PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) - BENCANA banjir yang melanda Kabupaten Pelalawan sejak satu bulan terakhir, tidak hanya menyebabkan arus transportasi kendaraan terputus, namun bencana tahunan ini juga mengakibatkan munculnya penyebaran penyakit.
Salah satunya penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Di mana dari data yang dirangkum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui Dinas Kesehatan (Diskes), tercatat sebanyak 19 kasus akibat gigitan nyamuk aeides aegepty yang terjadi di Negeri Seiya Sekata ini sejak awal Januari hingga Maret ini.
‘’Sejak awal Januari, kita menemukan sebanyak 19 kasus DBD menyerang warga di Pelalawan,’’ terang Kepala Diskes Kabupaten Pelalawan H Asril SKM MKes melalui Kabid P2PL, dr Aulia Rahman kepada Riau Pos, Senin (17/3).
Diungkapkan Aulia, adapun 19 pasien DBD itu muncul pada Januari 8 kasus dan Februari 11 kasus, sedangkan bulan ini belum ada laporan kasus penyakit tersebut. Sedangkan kasus tersebut tersebar di empat kecamatan. Dari jumlah kasus DBD tersebut, Kecamatan Pangkalankerinci menjadi salah satu kecamatan penyumbang kasus tertinggi yakni sebanyak 10 kasus DBD. Kemudian Kecamatan Bandar Seikijang 3 kasus, Langgam 4 kasus, dan Pangkalan Kuras 2 kasus.
‘’Alhamdulillah, seluruh pasien penderita DBD sudah sehat dan tidak ada korban meninggal dunia. Artinya, sampai saat ini belum ada terjadi peningkatan signifikan kasus DBD. Semuanya masih bisa dikendalikan,’’ paparnya.
Dengan adanya temuan kasus DBD tersebut, lanjut Aulia, pihaknya kembali mengintensifkan sosialisasi program gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik) kepada masyarakat. Dimana kegiatan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk yang dilakukan dari rumah ke rumah oleh kader kesehatan masyarakat, sebagai upaya pengendalian penyakit demam berdarah. Dan dalam program ini, setiap satu rumah menjadi kader jumantik yang bertanggungjawab terhadap pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan rumahnya.
‘’Upaya ini sangat perlu kita lakukan agar dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Serta kembali menggalakkan gotong royong 3M plus (menguras, menutup dan menimbun) serta menaburkan bubuk Abate,’’ ujarnya.(hen)
Editor : Arif Oktafian