Gigi bungsu adalah gigi geraham ketiga yang terletak di sudut bagian paling belakang di rahang atas dan bawah sisi kiri maupun kanan. Gigi bungsu merupakan gigi yang tumbuh paling terakhir dan biasanya muncul pada usia 17 hingga 21 tahun. Tidak semua orang memiliki benih gigi bungsu, atau jumlahnya bisa kurang dari empat gigi.
Gigi bungsu dapat menimbulkan masalah apabila struktur rahang terlalu kecil untuk tempat pertumbuhannya. Karena tumbuh paling terakhir, ruang yang tersisa untuk tumbuhnya gigi bungsu kurang dari yang dibutuhkan, sehingga gigi tidak dapat tumbuh sempurna.
Gigi dapat hanya tumbuh sebagian, tumbuh miring ke arah gigi sampingnya, atau bahkan tidak tumbuh sama sekali karena terbenam di dalam gusi ataupun tulang rahang disekitarnya sehingga pertumbuhannya tidak sempurna. Keadaan ini yang disebut impaksi gigi.
American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMFS) dalam buku elektroniknya yang berjudul Wisdom Teeth menyatakan bahwa 9 dari 10 orang memiliki setidaknya satu gigi impaksi. Kondisi gigi impaksi merupakan kondisi yang lazim terjadi, yaitu berkisar antara 0,8-3,6 persen dari total populasi secara umum. Impaksi gigi geraham ketiga memiliki prevelansi terbesar, yaitu antara 16,7 persen hingga 68,6 persen dan diperkirakan sekitar 65 persen populasi manusia di dunia mempunyai sedikitnya satu gigi geraham impaksi.
Masalah impaksi gigi bungsu merupakan fenomena umum saat ini yang sering dikeluhkan masyarakat. Pada beberapa orang gigi bungsu dapat tumbuh secara normal, sama seperti gigi geraham lainnya dan tidak menimbulkan masalah. Namun disisi lain ada beberapa orang yang mengalami impaksi gigi bungsu, yaitu ketika gigi bungsu tidak punya cukup ruang untuk tumbuh didalam mulut secara normal. Gigi bungsu yang impaksi dapat tumbuh sebagian atau bahkan tidak tumbuh sama sekali.
Ketika posisi tumbuhnya gigi bungsu miring atau tidak normal, hal ini dapat menimbulkan masalah di kemudian hari seperti karies gigi (gigi berlubang) dikarenakan gigi bungsu tumbuh miring ke arah gigi geraham disebelahnya sehingga makanan sering terselip, menjadi tempat berkumpulnya debris dan bakteri akibat sulitnya pembersihan.
Selain itu bisa menimbulkan infeksi atau peradangan gusi disekitarnya. sehingga menyebabkan gusi bengkak, rasa sakit, dan bau mulut. Gigi bungsu yang hanya tumbuh sebagian juga bisa menimbulkan sakit kepala atau migrain, telinga berdengung, gigi depannya menjadi berjejal bahkan bisa menyebabkan timbulnya tumor atau kista.
Jika infeksi tidak ditangani lebih lanjut, impaksi gigi dapat menyebabkan kerusakan lebih luas pada rahang dan gigi terdekatnya. Gigi bungsu dengan keadaan tumbuh miring ini juga dapat mengganggu fungsi pengunyahan. Perlu diketahui bahwa tidak semua gigi bungsu memerlukan pengangkatan atau pencabutan.
Jika gigi bungsu dapat tumbuh dengan normal, tidak berdampak buruk pada gigi terdekatnya dan jaringan disekitar gigi maka gigi bungsu dapat dipertahankan di dalam mulut. Bila masalah akibat gigi impaksi ini mengganggu, maka perlu dilakukan pencabutan atau dikenal dengan Odontektomi.
Odontektomi merupakan operasi kecil untuk mengangkat gigi impaksi, yang umumnya dilakukan oleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Sebelum dilakukan pencabutan, gigi yang impaksi perlu difoto rontgen terlebih dahulu untuk memeriksa bentuk dan posisi gigi pada tulang rahang. Setelah gigi bungsu yang bermasalah dicabut, biasanya keluhan-keluhan akibat gigi bungsu akan hilang.
Berbagai akibat yang ditimbulkan dari impaksi gigi bungsu menjadi alasan bahwa jika mengganggu, gigi tersebut kebih baik diangkat daripada dipertahankan dalam rongga mulut. Semakin cepat diangkat semakin baik sebelum timbul rasa sakit lebih lanjut.
Bila menunggu sampai timbul rasa sakit dan keluhan lainnya, risiko terjadinya komplikasi pada saat pengangkatan tentunya akan lebih tinggi dan proses penyembuhan akan lebih lama. Oleh karena itu, jika memiliki keluhan pada gigi bungsu, masyarakat diharapkan segera lakukan konsultasi ke dokter gigi agar tidak mengakibatkan masalah yang serius.***
Editor : Rindra Yasin