Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mudik: Kerinduan Eksistensial Manusia kepada Asal-usulnya

Redaksi • Rabu, 18 Maret 2026 | 11:39 WIB

Imam Hanafi, Sekretaris ISAIS UIN Suska Riau/Anggota Lakpesdam PWNU Riau
Imam Hanafi, Sekretaris ISAIS UIN Suska Riau/Anggota Lakpesdam PWNU Riau


​Mudik sering dipahami sebagai tradisi sosial umat Islam Indonesia yang berkaitan dengan hari raya. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan panjang dari kota menuju desa, dari tempat kerja menuju kampung halaman. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan, terminal dan bandara menjadi sesak, dan perjalanan pulang sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, mudik sebenarnya bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial: perjalanan manusia untuk kembali kepada asal-usulnya.

​Di balik setiap perjalanan mudik, ada satu pengalaman batin yang sama, yaitu kerinduan. Manusia merindukan tempat ia pertama kali belajar berjalan, berbicara, mengenal keluarga, dan memahami dunia. Kampung halaman bukan hanya sebuah lokasi di peta; ia adalah ruang yang me­nyimpan memori, pengalaman, dan identitas seseorang. Karena itu, kerinduan terhadap kampung halaman bukan sekadar perasaan sentimental, melainkan bagian dari struktur terdalam kehidupan manusia.

​Dalam filsafat eksistensial, hubungan manusia dengan tempat tinggalnya memiliki makna yang sangat mendalam. Filsuf Jerman, Martin Heidegger, menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berdiam (dwelling). Dalam esainya yang terkenal, Building, Dwelling, Thinking, Heidegger menyatakan bahwa tinggal di suatu tempat bukan sekadar menempati ruang fisik, melainkan sebuah cara manusia berada di dunia. Bagi Heidegger, manusia tidak sekadar hidup di dunia; manusia mengalami dunia sebagai tempat tinggalnya. Rumah, desa, atau kampung halaman menjadi ruang tempat manusia membangun makna hidupnya. Di sanalah seseorang pertama kali belajar tentang hubungan dengan orang lain, alam, dan dirinya sendiri.

​Karena itu, ketika seseorang meninggalkan kampung halamannya untuk merantau, sebenarnya ia sedang mengalami proses keterpisahan dari ruang eksistensial yang pernah membentuk dirinya. Ia mungkin menemukan pekerjaan, pengalaman baru, dan kehidupan yang lebih luas di kota. Namun, di dalam dirinya tetap tersimpan sebuah keterikatan yang sulit dihapus: keterikatan dengan tempat asalnya. Tidak mengherankan jika psikolog terkenal, Erik Erikson, menyatakan bahwa ketika seseorang terputus atau tidak memiliki keinginan untuk “pulang”, ia dapat mengalami krisis identitas—kehilangan rasa keterhubungan dengan dirinya sendiri. Rindu untuk pulang inilah yang kemudian kita sebut dengan mudik.

​Mudik dalam konteks ini dapat dipahami sebagai usaha untuk memulihkan kembali hubungan eksistensial antara manusia dengan tempat asalnya. Perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan tubuh, melainkan juga perjalanan ingatan. Pandangan yang lebih puitis tentang hubungan manusia dengan ruang dapat ditemukan dalam pemikiran filsuf Prancis, Gaston Bachelard. Dalam karyanya, The Poetics of Space, Bachelard menjelaskan bahwa rumah bukan hanya bangunan fisik. Rumah adalah ruang yang menyimpan lapisan-lapisan memori dan imajinasi manusia.

​Menurut Bachelard, setiap sudut rumah—kamar, dapur, tangga, bahkan loteng—menyimpan pengalaman emosional yang membentuk kehidupan seseorang. Rumah menjadi semacam “arsip batin” yang menyimpan kenangan masa kecil, suara keluarga, aroma masakan, dan berbagai pengalaman kecil yang membentuk identitas seseorang. Karena itu, ketika seseorang mengingat kampung halamannya, yang ia ingat bukan hanya lokasi geografisnya. Ia mengingat suara ayam di pagi hari, jalan kecil menuju masjid, pohon di halaman rumah, atau aroma tanah setelah hujan. Bachelard menyebut bahwa rumah masa kecil memiliki kekuatan imajinatif yang sangat besar sebagai ruang tempat seseorang merasa aman, dikenal, dan diterima sepenuhnya.

​Kerinduan terhadap kampung halaman biasanya memiliki beberapa tanda yang dapat dikenali. Pertama, seseorang akan sering menyebut nama tempat atau orang-orang yang ada di sana sebagai simbol dari pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam pikiran. Kedua, kerinduan sering muncul dalam bentuk reaksi emo­sional saat mendengar sesuatu yang berkaitan dengan tempat itu; sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa kampung halaman adalah bagian aktif dari identitas emosional. Ketiga, kerinduan yang kuat biasanya akan berakhir pada keinginan untuk bertemu, yang dalam konteks ini berarti pulang.

​Dalam kehidupan modern yang penuh mobilitas, pengalaman pulang menjadi semakin penting. Mudik, dengan demikian, dapat dipahami sebagai ritual sosial yang mengingatkan manusia bahwa ia bukan hanya makhluk ekonomi yang bergerak demi nafkah. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan akar dan memori. Dalam bahasa Heidegger, manusia selalu membutuhkan ruang untuk dwelling—untuk benar-benar merasa tinggal di dunia. Sementara dalam perspektif Bachelard, kampung halaman adalah ruang imajinatif tempat masa lalu tetap hidup.

​Pada akhirnya, mudik menunjukkan sesuatu yang sangat mendasar: sejauh apa pun seseorang pergi, ia selalu membawa sebagian dari kampung halamannya di dalam dirinya. Perjalanan mudik sebenarnya adalah perjalanan ganda. Tubuh bergerak menuju tempat asal, tetapi pada saat yang sama, hati bergerak menuju kenangan yang pernah membentuk kehidupan. Di situlah makna terdalam dari mudik: bukan sekadar kembali ke sebuah tempat, melainkan kembali kepada bagian diri kita sendiri yang pernah tertinggal di sana. Wallahu a’lam bi al-shawab.***

​Oleh: Imam Hanafi, Sekretaris ISAIS UIN Suska Riau/Anggota Lakpesdam PWNU Riau

Editor : Arif Oktafian
#eksistensial #opini #mudik #manusia #Asal-usul