Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kepahlawanan Bukan Milik Individu

Rindra Yasin • Senin, 9 November 2015 | 16:13 WIB
RIAUPOS.CO - Peristiwa 10 November 1945 yang terjadi di Surabaya, bukan sekadar sebuah drama perjuangan yang merupakan milik individu. Meski yang jadi tokoh dan pemeran utama adalah bersifat person. Namun perjuangan yang dilakukan melibatkan banyak orang. Bahkan dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Baik nyawa, darah dan air mata. Begitu juga harta, tidak terbilang ikut mendukung kepahlawan dalam pertempuran antara para pejuang Indonesia melawan kaum kolonialis Belanda yang menumpang  pendaratan pasukan sekutu (Inggris).
Kejadian yang juga dikenal dengan perjuangan “arek-arek Suroboyo”, merupakan rentetan pertempuran yang dahsyat.

Sebelumnya tentara sekutu, melakukan provokasi atas tewasnya Brigadir Jendral Mallaby yang menuduh beberapa pejuang Indonesia menembak  perwira tinggi Inggris itu. Padahal suasana dalam keadaan gencatan senjata. Demikian pula, tidak jelas siapa pemicu (trigger) nya.

Maka jadilah pertempuran meluas. Kolonialis Belanda yang awalnya membonceng pendaratan sekutu, kemudian mengadakan kontak senjata dengan para pejuang. Peristiwa pertempuran yang terjadi di Surabaya, menyulut semangat pejuang Indonesia. Akhirnya tentara kolonialis Belanda dan sisa pasukan Inggris berhasil dipukul mundur, meski dengan korban yang tidak sedikit.

Dampak kejadian heroik dan dramatis, menjadi kenangan bagi sejarah perjuangan Indonesia. Gemanya terasa kemana-mana. Peristiwa 10 November diperingati setiap tahun. Namun apa yang dilakukan tokoh-tokoh pejuang yang memimpin pertempuran, tidak semata-mata karena kebesaran nama-nama tokoh di belakangannya. Adanya kebersamaan dan tanggung jawab membela tanah air merupakan unsur terpenting.

Provinsi Riau
Bagi Provinsi Riau, peristiwa 10 November mempengaruhi perjuangan mempertahakan dan mengisi kemerdekaan. Tahun-tahun tegaknya Negara Kesatuan RI (NKRI) menjadi semangat yang tak padam. Apalagi usai terjadinya pemberontakan PRRI, G-3O-S/PKI periode 60-an mewarnai suasana ketertiban dan keamanan.

Muncul Letkol Kaharuddin Nasution yang kemudian menjadi Gubernur Riau. Gagasan dan ketegasan wibawanya, membawa pengaruh yang sangat berarti, Pemerintahan dibenahi dengan mengikuti struktur birokrasi  benar. Meski masih terlihat kekurangan akibat terbatasnya waktu, personalia dan dana.” Dalam situasi seperti itu, Kaharuddin berani mengambi alih tanggung jawab,” kata T Muchtar Anom, tokoh masyarakat Melayu Riau yang lama mengikuti sepak terjang mantan Komandan RPKAD tersebut.

Menurutnya perkembangan Riau menjadi provinsi yang besar tidak lepas adanya spirit kepahlawanan. Provinsi Riau mempunyai blue print yang merupakan upaya membenahi pendidikan, infrastruktur dan arah profesionalisme pegawai negeri. Kaharuddin mengajarkan agar soal dana pembangunan yang sulit, jangan selalu jadi kendala berkepanjangan dalam membangun daerah.

 Kaharuddin menjadikan pers mitra pemerintah dalam melakukan sosial kontrol. Dalam perjalanan tahun-tahun selanjutnya sampai kini, gagasan itu sesuai dengan pemikiran Ketua Dewan Pers, Prof Dr Bagir Manan SH MCL mengenai tantangan yang dihadapi pers Indonesia. Dalam buku berjudul Tantangan Pers Indonesia setebal 248 halaman, Bagir Manan menyoroti masa transisi yang menjadi masa kekeliruan atau penyimpangan.

“Transisi membenarkan ketidaknormalan, sesuatu yang mengandung kesewenang-wenangan dan membentuk tingkah laku tidak normal. Karena itu, tidak layak berpanjang-panjang dengan masa transisi,” tuturnya. Dalam kaitan ini, contoh Riau membangun melalui beberapa tahapan yang dirintis Kaharuddin perlu dilhat dari perspektif obyektif .  

Sudah barang tentu ada trial and error. Tapi itulah keberanian berbuat merupakan awal perubahan dan semangat kepahlawanan.

Tantangan Kepahlawnan
Bicara tentang tantangan kepahlawanan kini, tentu berbeda dengan masa silam. Selain itu, nilai yang dicapai tidak melulu berkaitan dengan kondisi fisik semata. Karena saat ini nilai ideal, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi syarat mustahak. Sehingga apa yang dicapai sekarang, tidak serupa dengan “zaman baheula” (zaman dahulu). Tetapi yang tidak boleh dilupakan, spirit kemerdekaan sangat membawa perubahan besar.

Sebab tanpa menjadi negara merdeka, dengan para pemimpin yang berlatar belakang pendidikan tinggi, mustahil terjadi perubahan spektakuler bagi bangsa yang tengah membangun di berbagai aspek.

Memaknai hari pahlawan, generasi muda sekarang harus berlajar lebih tekun dengan menjauhi hal yang kurang baik seperti narkoba, pergaulan bebas dan hidup berfoya-foya. Semangat pahlawan tidak lahir begitu saja, tetapi dengan berbagai kesungguhan dan upaya terus menerus. Prestasi dalam cabang-cabang olahrga, keunggulan ilmu pengetahuan tertentu dalam lomba bertaraf nasional maupun internasional, akan membuat generasi Indonesia kukuh.

Tepatlah jika kita renungkan, kepahlawan bukan milik indvidu. Namun kepahlawan menjadi kuat, karena adanya dukungan individu, para guru dan pelatih. Peran orang tua, jelas mengawasi apa yang hendak dicapai agar tidak salah sasaran.*** Editor : Rindra Yasin