Lestarikan Tradisi Pantun, PHI88 dan HI FISIP Unri Kejar Gelar MURI

Pendidikan | Kamis, 14 April 2022 - 15:33 WIB

Lestarikan Tradisi Pantun, PHI88 dan HI FISIP Unri Kejar Gelar MURI
Sejumlah alumni HI dan mahasiswa HI FISIP Unri foto bersama usai kegiatan Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu di Auditorium Sutan Balia, kampus Fisip Unri, Panam, Pekanbaru, awal April 2022. (HI FISIP UNRI UNTUK RIAUPOS.CO)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Perhimpunan Hubungan Internasinal (PHI) 88 dan Jurusan HI Fisip Universitas Riau (Unri) berupaya meraih gelar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk tradisi pantun. Misi ini diberi titel MURI for HI Unri Penulisan 10.000 Baris Pantun.

''Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap tradisi pantun dan melestarikannya. Apalagi kini pantun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia,'' ujar Fasha Pratama selaku panitia kepada Riaupos.co, Kamis (14/4/2022). 

Yamaha Alfa Scorpii

Dilanjutkan Fasha, karena ini menjadi misi alumni HI dan Jurusan HI FISIP Unri maka peserta penulisan pantun berasal dari alumni, mahasiswa dan dosen HI FISIP Unri. Adapun jadwal kegiatannya adalah 25 Maret-22 Agustus 2022 masa penulisan pantun dan penganugerahan gelar MURI pada 26 November 2022.

''Guna mendukung misi tersebut, kami sudah menggelar Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu pada Senin (4/4/2022) di Auditorium Sutan Balia kampus FISIP Unri,'' ujar Fasha yang mantan Mayor Komahi itu.

Workshop dibuka oleh Dr Tri Joko Waluyo MSi selaku Ketua Jurusan HI FISIP Unri. Turut hadir lewat platform zoom meeting, Adi Kusuma sebagai pemrakarsa sekaligus Ketua PHI88 FISIP Unri, sebuah organisasi alumni angkatan 1988. 

Dalam workshop tersebut, dua narasumber memberikan materi pelatihan via zoom meeting. Pemateri pertama adalah Rendra Setyadiharja SSos MIP. Ia merupakan rekoris/peraih MURI dalam pantun bidang seni pertunjukan. Pemateri kedua yakni Yoan S Nugraha Cht CI M-NLP Sert-PSA selaku penggiat pantun.  


Menurut Yoan, pantun bukan semata seni tradisi lisan budaya Melayu. Pantun sudah menjadi bagian keseharian orang-orang Melayu dalam berkomunikasi. Lebih khusus lagi dalam penyampaian pesan atau nasihat secara bijak.

Para penutur pantun memiliki kekayaan kosa kata terhadap benda-benda di sekitarnya. Juga mempunyai pemahaman dan kecepatan berpikir dengan kondisi atau situasi yang ada.

Kini, kedua pelaku seni dari Tanjungpinang, Kepri tersebut bersinergi dalam Pantunesia, sebuah gerakan untuk membumikan serta melestarikan seni pantun. Mereka semakin termotivasi setelah UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda.

Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, Kamis (17/12/2020). Penetapan pantun ini menjadi tradisi budaya tak benda ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air telah diakui yakni pencak silat, seni rakit perahu pinisi, Tari Saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis itu.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

Editor: Eka G Putra

 








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



BRI Pekanbaru

DPRD SIAK



EPAPER RIAU POS  10-Aguss.jpg




riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com