Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Wawancara Keluarga Yudi Febrian, Warga Pekanbaru Korban Heli BK-117 Jatuh di Kalimantan: Sosok Pekerja Keras dan Tak Bisa Jauh dari Hutan

Hendrawan Kariman • Kamis, 4 September 2025 | 18:47 WIB
Tim SAR saat menemukan bangkai helikopter Eastindo Air tipe BK-117 di hutan Kecamatan Mantewe, Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, Rabu (3/9/2025).
Tim SAR saat menemukan bangkai helikopter Eastindo Air tipe BK-117 di hutan Kecamatan Mantewe, Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, Rabu (3/9/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Yudi Febrian (57), dipastikan meningggal dunia. Hal ini setelah helikopter yang ditumpangi jatuh dan terbakar di hutan belantara Pulau Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu. Jenazahnya bersama 7 jenazah lainnya ditemukan pada Rabu (3/9/2025).

Kendati sudah menemukan 8 jenazah, namun Basarnas belum melakukan identifikasi. Pasalnya jenazah, yang kini dievakuasi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ditemukan tidak utuh. Bahkan dua orang ditemukan dalam keadaan hangus.

Atas kondisi itu, pihak keluarga di Pekanbaru belum mendapat informasi jelas kapan jenazah akan diterbangkan dari Banjarmasin ke Kota Pekanbaru.

"Belum tahu, istrinya juga belum tahu bagaimana nanti pemulangan jenazahnya," sebut Epi Yatim, kakak kandung Yudi, Kamis (4/9/2025).

Musibah yang merenggut nyawa adiknya itu merupakan kejadian yang tidak pernah dibayangkan Epi.

Ia memahami bahwa adiknya itu seorang pekerja keras dan cenderung gila kerja, namun tidak dengan kepergiannya yang jatuh dari helikopter.

Pasalnya, menurut Epi, selama bekerja di Kalimantan adiknya sudah kerap terbang naik heli. Karena hal itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya selama disana.

"Sekali ini ia baru terbang 10 menit, baru sekitar 700 meter meninggalkan titik terbang," ungkapnya.

Epi bercerita, Yudi akan selalu bersemangat bila menceritakan soal pekerjaan. Maka ia memahami bahwa adiknya itu berani mengambil resiko.

Terlepas dari apa yang menjadi penyebab kecelakaan, namun menurut Epi, satu yang pasti, Yudi Febrian memang gemar keluar-masuk hutan.

 

Yudi memang tidak bisa jauh dari hutan. Bahkan saat tamat SMA puluhan tahun silam, ia langsung pergi ke pedalaman Ukui, Pelalawan untuk bekerja.

Hal itu, kata Epi, cukup menggambarkan bahwa Yudi adalah seorang pekerja keras dan pecinta alam. Hidupnya, dari bujang, tidak lepas dari alam dan hutan. Bahkan ia terus bekerja tanpa bisa dipisahkan dengan hutan.

"Hutan itu sabahabatnya, sampai meninggalnyapun di hutan. Tadinya saya berpikir kalaupun tidak ketemu, ikhlas, karena dia sudah sama sahabatnya (di hutan, red). Dia memang tidak bisa lepas, biarpun berjalan kaki ke hutan," sebut Epi.

Epi berharap jenazah adiknya segera diterbangkan ke Pekanbaru. Pihak keluarga menurutnya sudah mempersiapkan prosesi kepergian sang adik.

Sesuai rencana, Yudi akan dimakamkan di Jalan Hang Tuah Ujung, sebuah pemakaman keluarga di Gang Akhir.

Di sana, sejumlah keluarga Yudi turut dimakamkan. Termasuk anaknya yang telah meninggalkannya lebih dulu.

Seperti diketahui, Yudi menjadi salah satu penumpang Helikopter jenis BK117 D3 yang jatuh di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Heli itu hilang kontak saat terbang dari Bandara Gusti Syamsir Alam, Kotabaru menuju Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya pada Senin (1/9/2025) pukul 8.54 Wita.

Helikopter itu sendiri dipiloti Haryanto dengan teknisi Hendra.

Sedang enam penumpangnya, selain Yudi, terdiri atas Mark Werren, Andys Rissa Pasulu, Santha Kumar, Claudine Quito dan Iboy Irfan Rosa.

Editor : Rinaldi
#tanahbumbu #helikopter eastindo air hilang #Warga pekanbaru korban heli jatuh di tanahbumbu kalimantan #hutan #korban helikopter jatuh #pekerja keras #Keluarga yudi febrian korban heli jatuh di kalimantan #Helikopter BK117 D3 #Yudi febrian warga komplek nyamuk pekanbaru #Yudi febrian korban heli jatuh di kalimantan