Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ketika Masa Depan Membuat Remaja Gelisah

Redaksi • Rabu, 25 Maret 2026 | 13:24 WIB

Likon Lubis, Guru Pendidikan Pancasila SMA Darma Yudha Pekanbaru.
Likon Lubis, Guru Pendidikan Pancasila SMA Darma Yudha Pekanbaru.

BEBERAPA waktu lalu, saya me­minta siswa-siswa SMA di kelas saya menuliskan satu hal yang paling mereka takutkan tentang masa depan. Saya kira jawabannya sederhana: takut nilai jelek, takut tidak lulus, atau takut dimarahi orang tua.

​Ternyata saya keliru. Yang muncul justru kalimat-kalimat yang jauh lebih berat dari usia mereka.

​“Aku takut jadi pengangguran.”

“Aku takut salah memilih jurusan saat kuliah nanti.”

“Aku takut tidak bisa mengelola keuangan.”

“Aku takut menikah dengan orang yang salah.”

​Saya terdiam membaca satu per satu. Anak-anak berusia 15–17 tahun sudah memikirkan beban hidup yang bahkan orang dewasa pun sering kali tidak siap menghadapinya.

​Di kelas itu tidak ada yang mena­ngis. Mereka tetap bercanda setelah mengumpulkan kertas. Namun, saya tahu bahwa kalimat-kalimat tadi bukan ditulis untuk sekadar memenuhi tugas. Kalimat itu ditulis dengan ke­sadaran yang terlalu dini. Kecemasan mereka bertumbuh di tengah realitas yang memang tidak sederhana.

​Pada 5 Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia per November 2025 mencapai 7,35 juta orang. Angka itu memang turun 0,109 juta dibandingkan dengan Agustus 2025, sebagaimana disampaikan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, tetapi tetap menunjukkan besarnya tantangan ketenagakerjaan nasional.

​Bagi siswa SMA, angka jutaan itu bukan sekadar statistik. Ia adalah bayangan tentang persaingan yang akan mereka masuki. Mereka mendengar cerita tentang lulusan sarjana yang belum memiliki pe­kerjaan tetap. Mereka menyaksikan orang dewasa berbicara tentang ekonomi yang tidak menentu. Ke­tidakpastian telah menjadi percakapan sehari-hari.

​Kekhawatiran tentang “salah jurusan” juga tidak lahir dari imajinasi kosong. Dalam Open House 2026, Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Tatacipta Dirgantara, me­ngungkapkan hasil survei internal bahwa sekitar 60 persen mahasiswa yang diterima merasa salah jurusan. Banyak lulusan akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dari disiplin ilmu yang dipelajari.

​Data itu seolah me­ngonfirmasi kegelisahan mereka: bahkan setelah berhasil masuk ke kampus terbaik, rasa ragu tetap ada. Pilihan studi yang selama ini dianggap menentukan segalanya ternyata tidak selalu linear dengan jalan hidup. Kita hidup dalam budaya yang memuliakan keputusan cepat dan hasil pasti. Jurusan diperlakukan la­yaknya vonis masa depan. Anak-anak sudah diburu pertanyaan tentang karier seumur hidup, sementara mereka sendiri masih belajar memahami minat dan kemampuannya.

​Di sisi lain, kecemasan tentang pernikahan yang salah mungkin terdengar terlalu jauh untuk usia 16 tahun. Namun, angka perceraian memberikan konteks yang tidak bisa diabaikan. Rentang 2024–2025 menunjukkan perkara perceraian di Indonesia masih tinggi, berkisar 300–500 ribu kasus per tahun. Pada 2024, tercatat 399.921 perkara yang didominasi cerai gugat, dengan penyebab utama perselisihan terus-menerus dan faktor ekonomi.

​Hampir 400 ribu perkara dalam satu tahun berarti ribuan keluarga setiap bulannya menghadapi perpisahan. Remaja melihat itu—di lingkungan sekitar, di keluarga besar, atau melalui arus informasi yang terus mengalir di gawai mereka. Mereka belajar tentang rapuhnya relasi bahkan sebelum memahami sepenuhnya makna komitmen.

​Generasi ini tumbuh dengan akses informasi tanpa jeda. Mereka tahu terlalu banyak tentang risiko hidup, tetapi belum tentu memiliki ruang aman untuk membicarakannya. Sekolah sering kali masih berkutat pada capaian angka: nilai ujian, peringkat, dan kelulusan ke perguruan tinggi favorit. Padahal, yang diam-diam mengendap dalam pikiran siswa adalah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah saya akan baik-baik saja di masa depan?

​Indonesia kerap membanggakan bonus demografi. Namun, angka demografi tidak otomatis menjadi kekuatan jika ge­nerasi mudanya tumbuh dengan kecemasan yang tidak terkelola. Tantangan pekerjaan yang nyata, kebimbangan pilihan studi, dan rapuhnya institusi keluarga adalah realitas sosial yang mereka tangkap sejak dini.

​Yang saya lihat di kelas bukan ge­nerasi yang malas atau tidak siap bekerja keras. Justru sebaliknya. Mereka menginginkan hidup yang stabil, pekerjaan yang layak, dan keluarga yang utuh. Mereka memikirkan masa depan dengan kese­riusan yang kadang melebihi usianya. Barangkali yang kurang bukanlah motivasi, melainkan ketenangan.

​Pendidikan semestinya tidak hanya mempersiapkan siswa menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, tetapi juga membantu mereka memahami bahwa hidup tidak selalu bergerak lurus. Salah jurusan bukan akhir dari segala kemungkinan. Tidak langsung mendapat pekerjaan bukan berarti gagal selamanya. Pernikahan bukan sekadar soal menemukan orang yang tepat, melainkan tentang kesiapan untuk bertumbuh bersama.

​Kecemasan tidak perlu disangkal karena ia adalah bagian dari kesadaran. Namun, ia perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas: bahwa masa depan memang penuh risiko, tetapi juga penuh dengan peluang untuk koreksi. Ketika saya mengembalikan kertas-kertas itu, saya tidak memberikan pidato tentang optimisme. Saya hanya berkata singkat: rasa takut itu wajar, dan hidup tidak ditentukan oleh satu keputusan saja. Mereka mengangguk. Namun, saya tahu bahwa anggukan itu tidak serta-merta menghapus beban yang mereka pikul.

​Sepulang mengajar hari itu, justru saya yang gelisah. Jika anak usia 16 tahun sudah takut menganggur, takut salah jurusan, dan takut salah memilih pasangan, maka persoalannya bukan lagi pada mental anak-anak tersebut. Ada sesuatu dalam cara kita membangun masa depan yang membuat mereka merasa terancam bahkan sebelum bertarung. Kita hidup di tengah banyaknya pengangguran. Di kampus terbaik negeri, banyak mahasiswa mengaku merasa salah jurusan. Hampir 400 ribu perkara perceraian terjadi hanya dalam satu tahun. Anak-anak menyerap semua itu. Mereka tidak bodoh; mereka sedang membaca zaman.

​Pertanyaannya: apakah kita membaca kecemasan mereka?
​Sekolah terlalu sering memaksa mereka berlari, tetapi jarang mengajarkan bagaimana cara berdiri ketika jatuh. Kita sibuk membicarakan target, tetapi lupa membicarakan makna. Kita mengukur kecerdasan, tetapi jarang menguatkan keberanian. Jika generasi ini tumbuh dengan keyakinan bahwa satu kesalahan bisa menghancurkan hidupnya, maka kita sedang menanam ketakutan, bukan pendidikan. Bangsa yang dipenuhi anak-anak cemas tidak akan kekurangan tenaga kerja, tetapi ia akan kekurangan keberanian.

​Mungkin inilah saatnya kita berhenti sekadar bertanya berapa nilai yang mereka dapatkan. Mulailah bertanya: apakah mereka masih percaya bahwa masa depan adalah ruang harapan? Sebab, ketika keyakinan itu hilang, yang tersisa bukan sekadar angka statistik.

​Yang hilang adalah keberanian sebuah generasi untuk bermimpi tanpa merasa bersalah.***

Oleh: Likon Lubis, Guru Pendidikan Pancasila SMA Darma Yudha Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#gelisah #masa depan #remaja #opini