terdampak dan terpaksa belajar daring. Kemenag Riau pun menyesuaikan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer