Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Karyawan sebagai Aset, Hal yang Sering Tidak Disadari Pimpinan

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Mahasiswa S-3 Program Doktoral Manajemen Unri, Juniar Sitinjak
Mahasiswa S-3 Program Doktoral Manajemen Unri, Juniar Sitinjak 

Advertisement

 Karyawan adalah aset terpenting perusahaan atau sebuah organisasi. Dalam dunia bisnis modern, persepsi terhadap tenaga kerja telah mengalami pergeseran fundamental. Karyawan tidak lagi dipandang sekadar sebagai faktor produksi atau beban biaya (cost center), melainkan sebagai aset paling berharga (human capital) yang menentukan kelangsungan dan kejayaan suatu perusahaan, ini secara idealnya, namun dalam praktiknya masih banyak yang belum sesuai dengan harapan, masih banyaknya anggapan dan perlakuan dari para atasan atau pimpinan yang menganggap bahwa karyawan itu hanya sebagai “budak korporet” (coorporate servant).

Mengapa karyawan adalah aset terpenting? Penggerak inovasi dan kreativitas: teknologi dan infrastruktur canggih tidak akan berjalan optimal tanpa kreativitas manusia. Ide-ide baru, solusi atas permasalahan kompleks, serta efisiensi proses lahir dari pemikiran strategis para karyawan. Wajah dan Reputasi Perusahaan: Bagi pelanggan dan mitra bisnis, karyawan terutama yang berada di garis depan adalah cerminan langsung dari nilai (values) dan kualitas perusahaan. Kepercayaan konsumen sangat bergantung pada profesionalisme mereka. Penjaga pengetahuan organisasi (institutional knowledge): Pengalaman, keterampilan, dan pemahaman mendalam tentang industri yang dimiliki karyawan merupakan kekayaan intelektual yang tidak mudah ditiru oleh pesaing.

Investasi pada human capital. Sebagaimana aset fisik yang membutuhkan pemeliharaan dan pembaruan, aset manusia juga memerlukan investasi yang berkelanjutan melalui: pelatihan dan pengembangan: menyediakan program up-skilling dan reskilling untuk menghadapi perubahan tren pasar. 

Budaya kerja yang sehat: membangun lingkungan kerja yang inklusif, aman, dan mendukung kesejahteraan mental serta fisik (well-being). Apresiasi dan remunerasi adil: memberikan penghargaan yang sepadan atas kontribusi dan pencapaian yang diraih. Memperlakukan karyawan sebagai aset berharga bukan hanya bentuk kepedulian sosial, melainkan strategi bisnis yang cerdas. Ketika perusahaan berinvestasi pada potensi karyawannya, karyawan akan memberikan loyalitas, produktivitas, dan kinerja terbaik demi kemajuan bersama.

Banyak organisasi dan pimpinan yang lantang menyuarakan slogan bahwa “karyawan adalah aset terpenting Perusahaan”, tetapi realitas di lapangan sering kali menunjukkan hal yang bertolak belakang. Di bawah kepemimpinan yang minim empati dan berorientasi jangka pendek, pekerja kerap kali dipandang sekadar sebagai komponen biaya (cost center) atau roda penggerak mesin produksi yang bisa dengan mudah diganti kapan saja. Dalam lingkungan seperti ini, pimpinan cenderung menuntut produktivitas maksimal tanpa mengimbangi perhatian terhadap kesejahteraan, kesehatan mental, maupun pertumbuhan karir stafnya. Dedikasi dan kerja keras karyawan dianggap sebagai hal yang sudah sepatutnya, sementara setiap kesalahan sekecil apa pun langsung mendapat sorotan dan sanksi yang tajam.

Advertisement

Dampak dari budaya organisasi yang tidak menghargai manusianya ini sangat terasa pada iklim kerja harian. Loyalitas karyawan perlahan menguap, berganti dengan sikap apatis dan fenomena quiet quitting, di mana staf hanya melakukan tugas sebatas syarat minimal demi bertahan hidup. Ketika ide, masukan, dan inovasi dari bawah terus-menerus diabaikan, rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perusahaan pun sirna. Akibatnya, tingkat perputaran karyawan (turnover rate) melonjak tinggi, menarik keluar talenta-talenta terbaik yang enggan bertahan di lingkungan yang beracun (toxic environment). 

Dampak yang bisa muncul oleh situasi ini yaitu dapat mengurangi loyalitas staf terhadap pekerjaan yang menjadi tugas pokok dan fungsinya, misalnya jika pada satu hari staf memiliki sepuluh beban kerja, maka staf hanya akan mengerjakan sepuluh beban kerjanya tanpa mau menambah beban kerja satu lagi sekalipun dapat dikerjakan pada satu hari itu, begitupun dengan jam kerja, staf tidak akan mau bekerja sedikit lebih lama dari waktu jam pulang kerja meskipun masih ada pekerjaan yang belum selesai untuk dikerjakan, karena staf merasa semua juga akan sia-sia untuk dikerjakan, dengan asumsi “toh, saya sebagai staf tidak dianggap berharga, sehingga buat apa saya bekerja keras untuk perusahaan/organisasi ini”.

Pada akhirnya, kegagalan pimpinan dalam menempatkan karyawan sebagai aset nyata bukan sekadar komoditas menjadi bumerang bagi kelangsungan bisnis itu sendiri. Perusahaan mungkin masih bisa meraih target finansial dalam jangka pendek melalui pemangkasan dan eksploitasi beban kerja, tetapi mereka kehilangan fondasi utama untuk pertumbuhan jangka panjang: inovasi, kepercayaan, dan komitmen. Tanpa penghargaan yang tulus terhadap potensi manusia di dalamnya, sebuah organisasi pada dasarnya sedang berjalan menuju stagnasi, menunggu waktu hingga tertinggal oleh para pesaing yang benar-benar memanusiakan dan memberdayakan tim mereka.

Jika sebuah organisasi menilai karyawan merupakan aset penting, maka status kesehatan harus tetap dijaga dengan memberikan fasilitas  medical check up (MCU) secara gratis, namun ada banyak organisasi yang belum melakukannya, bahkan pada universitas yang mengajarkan tentang pentingnya sumber daya manusia dalam sebuah organisasi bahkan para staf pengajar dan staf kepegawaian belum mendapatkan medical check up (MCU) secara gratis sebagai bagian dari penghargaan finansial dalam wujud non materi terhadap pegawai.

Padahal seperti kita ketahui bersama, para staf pengajar yaitu dosen, para guru besar yang dengan usia mayoritas sudah di atas umur lima puluh tahun, namun dengan beban pekerjaan yang menyita banyak waktu dan pemikiran yang tidak mudah, diperlukan kondisi tubuh yang tetap harus terjaga dengan baik, oleh karenanya dibutuhkan MCU rutin minimal setahun sekali, namun hal ini tidak diperoleh oleh para staf pengajar. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Inmemoriam Karyawan Riau Pos Hendri Bakri, Sosok Karyawan Rajin dan Selalu Selesaikan Pekerjaan

Inmemoriam Karyawan Riau Pos Hendri Bakri, Sosok Karyawan Rajin dan Selalu Selesaikan Pekerjaan

Keluarga besar Riau Pos berduka atas wafatnya Hendri Bakri di RS Petala Bumi, dimakamkan di TPU Simpang BPG Kulim, Sabtu (3/10).

PT KFU Rekrut Karyawan tanpa Pungutan, Utamakan Transparansi dan Tenaga Kerja Lokal

PT KFU Rekrut Karyawan tanpa Pungutan, Utamakan Transparansi dan Tenaga Kerja Lokal

General Manager PT PT Karya Fia Utama (KFU) Andreo Joeliossa menegaskan pihaknya merekrut karyawan tanpa pungutan dan , tamakan naker lokal.

Karyawan Riau Pos Mustafa Alfa Edison Wafat di Usia 54 Tahun 

Karyawan Riau Pos Mustafa Alfa Edison Wafat di Usia 54 Tahun 

Karyawan Riau Pos Mustafa Alfa Edison wafat di usia 54 tahun. Almarhum dikenang sebagai sosok andal, baik, dan suka membantu rekan kerja.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer