Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Libya Pasca Khadafi

Rindra Yasin • Selasa, 25 Oktober 2011 - 07:29 WIB
Ajal akhirnya menjemput Moammar Khadafi, Kamis siang (20/10/2011), setelah rudal Hellfire NATO meluluhlantakkan konvoinya.

Dalam kondisi terluka, penguasa Libya 42 tahun itu mencoba bertahan dan bersembunyi di gorong-gorong.

Namun, serbuan gerilyawan Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya yang didukung NATO tak terelakkan.

Maka, setelah berbulan-bulan bertahan dalam pelarian, sang kolonel itu pun tertangkap dan terbunuh. Jenazahnya pun kemudian dipamerkan ke publik di mal.

Di Sirte Khadafi lahir, di Sirte pula Khadafi dijemput malaikat maut. Sorenya, masyarakat Libya pun larut dalam perayaan kematian Khadafi.

Mengapa rakyat Libya berpesta? Di saat hubungan Libya mulai mesra dengan dunia Barat, Khadafi menghadapi masalah dalam negeri.

Rakyat Libya mulai berani melawan sang kolonel, terinspirasi angin revolusi di Tunisia dan Mesir.

Apalagi selama ini Khadafi memang memerintah negaranya dengan tangan besi. Meski sesekali membantu Palestina, membantu negeri-negeri Islam yang dilanda kelaparan serta mendirikan banyak yayasan sosial.

Namun, di dalam negeri Khadafi memang dikenal suka menindas rakyat. Apalagi aktivis Islam yang tak searah dengan ide dan pemikiran sosialisme sang kolonel.

Sekitar tahun 1990-an banyak aktivis Ikhwanul Muslimin, Front Islamic du Salute, Tanzhimul Jihad, Hizbut Tahrir, Hamas maupun Salafi, yang ditangkap, disiksa, dan dibunuh tentara rezim Moammar Khadafi.

Amerika dan sekutunya pun memanfaatkan kemarahan rakyat Libya ini untuk segera mengakhiri rezim Khadafi. Mereka pun mempersiapkan NTC sebagai agen baru untuk kepentingan minyak dan liberalisasi di negeri Omar Mokhtar ini.

Motif NATO
Sehari setelah kematian Khadafi, para pemimpin Barat mulai berkomentar. Dalam konferensi pers di halaman Gedung Putih, Washington, Jumat (21/10/2011), dengan lantang Obama pun menyatakan bahwa, Amerika Serikat akan menjadi sahabat bagi Libya pasca kematian Khadafi.

Ia juga mengatakan bahwa misi NATO di negara Afrika Utara itu akan segera berakhir.

Amerika akan menjadi sahabat? Kata-kata itu pula yang senantiasa didengungkan Amerika Serikat setelah sukses memporak-porandakan sebuah negeri.

Hal itu pula yang dikatakan George W Bush saat pasukan Sekutu menjatuhkan Saddam Hussein dan merestui penggantungannya.

Begitu pula ketika ia menyuruh Jenderal Tommy Frank memimpin pendepakan Taliban.

Kalimat serupa pula yang diucapkan Bush senior saat pasukan Amerika Serikat menyerbu Panama dan menyeret Jenderal Manuel Noriega seperti anjing kudisan.

Semua itu hanyalah slogan basi. Slogan yang dipasang untuk menutupi maksud Amerika Serikat yang sebenarnya.

Sejarah mencatat, setiap penjatuhan rezim oleh Amerika Serikat dan Sekutu di berbagai belahan dunia, lebih bermakna pengerukan sumber bahan mentah dari negeri itu. Lihatlah nasib Afghanistan, Irak, Panama, Granada, dan negeri kita Indonesia.

Kini Libya pun tengah menyusul. Padahal, setelah Obama berkuasa, hubungan Khadafi dengan AS pun semakin membaik.

Hal itu tampak jelas ketika anak lelaki Khadafi, Mo’tasem datang ke AS dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

Beberapa persetujuan, termasuk soal eksploitasi minyak konon diteken dalam pertemuan itu. Hubungan Libya dengan PBB pun tampak semakin dekat, apalagi satu-satunya anak perempuan Khadafi, Aisya, kemudian diangkat sebagai duta besar keliling PBB.

Karena itu diyakini ada motif lain dari sekadar membela HAM rakyat Libya.

Berburu Minyak
Dalam sebuah diskusi via satelit dengan para mahasiswa Georgetown University, pada Januari 2009, Khadafi berencana mengadakan negoisasi ulang dan bahkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing yang beroperasi di Libya.

Khadafi menyatakan pula bahwa Libya sudah tidak tahan dengan harga minyak di negaranya kini yang hanya 43 dolar AS per barel.

Seperti negara-negara Barat lainnya, Amerika Serikat yang mendapat konsesi minyak di Libya pasca penyelesaian tragedi Lockerbie, mulai khawatir dengan rencana Khadafi ini.

Sebab, EPSA IV Libya (Exploration and Productions Sharing Agreement) telah memaksa Exxon Mobil, Petro Canada, Repsol (Spanyol), Total (Prancis), Eni (Italia), dan Occidental (AS) untuk tunduk pada renegosiasi dan membayar bonus awal 5,4 miliar dolar AS kepada Libya.

Amerika Serikat khawatir, ConocoPhilips. Marathon dan Hess (bagian dari Oasis Group) juga akan dipaksa renegosiasi.

Padahal, sebelumnya mereka telah membayar bonus 1,8 miliar dolar AS kepada Libya.

Perebutan minyak Libya semakin jelas pada 2 September 2011, ketika Prancis mengadakan pertemuan Friends of Libya atau para sahabat Libya.

Dalam pertemuan di Paris yang dipimpin Perdana Menteri Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris David Cameron, para diplomat Amerika Serikat, Italia, dan Qatar hadir.

Bahkan Jerman, Rusia, Cina, India, dan Brazil yang tidak mendukung resolusi PBB yang mengizinkan intervensi Nato di Libya, juga hadir.

Disanalah rancangan tentang masa depan Libya pasca Khadafi terutama minyaknya dibahas.

Pembahasan ini sangat penting, karena Libya memiliki cadangan minyak sebesar 44 miliar barel.

Pasca Khadafi
Amerika dan sekutunya telah membajak revolusi di Libya. Pertama, mereka telah mempersiapkan komprador baru yakni tokoh-tokoh Dewan Transisi Nasional (NTC) seperti Mustofa Abdul Jalil dan Abdus Salam Jalloud yang telah berkomitmen menyerahkan  konsesi minyak pada negara-negara NATO.

Kedua, arah revolusi akan dibelokkan sesuai selera Barat, yakni Libya yang sekuler liberal dan memusuhi Islam. Jika ini yang terjadi tentu masa depan Libya akan tetap suram.

Lepas dari mulut harimau sosialis Khadafi, disongsong mulut jahat kapitalisme liberal. Maka pesta pora rakyat Libya saat kematian Khadafi dipastikan hanya berlangsung sesaat.

Selanjutnya mereka akan kembali terjajah, minyak mereka akan dijarah Amerika dan sekutunya.

Inilah akibatnya jika revolusi tidak mandiri dan tidak dilandasi ideologi Islam. Pelajaran berharga bagi dunia Islam agar tidak terus bergantung pada penjajah Barat. Wallahu a’lam bi-ashowab.***

Muhammadun, Ketua DPD I HTI Riau, Anggota Komisi Ukhuwah dan Hubungan Luar Negeri MUI Riau. Editor : Rindra Yasin