PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Mandi balimau atau yang juga dikenal dengan balimau kasai, petang belimau, atau petang megang merupakan tradisi menyambut Ramadan yang rutin digelar beberapa daerah di Riau seperti di Pekanbaru, Kampar, Rokan Hulu, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, dan Pelalawan. Masyarakat di daerah ini tumpah ruah menyucikan diri di tepian sungai.
Balimau bermakna mandi dengan menggunakan air dicampur jeruk atau limau. Jeruk yang digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, atau jeruk kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian untuk keramas. Bagi masyarakat setempat, kasai dipercaya dapat mengusir segala macam sifat dengki dalam kepala sebelum memasuki bulan suci.
Di Pekanbaru, tradisi menyambut Ramadan dikenal dengan petang megang. Ziarah ke makam Marhum Pekan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah Kompleks Masjid Raya Pekanbaru.Usai ziarah, rombongan melaksanakan Salat Asar berjemaah.
Seusai Salat Asar berjemaah, suasana berubah menjadi lebih riuh, namun tetap sarat makna. Di dalam masjid, anak-anak yatim berdiri berjejer rapi. Wali Kota Agung Nugroho menghampiri mereka satu per satu, menyerahkan santunan dan seperangkat alat salat.
Dari masjid, rombongan bergerak menuju tepian Sungai Siak. ibuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Kotabaru hingga Rumah Singgah Tuan Kadi ingin menyaksikan tradisi yang selalu dirindukan menjelang puasa.
Tari persembahan membuka acara. Doa dibacakan, laporan disampaikan, lalu Wali Kota berdiri memberikan sambutan. “Karena Pak Gubernur Riau SF Hariyanto datang maka acara ini semakin berkah. Terima kasih banyak Bapak Gubernur yang sudah datang,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian acara petang belimau di kawasan bersejarah Rumah Tuan Kadi, Kecamatan Senapelan. SF Hariyanto menyebutkan petang belimau sebagai warisan budaya Riau yang penuh makna dan tidak ditemukan dalam bentuk yang sama di daerah lain. ‘’Tradisi ini, bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan kearifan lokal masyarakat Melayu,’’ ujarnya.
Di Kampar, ribuan masyarakat memadati Desa Batu Belah, Kecamatan Kampar, Rabu (18/2) untuk mengikuti balimau kasai. Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyampaikan balimau kasai atau balimau bakasai merupakan warisan budaya masyarakat Kabupaten Kampar yang telah dilaksanakan secara turun-temurun.
“Balimau bakasai adalah tradisi masyarakat Kabupaten Kampar untuk mensucikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tradisi ini patut kita lestarikan karena merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal dan menjadi ciri khas daerah kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, balimau kasai tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki makna sosial yang kuat sebagai momentum mempererat silaturahmi antar masyarakat.
Bupati menyampaikan ke depan balimau kasai akan dimasukkan secara resmi ke dalam kalender pariwisata Kabupaten Kampar sebagai agenda tahunan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus mendorong peningkatan sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
“Mari kita sambut bulan Ramadan dengan hati yang suci, mempererat ukhuwah, meningkatkan ibadah, serta menjaga kondusivitas daerah agar suasana Ramadan di Kabupaten Kampar berlangsung aman, nyaman, dan penuh keberkahan,” tegasnya.
Di Kuantan Singingi, tradisi budaya tahunan mandi balimau yang dipusatkan di Kelurahan Muara Lembu Kecamatan Singingi, berlangsung meriah, Rabu (18/2). Ratusan masyarakat setempat memadati Sungai Batang Lembu. Prosesi ini ditandai dengan penyiraman air limau dan rerempah alami ke anak-anak yang hadir di lokasi.
Baca Juga: Arteta Sebut Arsenal Tidak Menunjukkan Apa pun dalam Hasil Imbang Melawan Wolves
Sementara itu, Bupati Suhardiman Amby merasa bangga melihat kekompakan masyarakat dalam mempertahankan tradisi yang memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya daerah. “Ini aset budaya yang bisa dikembangkan menjadi wisata. Jaga kelestariannya dan terus berbenah agar lebih baik ke depan,” ujarnya.
Di Rokan Hulu, ribuan masyarakat bersama keluarga pergi mandi bolimau di tepian Sungai Batang Lubuh Pasirpengaraian dan Sungai Rokan di Kecamatan Ujungbatu. Antusias masyarakat sangat tinggi, dibuktikan, sempat terjadinya kemacetan arus lalulintas di Jembatan Sungai Batang Lubuh Pasirpegaraian.
Salah seorang warga Desa Bangun Purba Barat, Kecamatan Bangun Purba Hendri saat diwawancarai Riau Pos, Rabu (18/2) mengaku setiap tahun ikut tradisi ini. ‘’Ini sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Rohul. Mandi bolimau bersama keluarga yang ditutup dengan makan bersama, bentuk kegembiraan dalam menyambut masuknya Ramadan tahun. Semoga membawa keberkahan bagi keluarga,’’ tuturnya.
Tradisi ini juga dilaksanakan sejumlah Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Kecamatan di Rohul bersama anak kemanakan seperti LKA Kecamatan Kabun, Kecamatan Rokan IV Koto. Sedangkan LKA lainnya telah melaksanakan hari-hari sebelumnya.
Untuk tradisi potang bolimau tingkat kabupaten Rohul yang ditaja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul bekerja sama dengan LAMR Rokan Hulu dilaksanakan, Selasa (17/2) petang. Tradisi ini dipusatkan di Waterfront City Pujasera Pasirpengaraian dan dibuka Bupati Rohul Anton ST MM yang ditandai dengan pemukulan gong.
Turut mendampingi Wakil Bupati (Wabup) Syafaruddin Poti serta para raja dari lima luhak, yakni Luhak Rambah, Tambusai, Kepenuhan, Rokan dan Raja Kunto Darussalam, Ketua DPRD Rohul Sumiartini, dan unsur Forkopimda Rohul.
Hadir juga Ketua MKA LAMR Rohul Datuk Seri Drs H Yusmar MSi bergelar Datuk Seri Sutan Sulembang Rokan, Ketua TP PKK Rohul dr Yeni Dwi Putri Anton, Ketua GOW Rohul Masni Taher Syafaruddin, Sekretaris DPH LAMR Rohul Tasmid, dan Sekda Rohul Muhammad Zaki.
Tradisi potang bolimau diawali dengan Salat Ashar berjemaah di Masjid Al Jami’ Desa Babussalam Kecamatan Rambah. Setelah itu rombongan Bupati dan Wakil Bupati Rohul berjalan kaki dan diarak dari Masjid Al Jami’ menuju lokasi acara dengan diiringi kesenian berudah, rebana.
Setibanya di lokasi acara, rombongan Bupati Rohul disambut atraksi pencak silat. Menjelang pembukaan, di lokasi dilaksanakan prosesi serong tepak adat dan budaya Melayu Rokan Hulu.
Bupati Rohul Anton menyampaikan tradisi ini merupakan warisan kearifan masyarakat Melayu Rohul yang sarat nilai spiritual dan sosial. “Tradisi ini mengajarkan kepada kita satu hal penting. Sebelum menyambut bulan suci Ramadan, bersihkan diri, bukan hanya raga, tetapi juga hati. Karena sejatinya sebelum air limau menyentuh tubuh, yang lebih dahulu harus kita jernihkan adalah hati kita,” ujarnya.
Menurutnya, hati yang mungkin pernah keruh karena salah paham, atau kusut karena persoalan perlu dibersihkan melalui momentum silaturahmi dan saling memaafkan. Di momen penuh makna tersebut, Bupati Anton juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Rokan Hulu.
Bupati Anton menyadari membangun daerah bukan pekerjaan ringan dan memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat serta stakeholder di Rohul. “Namun niat kami tulus untuk terus berbuat yang terbaik bagi Rokan Hulu. Doakan kami agar selalu diberi kesehatan, kekuatan dan kebijaksanaan sehingga dapat bekerja lebih baik, lebih amanah dan lebih dekat dengan masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan makna terdalam potang bolimau adalah memperbaiki hubungan yang retak, mendekatkan yang renggang, serta menguatkan kembali tali persaudaraan di tengah masyarakat. “Saya mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum ini sebagai titik awal memperbaiki diri, memperkuat iman serta saling memaafkan,” ujarnya.
Di Rokan Hilir (Rohil), prosesi mandi belimau juga digelar, Rabu (18/2). Pada prosesi tersebut, dilakukan secara mandiri oleh masyarakat atau mandi di kediaman masing-masing. Sekum DPH LAMR Rohil Datuk H Bakhtiar menyebutkan mandi belimau sudah menjadi tradisi yang biasa dilakukan setiap menyambut kedatangan Ramadan. “Hal itu sekaligus menandai akan mulainya orang berpuasa Ramadan selama satu bulan penuh,” ujarnya.
Baca Juga: Ratusan Personel Polres Kampar Amankan Balimau Kasai
“Ini sebagai simbol membersihkan diri untuk memasuki bulan suci Ramadan, di mana anjuran untuk membersihkan diri juga merupakan perintah agama Islam,” kata Bakhtiar.(ilo/kom/dac/epp/dac/fad/das)
Editor : Arif Oktafian