Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Rindra Yasin • Kamis, 11 September 2014 | 09:39 WIB
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan kerana budi
Tinggi bangsa kerana bahasa


Pantun berbahasa Melayu itu tak hanya indah disimak, melainkan juga dipelajari lebih jauh. Dalam konteks pendidikan bahasa di perguruan tinggi (PT), sejumlah PT di Cina telah menyadari hakikat dari pantun dan peribahasa “Bahasa menunjukkan bangsa”—seperti halnya judul artkel ini. Pertanyaannya kini, seberapa serius PT di Cina dalam mengurusi pendidikan bahasa, terutama bahasa-bahasa bangsa Asia Tenggara, termasuk Indonesia?

Di Cina, saya catat ada enam universitas yang memiliki program studi/jurusan Bahasa Indonesia. Enam universitas itu, antara lain, Beijing Foreign Studies University (BFSU), Peking University (PKU), Guangdong of Foreign Studies University (GDUFS), Shanghai International Studies Univerity (SHISU), Guangxi University for Nationalities (GXUN), dan Yunnan University for Nationalities (YUN).

Keseriusan yang sama juga terlihat dari banyaknya universitas di Cina yang memiliki program studi bahasa-bahasa bangsa Asia Tenggara lainnya, selain Indonesia. Di BFSU, ada program studi Bahasa Thailand, Bahasa Melayu, Bahasa Kamboja, Bahasa Vietnam, Bahasa Myanmar, dan Bahasa Filipina. Sedangkan di GDUFS terdapat program studi Bahasa Vietnam, Bahasa Thailand, dan Bahasa Melayu. Kesemuanya merupakan program studi jenjang sarjana (S1).

Sementara itu, di GXUN —tempat saya mengajar kini— lebih lengkap. Di sana terdapat program studi Bahasa Melayu, Bahasa Myanmar, Bahasa Laos, Bahasa Vietnam, Bahasa Kamboja, dan Bahasa Thailand, minus Bahasa Filipina dan Bahasa Brunei Darussalam. Seperti di BFSU dan GDUFS, kesemuanya merupakan program studi jenjang sarjana (S1). Lantas, jika Anda bertanya bagaimana untuk jenjang pascasarjana, khususnya magister dan doktor?

Di PKU, terdapat program studi Bahasa dan Kesusastraan Indonesia jenjang S2 dan S3. Sementara itu, di BFSU, ada jenjang S2 Bahasa dan Kesusastraan Asia-Afrika, dengan minat konsentrasi Indonesia. Begitu pun di Xiamen University. Uniknya, tatkala sejumlah dosen lokal Bahasa Indonesia menempuh doktoral di Xiamen University, topik-topik disertasi yang dipilih justru tak sekadar berurusan dengan bahasa, tetapi juga aspek kebudayaan Indonesia.

Perihal staf pengajar atau pakar bahasa juga tak kalah menarik untuk diperbincangkan di sini. Di GXUN, kesemua program studi bahasa asing, termasuk Bahasa Indonesia, memiliki staf pengajar/pakar asing. Di program studi Bahasa Melayu, ada Ibu Noraini binti Abdul Hamid dari Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuala Lumpur. Begitu pula di BFSU, khususnya program studi Bahasa Melayu hadir Prof Dr Awang Sariyan.

Di BFSU, ada staf pengajar lokal, Prof. Wu Zong Yu, yang telah menerima penghargaan berupa doktor kehormatan dari Universiti of Malaya (UM) atas jasa-jasanya yang telah mempromosikan bahasa Melayu di Cina. Masih di kampus sama, ada pula Prof Wu Wenxia, seorang pensiunan guru besar Bahasa Indonesia, yang pernah memimpin Pusat Indonesia (Indonesia Center) hingga terkemuka seperti sekarang.

Dulu, hanya PKU dan BFSU yang baru memiliki program studi Bahasa Indonesia di Cina. Kini, seiring dengan memulihnya hubungan diplomatik Indonesia-Republik Rakyat Cina (RRT), terutama sejak era 1990-an hingga saat ini, terjadi penambahan universitas yang memiliki program studi Bahasa Indonesia. Tak terkecuali kampus swasta seperti Xiangsihu College yang terletak di Kota Nanning, Provinsi Guangxi.

Fakta-fakta di atas cukup menyiratkan sejumlah catatan menarik sebagai berikut. Pertama, keseriusan pihak PT di Cina dalam mengembangkan pendidikan bahasa asing, khususnya bahasa-bahasa bangsa Asia Tenggara, patut diacungi jempol. Betapa tidak, mereka betul-betul serius dalam mendidik generasi muda Cina, khususnya yang memiliki bakat dan kemampuan dalam berbahasa asing secara baik dan profesional.

Kedua, keseriusan dan perhatian kita terhadap perkembangan bahasa Indonesia di Cina perlu diwujudkan secara nyata. Misalnya, pemberian penghargaan berupa doktor honoris causa (Dr HC) kepada Prof Wu Wenxia, atas jasa-jasanya yang telah mempromosikan bahasa Indonesia di Cina. Atau, penyelenggaraan seminar perkembangan bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri yang didukung oleh PT, Badan Bahasa, dan universitas di Cina.

Maka, tak ada salahnya jika salah satu PT kita, terutama yang memiliki program studi Bahasa Indonesia, untuk menganugerahkan hal serupa kepada pakar bahasa Indonesia asal Cina. Ini merupakan salah satu wujud nyata dari peribahasa kita, “Bahasa menunjukkan bangsa”.***


Sudaryanto
Dosen di Guangxi University for Nationalities, Nanning, Cina Editor : Rindra Yasin