RIAUPOS.CO - Bertitik tolak dari pandangan bahwa suatu bangsa beranjak dewasa dan besar bila bangsa itu mengenal dengan baik sejarahnya termasuk sejarah dari para pahlawannya. Berdasarkan hal itu pulalah Perang Tuanku Tambusai dalam melawan penjajahan Belanda yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama dan meliputi areal yang luas di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Riau khususnya di Dalu-Dalu Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau menjadi sangat penting demi menemukan dan mengangkat marwah dan jati diri bangsa Indonesia.
Pekerjaan ini tidaklah mudah karena di samping menghimpun data dan fakta sebagaimana adanya, juga harus mampu mewujudkan secara monumental yang bukan hanya menjadi milik dan kebanggaan rakyat Riau tetapi menjadi monumental nasional menjadi milik dan kebanggaan Bangsa Indonesia.
Penulis teringat peristiwa 27 tahun yang lalu sewaktu berdialog dengan H Moh Said mantan Pemimpin Harian Waspada Medan yang telah menulis tentang Tuanku Tambusai di Harian Waspada, Medan pada 1988, untuk itu sengaja penyunting berkunjung di rumahnya di Sungai Buluh Tebing Tinggi Sumatera Utara saat persiapan Seminar Sejarah Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Riau, yang diadakan di Medan 30-31 Mei 1988. Beliau mengatakan: “upaya menemukan data dan fakta sejarah para pejuang adalah bak mengangkat batang terendam di dalam lumpur”.
Artikel ini pada hakikatnya usaha sebagian kecil dari pekerjaan bersama yang besar untuk mengangkat kembali batang terendam yang ada di tebing Sungai Batang Sosah, Dalu-dalu, yang ada di Sumatera Barat khususnya sekitar Rao dan di Sumatera Utara khususnya di daerah Mandailing meliputi Mandailing Natal, Padang Lawas sampai perbatasan Provinsi Riau. Yang paling membesarkan hati ialah terlibat aktifnya tiga etnis suku bangsa yaitu Melayu, Minangkabau, dan Mandailing yang saling bahu membahu.
Silsilah Haji Mohamad Saleh Gelar Tuanku Tambusai (Harimau Rokan) sering disebut Fakih Saleh, lahir di Dalu-dalu. Ayahnya Imam Maulana Kadhi bin Ibrahim gelar Sutan Malenggang, berasal dari Rambah dan oleh Yang Dipertuan Besar Raja Tambusai ke-14, diangkat sebagai imam di Tambusai. Ibunya bernama Muna berasal dari Tambusai, suku kandang Kopuh.
Kapan dan tahun berapa Mohammad Saleh ini lahir tidak ada catatan yang menyebutkannya, tetapi Putri Minerva dalam makalahnya berjudul: “Tuanku Tambusai, Harimau Paderi dari Rokan Riwayat dan Perjuangannya Melawan Belanda menyebutkan MOParlindungan di dalam bukunya Tuanku Rao (1964:69) menulis pada tahun 1811, Mohammad Saleh telah berusia 27 tahun, berarti Mohammad Saleh dilahirkan pada tahun 1784.
Lebih jauh lagi Putri Minerva mengemukakan bahwa yang telah dipertahankan oleh Tuanku Tambusai selama sebelas bulan, kini harus ditinggalkan. Setelah semua penghuni diungsikan melalui pintu rahasia, barulah Tuanku Tambusai beserta keluarga dan pengawalnya yang setia meninggalkan benteng itu. Pada waktu beliau naik ke dalam perahu di tepi Sungai Sosa, pasukan Belanda yang telah dipersipkan untuk mengintai di sana, segera melepaskan tembakan ke arah rombongan beliau. Mengetahui bahaya yang mengancam itu, mereka semua berusaha menyelamatkan diri dengan terjun ke dalam sungai.
Mereka yang selamat segera berkumpul di rimba Mahato lalu meneruskan perjalanan ke Kota Pinang. Akhirnya dari Labuhan Bilik mereka menyeberang ke Melaka dan menetap di Negeri Sembilan. Tuanku Tambusai meninggal di sebuah kampung kecil sembilan batu jauhnya dari Rasah, daerah Seremban, ibu negeri seri menati. Pendapat dan penjelasan tentang hari tua Tuanku Tambusai diperkuat oleh Fatimah SU dalam makalahnya “Kepahlawanan Tuanku Tambusai sebagai Patriot Bangsa Cendekiawan dan Tokoh Ulama”.
Sikap dan Kepribadian
Bagaimana sikap dan kepribadian Tuanku Tambusai sebenarnya sebagai pejuang dan pemimpin masyarakat yang dikunjunginya, ada baiknya kita petik catatan yang dikutip oleh Tengku Lukman Sinar SH, dari buku yang ditulis oleh Dr FM Schnitger yang berjudul Forgotten Kingdom in Sumatera” yang isinya antara lain: “Beliau bagaikan seorang pemimpin yang diutus Tuhan. Ia selalu berlaku lemah lembut dan memimpin secara adil dan selalu dihormati oleh pengikutnya. Ia selalu membahagiakan rakyatnya dan selalu menepati janji. Suatu saat ia siap menghunus pedangnya memimpin peperangan dan menyimpannya kembali ketika perang telah usai sehingga membuat daerahnya menjadi aman dan tentram.”
Beberapa hal penting yang layak diteladani: Pertama, Tuanku Tambusai terlahir bernama Muhammad Saleh, ayahnya berkedudukan sebagai “kadhi” dalam kerajaan Tambusai. Tuanku Tambusai pernah memperdalam pengetahuan agama di Minangkabau dan Makkah. Setelah kembali ke kampung halamannya dan setelah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kadhi, ia mulai mencetuskan pikiran. Pembaharuan di bidang keagamaan Islam. Baginya kegiatan Islam, bukan hanya terfokus dalam hal ubudiyah di surau-surau saja, tetapi seharusnya juga langsung ke tengah kehidupan masyarakat dalam bentuk muamalah.
Kedua, Tuanku Tambusai dapat menyatukan pengikut-pengikutnya dari tiga kelompok etnis yang berbeda yakni kelompok etnis Melayu, Mandailing dan Minangkabau yang mendiami tiga wilayah yang berlain-lainan. Sehingga dari segi lain dapat dilihat bahwa Tuanku Tambusai bertempur melawan Belanda di tiga wilayah yang secara administratif termasuk bagian dari provinsi Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Ketiga, beliau memiliki semangat dan militansi perjuangan yang tinggi. Demikian pula kecerdasan dan naluri perangnya yang selalu dapat membaca strategi musuhnya, tidak pernah melakukan kompromi, tidak pernah dapat ditangkap atau ditawan oleh Belanda.
Keempat, sikap dan kepribadian Tuanku Tambusai sebagai pejuang dan pimpinan masyarakat ada baiknya kita petik catatan yang ditulis Dr FM Schnitger dalam bukunya yang berjudul: Forgotten in Sumatera yang isinya antara lain: “Beliau bagikan seorang pemimpin yang diutus Tuhan, ia selalu berlaku lemah lembut dan memimpin secara adil dan selalu dihormati oleh pengikutnya; ia suatu saat siap menghunus pedangnya memimpin peperangan dan menyimpannya kembali bila perang telah usai sehingga membuat daerahnya menjadi aman dan tentram.
Kelima, ia hijrah ke semenanjung Malaya, peranan dan kepribadian selalu menjadi buah bibir simpati masyarakat, sebagai pemimpin ia tetap dikagumi tanpa cela. Ia hijrah tanpa sikap kompromi terhadap penjajahan Belanda. Sikap ini dibawanya sampai akhir hayatnya, demi marwah bangsa .
Rekomendasi
Ada beberapa hal yang layak direkomendasikan. Pertama, pemugaran Benteng Tujuh Lapis dari benteng perang Tuanku Tambusai yang terletak di Dagu-dagu adalah suatu upaya yang patut didukung semua pihak untuk menemukan kembali dan memosisikan marwah bangsa melawan penjajah kolonial Belanda.
Benteng yang hendak dipugar itu hendaklah mencerminkan suatu benteng yang tangguh pada masa lalu di mana tentara Belanda memerlukan perang yang optimal untuk dapat merebutnya.
Di dalam benteng tersebut hendaknya dilengkapi dengan bangunan “diorama” yang mampu menggambarkan sikap Tuanku Tambusai, sikap dan kepribadian, serta keperkasaannya dalam perang yang dipimpin pada wilayah-wilayah yang secara administratif sekarang termasuk Provinsi Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Perlu juga dibangun makam para syuhada yang gugur dalam mempertahankan Benteng Tujuh Lapis.
Kedua, sudah saatnya pula kiranya pemerintah mengabadikan nama Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai pada kapal perang, mata uang kertas rupiah dan nama jalan di ibu kota Republik Indonesia Jakarta dan di setiap ibu kota provinsi seluruh Indonesia.*** Editor : Rindra Yasin