CHAIDIR (TOKOH MASYARAKAT RIAU)

Pakaian Kebaikan dan Keburukan

Petuah Ramadan | Rabu, 05 Mei 2021 - 09:53 WIB

Pakaian Kebaikan dan Keburukan
Chaidir (Tokoh Masyarakat Riau)

Hubungan horizontal manusia dengan sesamanya, yang kemudian membentuk bangunan masyarakat, dewasa ini samar-samar terlihat sedang mengalami distorsi besar-besaran. Indikasinya terlihat dari menipisnya semangat toleransi. Masyarakat kita seakan bermetamorfosa menjadi masyarakat aneh, masyarakat yang kehilangan pegangan, masyarakat yang kehilangan rasa saling percaya satu sama lain.

Kita sangat mudah terpukau pada simbol-simbol dan sangat mudah pula tertipu. Siapa di antara makhluk yang bernama kebaikan dan keburukan itu yang menggunakan simbol-simbol secara tidak sepatutnya dan menyebabkan orang-orang gagal fokus? Ilustrasi berikut dari penyair Arab perantauan Kahlil Gibran agaknya menarik untuk membawa kita kepada sebuah pemahaman.


Alkisah, kebaikan dan keburukan melucuti pakaiannya dan berenang bersama di pantai. Setelah puas berenang, keburukan selesai duluan, dan langsung pergi dengan mengenakan pakaian kebaikan. Sesaat kemudian kebaikan selesai pula berenang, kemudian ke tepi. Alangkah terkejutnya dia, pakaiannya raib. Kebaikan berasumsi, pakaiannya telah dikenakan oleh keburukan. Daripada malu tak berbaju, apa boleh buat, kebaikan dengan berat hati terpaksa memakai pakaian keburukan.

Maka, tulis Kahlil Gibran, sampai sekarang susah dibedakan antara kebaikan dan keburukan bila hanya melihat dari pakaiannya. Bila tak diamati baik-baik, silakan tertipu. Sebab pakaian tak lagi menjadi simbol yang mencerminkan karakter siempunya badan. Orang barat menyebut, "don’t judged a book by it's cover."Jangan nilai sebuah buku dari sampulnya. Dengan kata lain, baca dulu, baru kita bisa memberi penilaian. Bicara dulu dengan orangnya, kemudian nilai karakternya, jangan hanya dinilai dari pakaiannya. 

Masyarakat kita dewasa ini dipenuhi oleh simbol-simbol. Beraneka ragam simbol, seperti simbol kebangsaan, simbol agama, suku, ras, golongan, politik, partai, dan sebagainya. Dan masing-masing simbol menyembunyikan aneka wajah di balik pakaiannya. Masing-masing dengan pakaian kebaikan dan keburukan yang susah dikenali.

Semakin banyak yang terpukau kemudian tertipu, semakin mempertegas bahwa simbol semata tak lagi menjanjikan sesuatu sesuai yang digambarkan. Simbol telah merusak rasa saling percaya satu sama lain. Asumsi umum, jangan-jangan simbol itu hanya sekadar topeng, yang belum tentu  menggambarkan wajah yang sesungguhnya. Bila ketiadaan rasa saling percaya itu meluas di tengah masyarakat dan berlangsung lama, maka akan membentuk kebiasaan baru rasa saling tidak percaya di tengah masyarakat. Padahal budaya saling percaya ini adalah modal sosial yang sangat penting bagi sebuah bangsa melebihi modal kekayaan sumber daya alam.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat sangat mudah terpukau pada simbol-simbol dan sangat mudah pula tertipu? Jawabannya, tak ada kecap nomor dua, semua kecap nomor satu. Dalam masyarakat modern sekarang, konsep pemasaran (marketing) tak lagi hanya monopoli pemasaran bisnis. Bidang lain, seperti bidang politik, pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, semua menggunakan pendekatan pemasaran untuk pencapaian tujuannya.

Dalam pendekatan pemasaran tersebut semuanya dipoles rancak seperti program partai, kebijakan pemerintah, pembentukan kabinet, perwajahan organisasi, juga kandidat dalam sebuah kontestasi. Brand image (pencitraan) menjadi demikian penting. Pencitraan menurut Water Lippman (1965), merupakan gambaran tentang realitas, mungkin saja—tidak sesuai dengan realitas. Inilah masalahnya. Apalagi kemudian kita berada dalam suatu masyarakat dengan tingkat politisasi yang overdosis seiring keterbukaan pers, internet dan media sosial yang bebas tak bertepi.  

Baca Juga : Jemur Pakaian

Pembangunan karakter bangsa adalah resep yang mujarab. Seringkali kita tidak menyadari bahwa musuh utama yang membuat kita sering tertipu, gagal fokus dalam pencapaian tujuan, tidak berada di luar sana. "The enemy is not out there,"kata pakar manajemen dunia Peter Drucker. Musuh itu ada di dalam diri kita sendiri. Bersarang dan berkembang biak di dalam pikiran kita, merusak dan mengganggu segala pemikiran positif dan didikan yang baik yang selama ini kita dapatkan. Musuh dalam diri kita itu ibarat virus yang menggerogoti akal budi.

Ada yang berpendapat, seandainya agama bisa diringkas, maka intinya adalah akhlak mulia (best character). Pendapat itu tampaknya tidak terlalu menyimpang dari kebenaran. Sebab Rasulullah Muhammad SAW diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Seribu empat ratus tahun kemudian, si jenius barat, Albert Einstein mengakui tesis akhlak mulia ini, misalnya ketika dia menyebut, bahwa yang menjadikan seorang ilmuwan menjadi ilmuwan besar dan terpandang, bukan karena kepintarannya, melainkan karakternya.

Akhlak mulia akan bisa diamati dalam diri seseorang walaupun dia menggunakan pakaian keburukan. Emas tetap emas walaupun berada dalam lumpur. Sebaliknya, pakaian kebaikan tak akan bisa menyembunyikan taring serigala.***  
 


Bank BJB
Living World Lebaran Shoping




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook




EPAPER RIAU POS  11-mei.jpg

telatah ramadan

Colok Tujuh Likou

Selasa, 11 Mei 2021
Colok Tujuh Likou




riau pos PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com