Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Makna Festival Zhong Qiu

Rindra Yasin • Senin, 1 Oktober 2012 | 06:49 WIB
Salah satu perayaan tradisi Tionghoa adalah Festival Zhong Qiu  atau dikenal Perayaan Kue Bulan (Hokkian: Tiong Ciu Pia), berupa kue tahunan yang dibuat beraneka-ragam bentuk dan aroma. Kue ini dijumpai pada bulan kedelapan Imlek menjelang puncaknya bulan purnama tanggal 15 bulan 8 (Imlek) yang jatuh pada Ahad,  30 September 2012.

Kue bulan adalah kue yang bulat seperti bulan terbuat dari tepung yang khusus diolah oleh masyarakat Tionghoa yang mendunia. Di beberapa negara menyebutnya Mid Autumn Festival atau Festival Pertengahan Musim Gugur. Di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Cina (Tiongkok), negara asalnya, dirayakan dengan sangat semarak.

Fenomena alam dengan penanggalan Imlek saat ini telah memasuki Qiu Tian atau musim gugur, menurut budaya Tionghoa urutan festival (jie) dalam setahun terdapat empat musim, yakni musim semi (chun tian) sekitar FebruariApril. Musim semi dikenal dengan Festival Imlek.
 Kemudian musim panas (xia tian), sekitar Mei-Juli. Lalu  musim gugur (qiu tian) bulan Agustus-Oktober, dan musim dingin (dong tian) sekitar November- Januari.

Festival Zhong Qiu ini telah dirayakan oleh suku Tionghoa sejak jaman dahulu pada masa Dinasti Cina.  Menurut catatan sejarah sejarah, bangsa Tiongkok sudah mulai memberi penghormatan kepada para dewa  yang dianggap suci pada  Dinasti Song (1127-1279) dan dimulainya tradisi merayakan pesta setelah  panen  sebagai ungkapan rasa syukur para petani kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta, maka dibuatlah kue bulan yang bulat melukiskan bulan  dengan sajian untuk menghormati Dewi Bulan dan dimakan bersama-sama.

Pada masa akhir Dinasti Yuan ( 1271-1368) sudah sangat dikenal Festival Kue Bulan  (Zhong Qiu Jie). Pada masa itu bangsa Mongol berkuasa di Cina dan sangat kejam pada rakyat Cina.
Ketika itu terjadi peperangan melawan orang Mongol, maka dengan meminjam tradisi kue bulan pada musim gugur  ini mereka menyampaikan   pesan-pesan tertulis di secarik kertas dalam kue tersebut mengenai cara melawan dan menyerang bangsa Mongol yang telah direncanakan dengan baik.

Tepat pada bulan delapan Imlek, kue-kue bulan inipun menyebar sampai ke rumah-rumah bangsa Cina yang tertulis harus di belah sebelum dimakan, maka pesan surat di dalam kue inipun menyebar tanpa ada yang mencurigainya.

Bangsa Mongol akhirnya dapat ditaklukkan bangsa Cina tanpa banyak perlawanan. Dari kemenangan ini maka mulailah bangkit Dinasti Ming ( 1368 -1644). Pada dinasti ini, Festival Kue Bulan  sangat populer dirayakan,  untuk mengenang keberhasilan nenek moyang bangsa Cina yang telah membebaskan diri dari penjajahan Mongol. Kue bulan bermakna simbolik hidup harmonis, kebebasan, dan kedamaian masyarakat Tiongkok ketika itu.

Makna lain Festival Zhong Qiu ini juga berhubungan dengan legenda Chang–E, seorang Dewi yang kembali ke Bulan pada pertengahan musim gugur, maka momen ini digunakan untuk menikmati indahnya Bulan di malam purnama sambil menikmati kue bulan.

 Pada tanggal 15 bulan 8 (Imlek)  ini  juga diperingati hari besar bakti-puja Bodhisatva Dewi Bulan (Yue Hui Phu Sa). Momen ritual kue bulan sebagai rasa syukur dan simbol persatuan manusia dengan alam, karena kue yang disajikan  bernilai budaya spiritual. Di keluarga Tionghoa  Buddha,  kue bulan dipersembahkan untuk sajian sembahyang (bakti puja) kepada Tuhan, Buddha, dan Bodhisatva tepat pada bulan purnama.

Makna spiritual dari Festival Kue Bulan dapat dijadikan semangat untuk memperkaya pembinaan batin dan memperbaiki moral kebajikan seseorang sebagai momen untuk meningkatkan dana (amal), budi pekerti dan nilai budaya hidup yang selaras, serasi, kekeluargaan, dan harmonis, keselarasan manusia dengan alam dan keharmonisan antar sesama manusia.

Masyarakat Tionghoa Buddha pada momen ini melaksanakan upacara sembahyang syukuran bersama di vihara, kelenteng maupun cetya  dan rumah masing-masing pada tanggal 15 bulan 8 ( lunar  Imlek) bulan purnama Pue Gwe Cap Go, dengan pemasangan  lampion/lentera bergambar Dewi Bulan (Zhong Qiu) di depan rumah atau di jalan.

Di Riau, Pekanbaru khususnya, festival ini dirayakan dengan penuh makna material dan spiritual,  seperti pawai budaya kue bulan, atraksi barongsai, pawai lampion,  makan kue bulan bersama dengan tujuan untuk membangun persaudaraan, kebersamaan dan kerukunan masyarakat.***


Sonika
Tokoh Buddhis ,Dosen dan Dewan Pakar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Riau. Editor : Rindra Yasin