Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemprov Targetkan Angka Stunting 17 Persen 

S
Penulis: Soleh Saputra❯
Zulkifli (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau). (JPG)
Zulkifli (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau). (JPG)

Advertisement

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Upaya percepatan penurunan angka stunting di Provinsi Riau terus menjadi prioritas pemerintah daerah. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Riau tercatat sebesar 20,1 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan, angka tersebut masih harus ditekan agar sejalan dengan target pembangunan daerah. Ia menegaskan bahwa penurunan stunting merupakan bagian dari program nasional yang wajib dicapai oleh pemerintah daerah.

”Berdasarkan hasil SSGI 2024, angka stunting kita berada di 20,1 persen. Targetnya, pada 2026 harus turun menjadi 17 persen,” ujarnya, Selasa (21/4).

Advertisement

Menurut Zulkifli, target tersebut telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Riau 2025–2029. Untuk mencapainya, diperlukan penguatan intervensi lintas sektor, mulai dari peningkatan layanan kesehatan, edukasi gizi, hingga perbaikan sanitasi.

Sementara itu, Guru Besar Gizi Masya­rakat Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Riau, Aslis Wirda Hayati, menyoroti tantangan sosial dalam penanganan stunting, khususnya di tingkat masyarakat.

Advertisement

Ia mengungkapkan masih adanya stigma negatif terhadap anak yang telah dinyatakan stunting. Hal ini berdampak pada menurunnya partisipasi mereka dalam kegiatan posyandu.

”Anak-anak yang sudah dinyatakan stunting oleh kader sering kali enggan datang ke posyandu karena adanya stigma di 

masyarakat. Mereka merasa diberi label negatif, sehingga secara psikologis tidak mau hadir,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius tenaga kesehatan, khususnya ahli gizi. Pendekatan yang lebih humanis dan edukatif dinilai penting agar keluarga tidak merasa terdiskriminasi.

”Aspek psikologis ini sangat penting. Anak dan keluarganya tidak boleh merasa direndahkan. Ini menjadi tugas tenaga gizi agar penanganan stunting tidak menimbulkan stigma,” ujarnya.(yls)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Kolaborasi untuk Generasi Sehat, EMP Korinci Baru Limited Perkuat Intervensi Gizi Balita di Pekanbaru

Kolaborasi untuk Generasi Sehat, EMP Korinci Baru Limited Perkuat Intervensi Gizi Balita di Pekanbaru

EMP Korinci Baru Limited menyalurkan bantuan gizi kepada 40 balita stunting dan lima posyandu di Pekanbaru untuk mendukung percepatan penuru

Kolaborasi Perkuat Kapasitas 176 Kader Posyandu untuk Mendukung Pencegahan Stunting di Dumai

Kolaborasi Perkuat Kapasitas 176 Kader Posyandu untuk Mendukung Pencegahan Stunting di Dumai

PT Ivo Mas Tunggal anak usha Sinar Mas berkolaborasi memperkuat kapasitas 176 kader posyandu untuk mendukung pencegahan stunting di Dumai.

Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Meranti Tembus 75 Persen, Ada Desa Capai 28 Persen

Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Meranti Tembus 75 Persen, Ada Desa Capai 28 Persen

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kepulauan Meranti tercatat sebesar 18 persen

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer