Pemikiran Akidah Ulama Salaf
Rindra Yasin • Sabtu, 16 Juni 2012 | 07:21 WIB
Ulama Salaf (generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in) sepakat mengatakan bahwa mustahil bagi Allah memiliki sipat yang serupa dengan sipat makhluk.
Karena tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia (QS: al-Syura:11), dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia (QS: al-Ikhlas:4).
Namun begitu, Alquran itu mengandung ayat muhkamat (jelas makna dan maksudnya), dan ayat mutasyabihat (mempunyai beberapa pengertian). Dan ayat serta hadits mutasyabihat itu terkesan menyerupai Allah dengan mahkluk.
Diantaranya, Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arasy (QS: Thaha:5). Apakah pengertian bersemayam (istiwa’) itu duduk berdiam di Arasy?.
Padahal, duduk bertempat di suatu tempat itu adalah sipat makhluk. Begitu juga berbagai hadits mutasyabihat yang terkesan menyamakan Allah dengan sipat makhluk. Diantaranya hadits yang menyatakan Allah tertawa, turun, meletakkan kaki-Nya, dan lainnya.
Pemikiran Ulama Salaf
Mayoritas ulama Salaf itu bersikap diam, tidak menyibukkan diri membahas ayat dan hadits mutasyabihat, dan menyerahkan maknanya kepada Allah.
Mereka tidak mengatakan itu sebagai sipat, dan juga tidak mengatakan itu sebagai majaz atau makna kiasan. Pemikiran ulama Salaf ini disebut tafwidh.
Dan ulama Salaf menggunakan pemikiran tafwidh itu hanya kepada ayat dan hadits mutasyabihat yang terkesan bermakna kekurangan, penyerupaan, dan tajsim (menyerupakan Allah dengan tubuh makhluk).
Tapi ulama Salaf tidak melakukan tafwidh pada sipat maknawi. Karena sipat maknawi itu merupakan sipat kesempurnaan dan diketahui maknanya. Seperti sipat esa, hayat, ilmu, mendengar, melihat, kuasa, iradah, dan lainnya (Syaikh al-Yafi’i: al-Tajsim wa al-Mujassimah).
Diantara pemikiran ulama Salaf itu terlihat pada pernyataan Imam al-Zuhri (51H) dalam menanggapi ayat dan hadits mutasyabihat. Dia mengatakan, penjelasan ayat mutasyabihat itu ada pada Allah, kewajiban Rasulullah menyampaikannya, kewajiban kita hanya menerimanya (Imam al-Shabuni: Aqidah al-Salaf wa Ashhab al-Hadits).
Dan Imam al-Hasan sahabat Imam Abu Hanifah menegaskan, para ulama fiqh dari timur hingga barat sepakat mengatakan kewajiban beriman kepada ayat dan hadits mutasyabihat tanpa memberikan penafsiran (Imam al-Lalika’i: Syarh Ushul I’tikaq Ahl Sunnah).
Ketika Imam Malik (179H) ditanya pengertian bid’ah, dia menjelaskan bahwa bid’ah itu ialah orang yang membicarakan nama dan sipat Allah, mereka tidak mau diam sebagaimana para sahabat dan tabi’in (Imam al-Shabuni).
Dan sebagai murid Imam Malik, Imam al-Syafi’i (204H) pula mengatakan beriman dengan apa yang datang dari Allah, sesuai dengan maksud Allah. Beriman dengan hadits Rasulullah, sesuai dengan maksud Rasulullah (Imam Ibnu Qudamah: Zamm al-Ta’wil).
Pada kesempatan lain, Imam al-Syafi’i mengatakan, dia beriman dengan ayat al-istiwa’ tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk. Membenarkannya, tanpa membuat penyerupaan. Dan beliau tidak mau menceburkan diri membahas masalah itu.
Dan sejak awal Imam Abu Hanifah (150H) sudah menegaskan, seseorang mengatakan Allah itu di langit atau di bumi, maka rusak imannya. Karena dia menyamakan Allah dengan makhluk (Imam al-Izz bin Abd al-Salam: Hall al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz).
Bahkan, ketika Imam Hanbal bin Ishaq menanyakan penafsiran ayat dan hadits mutasyabihat kepada Imam Ahmad (241H). Lalu, Imam Ahmad marah dan menyuruhnya diam, dan memerintahkannya membiarkan apa adanya tanpa memberikan penafsiran (Imam al-Lalika’i).
Riwayat Dusta
Dalam kitab al-Uluw Lil Aliy al-Ghaffar karya Imam al-Zahabi, halaman 391 menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah mengatakan Tuhan bertempat di langit, itu adalah riwayat dusta. Karena perawinya pendusta dan pembuat hadits palsu, yaitu Nu’aim bin Hammad.
Di halaman 393 riwayat menyatakan Imam al-Auza’i dan para tabi’in berkeyakinan Tuhan itu bertempat di atas Arasy, juga riwayat dusta. Karena perawinya seorang pendusta, yaitu Muhammad Katsir al-Mushaishi.
Di halaman 397 riwayat yang mengatakan Imam Malik menyebut Tuhan ada di langit, juga riwayat dusta. Karena perawinya seorang pendusta, yaitu Abdullah Nafi’ al-Asham.
Di halaman 437 tertulis riwayat yang menyebutkan Imam al-Syafi’i menyatakan Tuhan berada di Arasy yang terletak di langit, juga riwayat dusta. karena perawinya seorang pendusta, yaitu Abu al-Hasan al-Hakkari.
Di halaman 457 riwayat dari Khilal menyatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan Allah di Arasy dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, juga riwayat yang diragukan kesahihannya.
Karena Khilal itu lelaki yang diragukan kejujurannya. Buktinya, kata Imam al-Zahabi (Siyar A’lam al-Nubala’:11/286) kitab al-Radd ‘Ala al-Jahmiyah itu bukan ditulis oleh Imam Ahmad.
Tapi, kata Imam al-Kautsari, kitab itu ditulis oleh al-Khilal dari riwayat lelaki yang tidak dikenal, yaitu al-Khidir bin al-Mutsna (Imam al-Zahabi: al-Uluw. Tahqiq: Hasan Ali al-Saqqaf).
Anehnya, Syaikh al-Albani sebagai ulama yang mendalami rijal al-hadits meringkas kitab al-Uluw Lil Aliy al-Ghaffar. Tapi, dia tidak mengkritisi kedudukan cerita dusta yang terdapat di dalamnya.
Sikap yang sama juga dilakukan penulis buku Manhaj al-Imam al-Syafi’i Fi Itsbat al-Aqidah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil.
Sesuai dengan pemikiran ulama Salaf, sikap umat dalam menghadapi ayat dan hadits mutasyabihat itu ialah, pertama al-taqdis, yaitu mensucikan Allah dari sipat yang menyerupai makhluk.
Kedua al-tasdiq, yaitu beriman kepada mutasyabihat. Ketiga al-i’tiraf, yaitu mengakui tidak punya kemampuan memahami maksudnya. Keempat al-sukut, yaitu tidak menanyakan maknanya.
Kelima al-imsak, yaitu tidak melakukan perubahan pada lafaz mutasyabihat. Keenam al-kaff, yaitu tidak memikirkannya. Ketujuh al-taslim, yaitu tidak berkeyakinan bahwa Rasulullah dan para ulama tidak mengetahui maknanya (Imam al-Ghazali: Iljam al-Awam ‘An Ilm al-Kalam). Wallahu a’lam.
Syamsuddin Muir, Lc, MADosen UIR, Pembina Kelas Kajian Kitab Kuning PWNU Riau
Editor : Rindra Yasin