Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pekanbaru Perlu Drainase Terstandarisasi dan Terintegrasi

Rindra Yasin • Jumat, 22 Desember 2023 | 09:58 WIB
Photo
Photo

Kota Pekanbaru kembali sering mengalami hujan lebat dari pagi hingga sore hari. Berdampak terjadinya musibah banjir di sebagian wilayah kota dan menggenangi jalan. Banyak kendaraan mengalami mogok dan merusak jalan aspal. Musibah yang menjadi langganan masyarakat dan seakan-akan tidak ada solusi konkrit untuk penyelesaiannya. Menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat dari harta, benda maupun nyawa. 

Padahal bila ingin serius untuk menyelesaikan masalah banjir ini oleh pemerintah Pekanbaru dan provinsi Riau tentunya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Asalkan punya komitmen yang kuat dan kontinuitas program penanganan masalah banjir. Apalagi masyarakat sudah mempunyai partisipasi yang tinggi untuk bisa bersama-sama menuntaskan masalah banjir.

Bila kita sering melintasi dalam kota, maka banyak dilihat sungai yang membelah Pekanbaru, seperti Sungai Siak yang merupakan sungai primer dan menjadi muaranya Sungai Sail, Sungai Air Hitam, Sungai Sago dan sungai kecil lainnya. Terdapatnya sungai-sungai ini tentu menjadi modal utama dalam manajemen pengelolaan banjir. Kota Pekanbaru merupakan wilayah yang kontur tanahnya relatif datar yang tidak memungkinkan air mengalir lebih cepat menuju sungai. 

Kondisi ini membuat derasnya air hujan yang turun tidak sebanding dengan pergerakan air menuju sungai primer. Air hujan seolah-olah berkumpul menunggu antrian untuk dapat berjalan menuju muara sungai. Di mana tempat berkumpulnya air selalu bersinggungan dengan pemukiman masyarakat. Dikutip dari laman laman Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, untuk data curah hujan tahunan Pekanbaru dari tahun 2019-2022. 

Dapat disimpulkan bahwa curah hujan tertinggi berkisar antara ± 300-400 mm (https://riau.bps.go.id/indicator/151/145/1/curah-hujan.html). Data curah hujan tertinggi ini menunjukkan bahwa jumlah air yang turun setiap tahunnya berpotensi menjadikan Pekanbaru menjadi langganan banjir. Mitigasi bencana banjir diperlukan untuk dapat mengurangi potensi musibahyang terjadi. 

Pertumbuhan jumlah penduduk juga memberikan pengaruh dalam terjadinya musibah banjir. Jika mencoba melihat kembali ke masa 20 tahun ke belakang Pekanbaru, mungkin kita jarang sekali mendengar berita masyarakat terkena musibah banjir. Penduduknya yang belum padat seperti sekarang masih banyak berdomisili didataran yang lebih tinggi. 

Hubungan antara hujan dan masyarakat berlangsung harmonis. Masyarakat memilih tempat tinggal ditanah yang lebih tinggi dan air memilih ke tempat asalnya di daerah yang lebih rendah.  Namun seiring berkembangnya Pekanbaru yang diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk pada saat ini lebih dari 1 juta jiwa dan bertumbuhnya bangunan, membuat konflik antara masyarakat dan air menjadi nyata. 

Masyarakat yang semakin ramai mulai bergeser mencari tempat tinggal didaerah baru dan kawasan tangkapan air. Tanah yang menjadi resapan air ditutupi dengan berbagai macam bangunan yang tidak mungkin air meresap lagi ke tanah. Daerah resapan yang menjadi tempat berkumpulnya air diubah menjadi timbunan tanah yang memindahkan air untuk mencari tempat baru. 

Bangunan drainase di depan pertokoan dibangun seadanya tanpa memperhatikan petunjuk teknis yang benar. Dampaknya jumlah air yang mestinya terbagi dalam beberapa tempat seperti meresap ke dalam tanah, berkumpul di dataran rendah dan mengalir ke sungai tidak lagi terjadi. 

Semua jumlah air dipaksa mengalir ke satu tempat yaitu drainase di pinggir jalan atau parit. Akibatnya drainase eksisting tidak mampu menampung seluruh debit air dan menciptakan suatu genangan yang besar. 

Drainase dipaksa untuk melayani jumlah air yang besar. Ditambah lagi kapasitas sungai-sungai yang membelah  Pekanbaru semakin kecil disebabkan oleh buangan sampah secara sembarangan dan pendangkalan.  Keadaan ini tidak mungkin dielakkan karena telah menjadi sebab akibat dari perkembangan kota. Pemerintah harus mengantisipasi dari sekarang terhadap konsekuensi yang ditimbulkan. 

Kejadian banjir bukan hanya berupa tindakan pasca bencana seperti mendatangkan petugas bencana, membangun tenda, membuat dapur umum dan memberikan bantuan makanan serta pakaian. Tetapi lebih dari itu, harus ada konsep tindakan preventif dalam pengelolaaan banjir. Sehingga membuat penanganan banjir lebih modern dan masyarakatnya menjadi lebih tenang.*** 

Muhammad Toyeb, Dosen Teknik Sipil Universitas Abdurrab 

Editor : Rindra Yasin