Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ramadan, ASI, dan Ikhtiar Mencegah Stunting

Redaksi • Minggu, 1 Maret 2026 | 00:01 WIB

Asri, Project Management Unit Tanoto Foundation.
Asri, Project Management Unit Tanoto Foundation.

“Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka de­ngan cara yang patut.”

Kalimat tersebut bukan dikutip dari aturan pemerintah. Bukan pula rangkaian kata program kampanye dari sebuah lembaga atau iklan layanan masyarakat. Lebih dari itu, kalimat tersebut merupakan bunyi salah satu ayat dari kitab suci umat Islam, Al-Qur’an.

Kalimat itu berasal dari surat Al-Baqarah ayat 233. Dalam buku Tafsir Al-Misbah, cendekiawan muslim Profesor Quraish Shihab menyatakan ayat tersebut mengungkap peran penting keluarga terutama dalam tumbuh kembang anak. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi hingga usia dua tahun.

Ayat tersebut juga menyinggung keberadaan ayah yang vital dalam mendukung kesejahteraan ibu dan bayi, menggarisbawahi upaya dalam mencegah lahirnya generasi fatherless seperti yang dirisaukan belakangan ini.

Ayat Al-Qur’an tersebut mengingatkan bahwa upaya bangsa Indonesia dalam mewujudkan keluarga berkualitas dan melahirkan generasi terbaik tak dapat dipisahkan dari faktor agama.

Indonesia telah menentukan cita-cita dan visi besar: pada tahun 2045, ketika mencapai usia seratus tahun kemerdekaan, akan ada Generasi Indonesia Emas, generasi yang unggul, sehat, produktif, dan berdaya saing global. Namun, satu tantangan besar terus menghantui: stunting, sebuah fenomena gizi kronis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Dari tahun ke tahun jumlah penderita stunting memang terus menurun, dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 pada 2024 (berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia). Ini artinya 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting. Secara kuantitatif, jumlah itu juga masih besar, yakni setara dengan 4,4 juta anak.

Bukan sekadar urusan statistik, kondisi ini masih menjadi persoalan serius. Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan masalah pembangunan manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko rendah dalam aspek kognitif, prestasi akademik, produktivitas kerja, bahkan ancaman penyakit tidak menular ketika dewasa.

Untuk itu, upaya menurunkan prevalensi stunting harus dilakukan lebih dari sekadar program kesehatan. Ikhtiar ini butuh kolaborasi multisektor, mulai di bidang kesehatan, dunia pendidikan, sektor pangan, dan tak terkecuali unsur keagamaan.

Tokoh Agama Mendorong Perubahan
Studi Pew Research Center menunjukkan Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Sebanyak 98 persen orang Indonesia percaya agama memegang peran penting dalam hidup. Adapun 95 persen warga berdoa setiap hari dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling taat beribadah dibanding 101 negara di dunia.

Dengan demikian, dalam konteks Indonesia, peran tokoh agama tidak bisa dianggap enteng. Umat beragama Indonesia sangat menghormati suara para pemimpin agama.

Tokoh agama memiliki akses unik ke ruang privat masyarakat, yakni rumah ibadah seperti masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya. Ruang-ruang ini bukan hanya untuk ritual, tetapi menjadi pusat interaksi sosial bahkan peningkatan kualitas kesehatan.

Kita masih ingat saat pandemi Covid-19 melanda. Tokoh-tokoh agama bersedia menjadi “duta vaksin” dan meluruskan informasi-informasi yang keliru soal wabah dan penanganannya. Rumah ibadah pun digunakan sebagai sentra-sentra vaksinasi.

Fatwa atau pernyataan tokoh agama Islam tentang kehalalan vaksin mampu mencegah wabah meluas. Selain Covid-19, Pakistan dan Afghanistan juga punya pengalaman dengan kontribusi tokoh agama dalam memberikan dukungan pada penggunaan vaksin untuk penanganan polio.

Bukan hanya di Indonesia dan dalam agama Islam, peran agama dan tokoh-tokoh agama untuk isu kesehatan global juga terjadi di belahan bumi lain dan berbagai agama. Pada 2014, saat wabah Ebola menyerang Afrika Barat, tokoh-tokoh agama setempat juga turun tangan. Maklum saja, wabah itu menular melalui tradisi pemakaman yang “mengharuskan” bersentuhan dengan jenazah

Di sinilah peluang besar untuk mengintegrasikan pesan-pesan gizi dan kesehatan, terutama pencegahan stunting. Ketika seorang tokoh agama berbicara tentang pentingnya tumbuh kembang anak, pesan itu memiliki bobot moral yang kuat dan mudah diterima oleh masyarakat.

Langkah ini sebenarnya telah dilakukan. Wakil Presiden RI periode 2019-2024 Ma’ruf Amin yang juga seorang kiai dan pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan didapuk sebagai Ketua Pengarah Tim Percepatan Penurunan Stunting.

Dalam sejumlah pidatonya, ia telah mengingatkan bahwa penanganan stunting adalah langkah mulia untuk menerapkan tujuan-tujuan syariat Islam (maqashid asy-syari’ah), terutama perlindungan jiwa (hifdh nafs), perlindungan akal (hifdh al-’aql), dan perlindungan keturunan (hifdh an-nasl). Alhasil, upaya penurunan stunting ini menjadi bagian dari ibadah yang harus diamalkan dan didakwahkan.

Upaya melalui jalur keagamaan dan peran tokoh agama diharapkan tak berhenti, diperkuat hingga lebih masif lagi, dan terus bergulir hingga ke masyarakat bawah.

Kekuatan Spiritual Memandu Kolaborasi Penurunan Stunting
Kunci keberhasilan penurunan stunting bukan hanya pada banyaknya program, melainkan adanya sinkronisasi antar-aktor. Pemerintah memiliki data dan kebijakan; masyarakat memiliki dinamika sosial yang unik. Tokoh agama dengan jaringan moral yang kuat dapat mengisi celah yang terbuka di antara kedua pihak tersebut

Peran mereka juga dapat diperkuat lembaga filantropi yang memiliki sumber daya fleksibel, inovatif, dan holistik. Sebagai contoh, Tanoto Foundation yang menggagas Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) bersama sembilan kabupaten dan kota dan integrasi data Pusat Operasi Penurunan Stunting (POPS). Selaras dengan prioritas nasional, program-program ini melakukan intervensi berlapis untuk memperkuat upaya penurunan stunting dari hulu ke hilir.

Ketika semua elemen ini bergerak sendiri, hasilnya terpecah dan tak optimal. Namun ketika mereka bersinergi, seluruh kekuatan kolektif ini menjadi arus besar yang tak terbendung. Model kolaborasi ini harus diwujudkan melalui mekanisme terstruktur: forum lintas sektor, perencanaan bersama, dan sistem pemantauan yang inklusif.

Ruang kemitraan sejati harus dibuka oleh pemerintah bagi masyarakat sipil, lembaga filantropi, dan semua pihak. Lebih dari itu, penyelarasan pesan melalui tokoh agama dapat difasilitasi. Hal ini bisa melalui pelatihan dan bahan edukasi ilmiah yang nantinya bisa dikemas dengan nilai-nilai budaya dan spiritual yang relevan untuk disebarluaskan ke masyarakat.

Dengan demikian, kita bisa bayangkan saat ayat tentang pemberian ASI eksklusif terus disampaikan dan diulang-ulang di setiap khotbah Jumat, majelis taklim, pengajian, dan berbagai forum umat muslim lainnya.

Bukan hanya di satu daerah, tapi di seluruh penjuru di Indonesia, mengingat mayoritas penduduk bangsa kita beragama Islam. Ini saatnya para ulama, kiai-kiai kampung, ustaz dan ustazah, santri dan santriwati, serta guru-guru agama berpartisipasi dan “turun gunung” untuk memberantas stunting dan mewujudkan generasi emas.

Apalagi di masa bulan Ramadan, sehingga ihwal asupan nutrisi dan perbaikan gizi anak amat relevan untuk disampaikan. Pencegahan stunting dapat diberikan di kultum jelang berbuka puasa atau kala khotbah salat tarawih.

Sementara, umat agama Iain dapat pula melakukan langkah serupa dengan menyerukan ajaran agamanya masing-masing yang berkaitan dengan tumbuh kembang dan pengasuhan anak. Lebih dari sekadar informasi kesehatan, ceramah-ceramah oleh figur agama ini akan menjadi pesan moral. Efeknya akan jauh lebih mendalam dibanding kampanye sosial semata.

Lebih dari itu, jika upaya ini diperluas lagi, tokoh agama dapat mendorong komunitas untuk peduli terhadap keluarga miskin atau rentan yang mengalami kendala dalam peningkatan kualitas Kesehatan khususnya pada anak-anak. Langkah ini dapat melalui mobilisasi sumber daya lokal melalui wakaf, sedekah, atau donasi guna mendukung program kesehatan anak.

Pada akhirnya, nilai-nilai spiritual dapat terwujud dalam aksi nyata pemberdayaan, terutama menuju Indonesia Emas 2045. Cita-cita ini menjadi tantangan nyata yang menuntut kerja keras kolektif dari seluruh komponen bangsa. Elemen dan tokoh agama, dengan kekuatan moral dan spiritualnya, beserta dukungan berbagai pihak, mampu menjadi suluh pemandu untuk mencapai cita-cita besar itu.***

Oleh: Asri, Project Management Unit Tanoto Foundation

Editor : Arif Oktafian
#cegah stunting #asi #opini #ramadan