Lebih kurang tiga pekan berada di negeri sakura Jepang, rasanya banyak nilai-nilai yang bisa kita petik dalam perjalanan ini meskipun belum bisa disimpulkan secara keseluruhan. Salah satu nilai-nilai tersebut adalah ”budaya baca” mereka cukup tinggi sehingga tak ada keraguan untuk menilai bahwa hasrat membaca (habitual reading) warga Jepang memang sudah menjadi budaya dan tidaklah mengherankan kalau peradaban mereka sangat tinggi.
Hasrat membaca masyarakat Jepang yang sangat tinggi tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Bisa kita saksikan sendiri ketika penulis berkunjung ke negeri sakura ini bahwa di manapun mereka berada: stasiun, terminal bus, di dalam kereta, di dalam bus, di dalam pesawat banyak di antara mereka yang membaca. Bahkan di dalam kereta api listrik yang melaju sangat kencangpun mereka tetap membaca.
Bagi orang seperti penulis yang baru pertama kali ke Jepang tentulah hal yang sangat menakjubkan dan tercengang menyaksikan kultur masyarakat Jepang yang bisa dikatakan sangat gila membaca. Jika sudah membaca maka apapun yang ada di hadapannya seolah tak diperdulikan. Jarang sekali ada orang Jepang yang pengangguran mengobrol atau bermain gadget, karena memang mereka lebih suka membaca koran, komik, ataupun buku.
Bahkan mereka tak peduli sekalipun harus membaca sambil berdiri. Barangkali kalau kita yang berdesak-desakan di dalam kereta atau bus akan sibuk mengawasi dompet atau tas bawaan. Apa yang terjadi dengan masyarakat Jepang sungguh di luar nalar. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu perjalanannya dengan membaca.
Menyinggung tradisi membaca masyarakat Jepang pastinya tak bisa dilepaskan dari komik atau dalam bahasa Jepangnya disebut manga. Komik Jepang tak hanya dikenal luas secara nasional tapi juga mendunia. Beberapa komik terkenal asal Jepang seperti Naruto, Dragon Ball, Detektif Conan, Area 88, Death Note dan lainnya. Komik-komik tersebut dalam beberapa dekade sangat digemari oleh masyarakat dunia.
Bahkan di Jepang ada istilah Tachiyomi. Apa itu Tachiyomi? Tachiyomi berasal dari dua kata yaitu tachimasu yang berarti berdiri dan yomimasu yang berarti membaca, jika dua kata ini digabungkan menjadi Tachiyomi, maka dapat diartikan sebagai membaca sambil berdiri. Yah masyarakat Jepang memang terkenal dengan budaya bacanya mulai dari sejak TK sampai usia lanjut. Bukan hanya anak muda, tapi usia lanjut juga sangat senang membaca bahkan salah satu mantan Perdana Menteri Jepang, Taro Aso hingga saat ini merupakan pecinta manga (komik Jepang).
Bisa dibilang, Jepang merupakan macan Asia, di mana segala kemajuan, mulai dari kemajuan perekonomian hingga teknologi, berjalan sangat pesat. Pada dasarnya, kemajuan yang dicapai Jepang pada saat ini merupakan buah dari kerja keras pemerintah Jepang untuk membangun budaya literasi yang dimulai sejak dari bangku sekolah dasar.
Harian nasional Jepang terbitan Tokyo, Yoshiko Shimbun mengulas kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun. Para ahli pendidikan Jepang mengakui bahwa pola kebiasaan yang diterapkan ini terlalu bersifat behavioristic, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun, pembiasaan yang dilakukan dari tingkat sekolah dasar dinilai cukup efektif, karena dilakukan pada anak-anak sejak usia dini.
Awalnya, pelaksanaan regulasi tersebut memang sulit dilakukan, mengingat para murid memiliki latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda. Namun, karena pola pendidikan di Jepang didesain sedemikian sehingga berkesinambungan dengan pola pendidikan di rumah, sehingga dalam pelaksanaannya, orangtua juga proaktif mengembangkan kebiasaan baca di sekolah.
Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama anak-anak sekolah dasar diwajibkan membaca buku apapun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah. Tidak hanya itu, pola pendidikan di Jepang juga dibuat untuk mendorong siswa agar aktif membaca, seperti mempresentasikan karya sastra klasik, membuat kelompok story telling berdasarkan buku yang telah dibacanya untuk kegiatan amal yang berlangsung pada akhir tahun pelajaran. Saat ini peraturan ini memang tak seketat ketika pertama kali diterapkan. Banyak sekolah yang tidak menyebutkan peraturan tersebut secara tertulis. Namun demikian, budaya baca yang telah tertanam pada pelajar di Jepang rupanya membuat siswa-siswa ini secara sadar dan mandiri membuka ruang-ruang diskusi ilmiah informal di luar jam pelajaran mereka, dengan salah satu agendanya adalah membahas banyak buku-buku yang tengah terbit ataupun fenomenal.
Di era digital seperti sekarang, kegiatan membaca beralih melalui gadget. Di Jepang, internet ada di mana-mana di tempat-tempat publik, bahkan di atas kereta pun ada, maka membaca tulisan daring pun tetap dilakukan. Sungguh budaya baca yang sangat luar biasa bagi orang Jepang.
Di negera kita, membaca belum menjadi budaya, bahkan minat baca kita baru 0,01 persen. Memang era ponsel dan gadget membuat perilaku orang Indonesia berubah, mereka memang lebih suka mengotak-atik ponsel atau gadget lainnya, tetapi kebanyakan digunakan untuk main game atau untuk social networking. Maka tidak heran aplikasi social networking seperti Facebook, Twitter, BBM, WhatsApp, dan lain-lain sangat populer dan laris di negara kita. Soal hubungan sosial orang kita memang juaranya, beda dengan orang Jepang yang kaku dalam berelasi sosial.
Orang kita memang patut mencontoh orang Jepang dalam budaya membaca. Budaya membaca adalah indikator kemajuan sebuah bangsa.***
Muhammad Tawwaf
Pegawai Perpustakaan UIN Suska Riau Editor : Rindra Yasin