PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Amerika Serikat (AS) dan Israel dianggap mengada-ada dengan beralasan bahwa negara mereka terancam oleh Iran sehingga menyerang lebih dulu negara tersebut. Pada kenyataannya, kedua negara tersebut memang menjadi biang masalah yang terus terjadi di Timur Tengah selama ini.
Itu kesimpulan dari diskusi berjudul "Agresi Militer AS dan Israel ke Palestina dan Iran: Dampak dan Tantangan bagi Perdamaian Global" yang diadakan Teratak Literasi di Pekanbaru, Ahad (8/3/2026).
Lebih dari 50 peserta hadir dalam diskusi tersebut yang kebanyakan adalah perwakilan dari beberapa komunitas literasi di Pekanbaru, yang diakhiri dengan buka bersama.
Beberapa yang hadir antara lain Bambang Karyawan (FLP Riau), Asqalani Nasution (Competer), Mulyati Umar (TBM Mentari Sago), Infa Wilindaya (aktivis Pemuda Muhammadiyah Riau), Melisa Nofem (Komunitas Paragraf), Pamula Trisna, dan yang lainnya. Selain itu, beberapa perwakilan organisasi mahasiswa luar kampus juga hadir.
Tiga pakar yang menjadi pembicara dalam diskusi ini adalah Assoc Prof Dr Rendi Prayuda (pakar dan pengajar Hubungan Internasional di UIR), Dr Dina Y Sulaiman (pengajar dan Pakar Hubungan Internasional di Unpad), dan Rendy Perdana Khasmy SE (AGRA dan APC Indonesia).
Menurut Rendi Prayuda, sejak Uni Soviet runtuh saat Presiden Mikhael Gorbachev membuat kebijakan tentang Glasnost and Parestoika yang mengubah tatanan global, tak ada lagi perimbangan dalam sistem dan tatanan keamanan dunia karena AS tak punya lawan seimbang.
Yang terjadi, siapa pun Presiden AS secara masif selalu melindungi Israel yang merupakan anak emasnya dan musuh semua negara di Timur Tengah. Mereka juga mengancam negara-negara yang tak mau tunduk kepadanya.
Ini berbeda dengan saat masih utuhnya Uni Soviet, AS akan berhitung jika akan melakukan tindakan penyerangan ke negara lain.
Sebab, terbukti, di mana perang yang di belakangnya melibatkan kedua negara tersebut, AS Selalu kalah. Seperti pada Perang Korea, Perang Vietnam, hingga Afghanistan.
Namun, kata dia, khusus dengan Presiden Donald Trump, AS memang lebih agresif dalam kebijakan politik luar negerinya, terutama dalam hal melindungi kepentingan ekonominya, yakni minyak.
Dengan dalih itulah Trump melakukan tindakan semena-mena dengan menyerang Venezuela, Iran, dan yang terakhir Ekuador. Kuba yang selama Fidel Castro berkuasa ditakuti, AS kini juga dalam ancaman.
"Jadi, alasan AS bahwa mereka terancam oleh Iran, tidak masuk akal. Yang pasti, salah satu alasannya adalah melindungi kekuasaan akan minyaknya di Timur Tengah dan bagaimana melindungi Israel," jelas Rendri Prayuda.
Hampir sama dengan Rendi, Dina Y Sulaiman, melalui zoom, menjelaskan, mengapa AS membangun pangkalan militer di negara-negara dekat Iran seperti di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA) dan sebagainya, ini sudah dipersiapkan sejak lama oleh setiap presiden yang berkuasa.
Selain untuk melindungi kepentingannya akan minyak, juga untuk melindungi Israel dan menekan Iran yang dianggap sebagai musuh besar satu-satunya di kawasan itu.
Kata dia, sejak Presiden Irak Saddam Hussein dan Presiden Libya Muamar Khadaffi dibunuh, AS tak punya lawan sepadan lagi kecuali Iran karena negara Timur Tengah lainnya sudah dalam penguasaannya.
Ini juga terjadi karena dendam lama setelah jatuhnya Shah Iran Reza Pahlevi dalam Revolusi Islam 1979. Seperti diketahui, Reza Pahlevi adalah sekutu AS dan Israel di masa itu.
Selain itu, Iran juga menjadi satu-satunya negara yang membela Palestina secara langsung, yang memberikan bantuan senjata kepada Hamas dengan berbagai cara. Masalah nuklir hanya alasan yang mengada-ada.
"Dari sana kita tahu, jika presiden sebelumnya masih berpikir untuk secara frontal menyerang Iran, Donald Trump tidak. Dia benar-benar memanfaatkan kekuasaannya karena menganggap tak akan ada negara lain yang membela Iran. Faktanya sampai sekarang Cina dan Rusia yang awalnya dianggap akan membela Iran, dalam dua kali perang belakangan ini, tidak melakukan tindakan apa-apa," ujar Dina.
Pendiri Teratak Literasi, Nugroho Noto Susanto SIP MSi, menjelaskan, diskusi ini digelar dengan mengundang pakar di bidangnya, untuk membuka wawasan kita tentang bagaimana serangan AS dan Israel ke Iran bisa mengubah tatanan global.
Menurutnya ini penting agar generasi muda kita memahami struktur konflik itu dan paham akar masalah sebenarnya.
"Kajian ini penting dalam membuka wacana kita tentang literasi global, salah satunya tentang bagaimana dominannya AS dalam keamanan dunia, dan mengapa mereka begitu masif melindungi Israel padahal selalu bikin masalah dan membahayakan negara lain," ujar lelaki yang juga komisioner di KPU Riau ini.
Editor : M. Erizal