Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Membaca Gaya Hidup Hedonis

Rindra Yasin • Jumat, 9 Desember 2011 - 07:36 WIB
HEDONIS adalah perilaku manusia yang berorientasi pada kesenangan hidup alias bersenang-senang semata. Gaya hidup materialis bisa dikatakan sebagai produk derivatifnya. Dalam bukunya Iqtishaduna, Baqir as-Sadr (1961), seorang yang berkebangsaan Irak dengan jelas mengatakan bahwa beberapa persoalan dalam ekonomi, termasuk kesenjangan yang mencolok (gap) antara orang kaya dan miskin adalah disebabkan perilaku serakah pihak kaya dalam mengelola kekayaan alam, sehingga penyalurannya tidak merata.

Secara kasat mata, saat ini, sikap untuk menjadikan hidup hedonis sebagai gaya hidup  seakan-akan tidak terbendung lagi. Banyak orang menjadikan materi sebagai tujuan, bukan seperti asas primordialisme yang terkandung dalam konsep pemanfaatan materi tersebut, yakni sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Jika hidup bertujuan untuk bertahan, maka usaha perolehan dan pemilikan materi sudah tentu untuk bertahan hidup.

Selanjutnya, jika hidup manusia sebagai khalifah (pengelola, manajer, wakil) Allah SWT yang bertugas untuk melestarikan hidup dan alam, maka usaha perolehan dan pemilikan materi, idealnya untuk merealisasikan tugas tersebut. Dan, perilaku hedonis tidak masuk dalam kamus itu. Ternyata jejak sistem ekonomi kapitalis yang subur di Eropa dan Amerika cukup membekas dalam sistem perekonomian Indonesia yang disinyalir sebagai negara yang menganut sistem ekonomi campuran. Meskipun beberapa kalangan mengatakan, bahwa Indonesia juga disinyalir menganut sistem liberal atau neo-liberal. Yang pasti, antara aliran kapitalis, liberal, maupun neo-liberal, dalam tatanan praktisnya sama. Distribusi dan redistribusi juga alokasi kekayaan sulit untuk dikatakan akan merata. Karena, dari konsep yang terbangun dalam aliran-aliran tersebut meniscayakan bahwa pihak kaya punya hak penuh terhadap hak miliknya, tidak bisa diganggu-gugat.

Dampak Hedonis
Maka muncul berbagai pemikiran tentang misalnya, mengapa korupsi di Indonesia sangat sulit untuk dieliminasi. Jawaban yang terkait dengan kajian ini ialah bahwa budaya hidup hedonis sudah menjadi darah daging para birokrat, politikus dan pihak-pihak yang terkait dengan lembaga-lembaga pemerintah. Tidak hanya itu, ternyata korupsi tidak hanya terjadi di lembaga-lembaga pemerintah saja, tapi juga lembaga-lembaga non-pemerintah (NGO) tidak lepas dari kasus kronis itu. Sehingga, tentunya dengan rasa kesal, seorang seniman pun menuliskan dalam mural karyanya; “Satu Bangsa di Bawah Korupsi”. Begitu dahsyat realita yang bernama korupsi di negeri ini. Sebagai indikasi, kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Bank Century, kasus suap pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia, korupsi kehutanan, sampai kasus Nazaruddin belum kelihatan titik terangnya.

Perilaku hedonis juga berimplikasi pada budaya selfish, mengedepankan kepentingan individual dan menepis kepentingan sosial. Sehingga warna paham kapitalis secara kontras terlihat jelas. Seseorang yang individualis tentunya sibuk memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dibanding peduli dengan nasib orang lain yang tentunya belum mumpuni di bidang ekonomi. Padahal jika saja ia mengetahui bahwa perilakunya yang mengedepankan keinginan (want) dari pada kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup (needs) tidak akan mencapai tingkat efisiensi yang optimal. Lebih banyak mubazir alias membuang duit pada hal yang tidak bermanfaat (pleasure).

Sudah tentu sifat dan sikap suka berfoya-foya dilarang oleh agama Islam, karena secara langsung maupun tidak, bahkan dalam skala makro pun efisiensi ekonomi tidak akan tercapai secara optimal. Menjadikan hedonisme sebagai way of life (jalan hidup) dengan memberhalakan materi sebagai tujuan hidup sudah tentu akan berdampak pada hal dan perbuatan buruk dan tercela. Seperti kasus korupsi yang sudah disebut di atas. Dengan mengedepankan budaya materialis, seseorang lebih cenderung tidak lagi mengindahkan norma-norma yang ada. Akal sehatnya sudah tersumbat dengan paham untuk mengumpulkan (baca: menumpuk dan menimbun) harta sebanyak-banyaknya. Sehingga jalan untuk mendapatkan harta yang menjadi tujuannya itu tidak lagi berpijak pada nilai-nilai etis manusiawi.

Masalah konsumsi yang memberikan sumbangan dalam pertumbuhan ekonomi tidak hanya datang dari swasta, namun juga dari pemerintah, dan konsumsi pemerintahlah sebagai kontributor terbesar bila dibandingkan dengan konsumsi masyarakat. Lebih jelas lagi bila konsumsi berasaskan kebutuhan sebagai keniscayaan untuk diimplikasikan oleh umat Islam dibanding konsumsi hanya berdasarkan keinginan. Karena perilaku hedonis bermula dan bermuara dari konsumsi yang berpijak di atas dasar hawa nafsu. Bila dieksplorasi akar krisis yang sedang melanda Amerika (Adiwarman A Karim, 2011) dan beberapa negara di Eropa seperti Spanyol, Irlandia, bahkan Yunani, maka di satu sisi akan ditemukan bahwa negara-negara tersebut mengalami krisis karena perilaku hedonis yang sudah mendarah daging di jiwa negaranya dan penduduknya.

Negara-negara maju itu tentu terkenal dengan kemajuannya, dan kemajuan mereka tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi mereka tentunya tinggi, selain disumbang oleh faktor produksi, sektor konsumsi juga tentunya cukup berperan, baik konsumsi pemerintah maupun masyarakat. Dengan menyukai  sifat konsumtif yang tinggi, utang pun menjadi pilihan untuk memenuhi hasrat tersebut. Masyarakat dililit utang, pemerintahnya apalagi, lalu krisis pun terjadi secara pasti. Ujung-ujungnya, gaya hidup hedonis yang menjadi punca krisis mereka.***


Saiful Bahri
Dosen STIE Syariah Bengkalis. Editor : Rindra Yasin