Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Myung-bo dan Korsel yang Harap-Harap Cemas

H
Penulis: Hary B Koriun❯
Hary B Koriun
Hary B Koriun

Advertisement

 

Catatang HARY B KORIUN

BAGI sepakbola Korea Selatan (Korsel), Hong Myung-bo dianggap salah satu orang keramat yang tak boleh dihina. Bahkan, jikapun Korsel gagal melaju ke babak kedua Piala Dunia 2026 yang kini sedang berlangsung, kharisma dan namanya tak akan hancur oleh itu. Korsel kalah 0-1 dari Afrika Selatan (Afsel) dalam pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A, Kamis (25/6/2026) pagi. Kekalahan itu menggagalkan ambisi Korsel lolos langsung sebagai juara maupun runner-up. Korsel kini harap-harap cemas menunggu kemungkinan mereka bisa menjadi satu dari 8 negara yang lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik.

Advertisement

Per Kamis, negara-negara yang berada di klasemen 8 besar peringkat ketiga terbaik adalah Bosnia & Herzegovina (4 poin), disusul Swedia, Korsel, Kroasia, Aljazair, Paraguay, dan Skotlandia (3), dan Cape Verde (2). Sedangkan Belgia (2), Ekuador, Kongo (1) dan Senegal (0), masih menunggu hingga mereka menyelesaikan pertandingan terakhirnya. Artinya, jika daftar ini tidak banyak berubah, Korsel tetap akan lolos ke babak kedua (32 besar).

Myung-bo berbeda dengan para legenda lain yang bermain di klub-klub besar Eropa. Sekadar menyebut beberapa nama, yakni Park Ji-sung (Manchester United), Lee Yong-pyo (Tottenham Hotspur), Cha Bum-kun (Eintracht Frankfurt, Bayer Leverkusen), Koo Ja-cheol (Wolfsburg), Ahn Jung-hwan (Perugia), Seol Ki-hyeon (Anderlecht, Fulham, Reading), atau generasi terkini seperti Son Heung-min (Bayer Leverkusen, Tottenham Hotspur, Los Angeles FC), Lee Kang-in (Paris SG), Hwang Hee-chan (Wolverhampton), dan sekian nama lainnya. Petualangan terjauh Myung-bo “hanya” bermain untuk Los Angeles Galaxy di Liga Amerika Serikat pada periode 2003-2004.  Namun, dia punya kharisma yang mendapat tempat terindah di hati rakyat Korsel.

Advertisement

Pada Piala Dunia 2002, saat Korsel bersama Jepang menjadi tuan rumah, tim yang diasuh Guus Hiddink itu melaju hingga ke semifinal. Sebuah pencapaian yang belum pernah didapat generasi sebelumnya. Hingga kini juga belum terulang lagi. Korsel kalah 0-2 dari Jerman di semifinal. Lalu dalam perebutan tempat ketiga juga kalah 2-3 dari Turki. Saat lawan Turki, gol cepat Ilhan Manzis para menit pertama, dianggap kelalaian Myung-bo sebagai kapten dan orang terakhir di pertahanan. Namun, eforia keberhasilan Korsel masuk 4 besar membuat publik melupakan itu. Myung-bo dan teman-temannya dianggap pahlawan. Hiddink dianggap miseas berkulit putih. Myung-bo dapat penghargaan pribadi sebagai pemain terbaik ketiga turnamen.

Sejak itu, generasi emas Korsel itu sangat dihormati di mana-mana. Pemain-pemainnya mudanya laku keras di klub-klub Eropa. Termasuk Park Ji-sung yang langsung disunting Manchester Merah. Namun, ketika rekan-rekan mudanya berkarir di Eropa, Myung-bo tahu diri. Saat itu usianya tak muda lagi. Dia sudah berumur 33 tahun. Dia kemudian menghabiskan satu musim di Liga Amerika dalam 38 pertandingan. Setelah itu dia pensiun –di klub maupun timnas-- dan pulang ke Korea. Dia mengakhiri karier sebagai pemain timnas dengan 136 pertandingan dan mencetak 10 gol.

“Saatnya Korea berganti pemimpin (kapten, red) baru,” katanya ketika itu.

Setelah pensiun sebagai pemain, dia tetap tak bisa jauh dari sepakbola. Setahun setelah itu, dia menjadi asisten pelatih timnas saat dipegang oleh Dick Advocaat dan Pim Verbeek. Tahun berikutnya dia jadi asisten di Korea U-23. Tahun 2009, dia dipercaya sebagai pelatih utama Korea U-20. Setelah lama memilih vakum, pada 2013 dia berguru ke Rusia, menjadi asisten pelatih di klub Anzhi Makhachkala. Tak lama kemudian, dia ditunjuk oleh Federasi Sepakbola Korsel (KFA), menjadi pelatih timnas senior. Dia berhasil membawa Korsel lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil. Sayangnya, di sana, Korsel pulang dengan hasil babak belur. Hanya berhasil meraih satu poin dari tiga pertandingan setelah bermain imbang 1-1 dengan Rusia. Selebihnya, kalah 2-4 dari Aljazair dan 0-1 dari Belgia.

Sepulang dari Brazil, dia mengundurkan diri. Publik Korsel tak bereaksi keras karena kegagalan itu. Mereka tahu, setelah era Park Ji-sung dkk berakhir, Korsel seperti kehilangan generasi terbaiknya. Myung-bo dimaklumi karena terjadi alih generasi ketika itu. Bahkan Son Heung-min, kapten Korsel sekarang, baru memulai kebintangannya ketika itu. Ini berbeda dengan ketika Korsel gagal lolos ke babak kedua Piala Dunia 2018 saat ditangangi Shin Tae-yong. Meski sempat mengalahkan Jerman ketika itu, saat pulang, mereka dilempari telur saat tiba di bandara.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Ronaldo, Messi, dan Rasa Hormat kepada Para “Monster

Ronaldo, Messi, dan Rasa Hormat kepada Para “Monster

Ronaldo tak perlu membuktikan apa-apa di Piala Dunia 2026 ini. Bahkan, jika pun dia tak mencetak satu gol pun, dia tak perlu berkecil hati.

Neymar Masuk dari Bangku Cadangan untuk Penampilan Pertamanya di Piala Dunia 2026, Begini Respons Pelatih dan Pemain Brasil

Neymar Masuk dari Bangku Cadangan untuk Penampilan Pertamanya di Piala Dunia 2026, Begini Respons Pelatih dan Pemain Brasil

Neymar masuk dari bangku cadangan Brasil untuk penampilan pertamanya di Piala Dunia 2026, di mana dia masuk menggantikan Matheus da Cunha.

Piala Dunia 2026: Penampilan Singkat Guillermo Ochoa Amankan Kemenangan Sempurna Meksiko di Babak Penyisihan Grup

Piala Dunia 2026: Penampilan Singkat Guillermo Ochoa Amankan Kemenangan Sempurna Meksiko di Babak Penyisihan Grup

Penampilan singkat kiper veteran Guillermo Ochoa mengamankan kemenangan sempurna Meksiko di babak penyisihan Grup A Piala Dunia 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer