KISAH HIDUP PENYAPU JALAN DI PEKANBARU

Berhadapan dengan Maut tanpa Dilindungi Asuransi

Pekanbaru | Jumat, 04 Oktober 2019 - 10:28 WIB

Berhadapan dengan Maut tanpa Dilindungi Asuransi
SAPU JALAN: Seorang petugas kebersihan menyapu bahu Jalan Jenderal Sudirman, beberapa waktu lalu.DEFIZAL / Riau Pos

(RIAUPOS.CO) -- Hidup memang penuh dengan pilihan. Meski terkadang terlihat tak masuk akal bagi orang lain yang tak merasakannya secara langsung. Agaknya, keputusan besar inilah yang coba diselami oleh sosok wanita bernama Husni. 

DIA adalah seorang pekerja harian lepas (PHL) di bagian Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru. Kesehariannya bekerja sebagai penyapu jalanan yang berdebu di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru.

Seolah wanita yang sudah berusia 52 tahun itu tak pernah merasa canggung dan malu.  Ia terlihat enjoy menikmati profesinya sebagai tukang sapu jalanan. Setiap pengendara yang lalu lalang di sekitarnya tak pernah dia pedulikan.

Tangkai sapu yang ada di genggaman tangannya terus saja di ayunkan untuk menyapu daunan kering yang berjatuhan di sepanjang badan jalan dan trotoar jalan Jenderal Sudirman. Sesekali Husni terlihat memperbaiki letak posisi masker penutup hidung dan mulutnya, agar tidak terhirup debu.

Wanita yang memiliki tiga anak ini sudah menekuni pekerjaan sebagai penyapu jalan sejak tahun 2009 yang lalu. Pekerjaan itu dia ambil karena suami yang diharapkan untuk menjadi tulang punggung keluarga sudah tidak bisa lagi diharapkan. Di samping usia yang sudah tua, juga sudah sering sakit-sakitan.

“Dulu Bapak (suami, red) kerja tukang bangunan. Tapi sekarang sudah tak kuat lagi, usianya sudah tua,” ujar wanita yang tinggal di Jalan Kopi,  dekat Jalan Harapan Raya (Jalan Imam Munandar) itu.


Walau sekarang menjadi tulang punggung keluarga, Husni pun masih merasa sedikit beruntung. Tiga anak nya saat ini sudah dewasa dan sudah bekerja, sehingga bisa membantu dalam memenuhi keperluan sehari-hari.

“Kalau berharap gaji saya saja tidak cukup. Kadang sebulan itu hanya terima Rp2 juta. Terkadang juga tidak sampai segitu, yang diterima kalau absennya tidak cukup 30 hari. Kadang sebulan itu ada terimanya Rp1,5 juta saja. Jadi kalau tidak dibantu anak tidak cukup,” katanya.

Husni merasa, bekerja sebagai penyapu jalan juga tak luput dari berbagai risiko. Mulai dari tersenggol hingga tertabrak kendaraan yang melintas. Peristiwa itupun pernah dialaminya sejak beberapa tahun yang lalu.

“Saya pernah tersenggol sepeda motor. Saat itu yang membawa sepeda motornya anak sekolah”, ujarnya.

Husni berharap Pemerintah Kota Pekanbaru bisa memperhatikan nasib semua petugas kebersihan. Karena tantangan yang mereka hadapi pun cukup berat. Bahkan maut selalu mengintai saat menyapu jalan.

“Kami memang hanya berstatus sebagai PHL. Tapi kami juga ikut menjaga jalan-jalan di Kota Pekanbaru ini tetap terlihat bersih. Kami berharap adalah semacam asuransi kesehatan untuk kami sebagai perlindungan diri. Seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja,” ucapnya.

Selain Husni, ada juga Yaniseta. Perempuan berusia 38 tahun ini setiap pagi bertugas sebagai penyapu jalan di Jalan Jenderal Sudirman. Wilayah kerjanya berada di bawah jalan layang simpang Jalan Jenderal Sudirman-Imam Munandar.

Kamis pagi, Yaniseta terlihat mengumpulkan kara-kara dan botol plastik bekas yang berserakan di bibir jalan. Kara dan botol bekas itu akan ia jual kembali sebagai penambah pundi-pundi keuangan, guna mencukupi keperluan ekonomi.

Wanita yang akrab disapa dengan Yani ini mengaku mengasuh empat anak angkat yang diambil dari kakaknya yang sudah meninggal dunia.

“Kara-kara dan botol plastik bekas ini sebagai kerjaan sampingan saja. Kerjaan rutin ya penyapu jalan. Karena saya punya 4 anak angkat dari kakak. Mereka masih kecil-kecil. Ibunya sudah meninggal. Kalau hanya berharap dari gaji penyapu jalan tidak cukup. Gajinya hanya sesuai UMR (upah minimum regional),” kata wanita yang menetap di Jalan Nelayan itu.

Suaminya yang dulu bekerja di pabrik karet Jalan Nelayan Rumbai juga sudah berhenti. Pabrik karet itu sekarang sudah tutup. Kemudian suaminya juga sering menderita sakit.

“Jadi tanggung jawab itu ada sama saya sekarang,” katanya.

Yaniseta pun memiliki harapan yang sama dengan Husni. Menurutnya pekerjaan yang digeluti setiap hari itu mempertaruhkan nyawa. “Dulu saya pernah tersenggol kendaraan dan juga pernah dijambret,” ucapnya.

“Di jalan ini nyawa kami juga jadi taruhannya. Apalagi kami terjun ke jalanan pagi hari sekali. Jam setengah enam pagi kami sudah di sini. Kami berharap Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan kami asuransi kesehatan dan asuransi tenaga kerja sebagai jaminan kami untuk berobat saat sakit dan kecelakaan kerja,” ucapnya.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pekanbaru Elmawati saat dikonfirmasi menyebut, seluruh petugas kebersihan di bawah DLHK ditanggung BPJS Kesehatan. ’’Iya di bawah kita. Semua pekerja dikasih BPJS. Bulanannya dari anggaran DLHK,’’ katanya. 

Saat ditanya berapa jumlah petugas penyapu jalan, ia mengaku tak ingat dan  mengarahkan  pada Kabid bernama Adil Putra. 

Adil Putra saat dikonfirmasi malah kembali mengarahkan pada Kasi bernama Hamdan. Dia mengirimkan empat nomor kontak kasi tersebut. Sayangnya, empat nomor kontak ini saat dihubungi semuanya tak aktif.(*6/ali) 

Laporan MUSLIM NURDIN, Pekanbaru




youtube riaupos


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-09.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com