
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah lewat PT Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi. Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter, dexlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter, dan pertamina dex dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.
Suwandi, warga Bukit Raya, Pekanbaru pun memilih memarkirkan kendaraan Pajero Sport berbahan bakar dexlite di rumahnya. Bukan sehari dua hari, atau sejak pengumuman dexlite naik, tapi sejak perang Iran meletus di Timur Tengah.
Sebagai kontraktor, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang mulai berdampak hingga ke daerah, ia memilih mengendarai mobil H-Rv milik sang istri. Pria tiga anak ini tidak hanya mengantisipasi yang akhirnya benar-benar terdampak perang.
‘’Yang jelas parkir makin lama di garasi, pakai inilah (H-Rv, red) ke mana-mana. Saat ini sekarang ini, seribu rupiah pun harus dihitung,’’ ujar kontraktor yang mengaku bermain di sektor swasta di Riau ini.
Sekarang, kata dia semenjak harga naik, mobil 4×4 itu tidak akan dipakai jika tidak perlu-perlu kali Ia pun tidak berencana akan ke luar kota dalam waktu dekat. ‘’Dalam kota jarak pendek, hanya perlu pertalite. Pertamax kalau mau cepat. Yang jelas harus hemat, setiap rupiah harus dihitung,’’ ujar bapak tiga anak ini.
Sementara seorang sopir truk antarprovinsi, Parulian tidak ambil pusing dengan kenaikan dexlite. Ia lebih pusing dengan kondisi biosolar yang tidak menentu ketersediaanya. ‘’Katanya stok aman-stok aman, tapi antre juga awak panjang di sini,’’ celetuknya saat ditemui di SPBU Pandau Jaya, Ahad (19/4).
Ia terlihat kesal. Tidak hanya karena BBM sedang bongkar di sana, tapi lebih pada antrean panjang biosolar yang kerap terjadi. ‘’Kadang di sini (SPBU Pandau) panjang, awak coba di sana (SPBU Kubang Raya) lebih parah lagi,’’ ujar sopir truk plat kuning kode awal BK ini.
Bagi Parulian yang dikejar tenggat waktu, keadaan kerjanya yang ulak-alik dari Siak Hulu ke Sumatera Utara bukan soal harga. Tapi soal ketersediaan. ‘’Ada, lancar, itu yang penting. Kan kejar waktu, belum lagi kendala di jalan. Tapi kalah antre aja sampai dua jam, repotlah,’’ ujarnya.
Sama dengan sopir-sopir truk Lintas Timur, Parulian punya pengalaman buruk sepanjang akhir tahun lalu. Pengalaman itu adalah antre sampai setengah hari karena biosolar kerap habis menjelang tengah hari. Maka ia berharap biosolar lancar tanpa hambatan.
Pertamax Turbo dan Pertamax 92 Kosong
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




