
Bulan Ramadan menjadi bulan dambaan bagi setiap insan yang beriman. Sebab Ramadan tidak hanya menawarkan pahala yang berlipat, namun juga menghadirkan suasana yang khidmat juga berkat. Salah satunya adalah suasana berkumpul-nya keluarga. Hal ini terlihat pada saat berbuka, sahur dan juga salat bersama.
Oleh karena itu, momentum Ramadan menjadi sebuah keniscayaan dalam menanamkan nilai-nilai religiusitas dan kebaikan yang akan berpengaruh dalam mengukuhkan bangunan yang bernama keluarga.
Sebagai institusi dan organisasi terkecil, keluarga memiliki fungsi yang sangat signifikan dalam kehidupan. Sebab organisasi besar seperti negara bangsa, sejatinya adalah kumpulan dari keluarga-keluarga.
Oleh itu bila keluarga dan nilai-nilai yang terinternalisasi di dalamnya nilai-nilai yang baik, maka secara simetris akan berkorelasi terhadap keluarga itu sendiri dan juga kehidupan kebangsaan.
Demikian juga sebaliknya, bila nilai-nilai yang tumbuh dalam keluarga nilai-nilai yang tak sejalan dengan nilai ketuhanan, maka akan berpengaruh terhadap keluarga dan juga bangsa.
Seperti ungkapan adat Melayu, “ Bila rumah tangga hidup semenggah, anak cucu akan menyalah, bila rumah tangga aman sejahtera, disitulah tempat surga dunia”. Artinya keluarga menjadi elemen penting untuk untuk mendapatkan suasana kehidupan yang aman dan damai.
Pemandangan keluarga belakangan ini terkadang menghadirkan potret yang tak enak dipandang. Adanya kasus keluarga bunuh diri, anak yang ditelantarkan, perundungan (bullying), dianiaya bahkan ada yang terbunuh. Anak yang melawan, menganiaya dan mencelakakan orang tua. Suami yang mengkhianati, menganiaya, memukul isteri (KDRT). Isteri yang semena-mena, terlibat sengketa, mudahnya ikatan perkawinan diungkai, dan beragam masalah yang melanda keluarga, sesungguhnya menunjukkan, bahwa ketahanan keluarga sudah mulai goyah.
Oleh karena itu, ada nilai-nilai yang diajarkan Ramadan agar ketahanan keluarga itu semakin kuat dan tidak mudah goyah dan diperdaya oleh zaman.
Pertama, nilai ketuhanan. Ramadan mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Ini terlihat bagaimana manusia menjadi lemah dan lelah bila tidak terasupi oleh makanan. Kelemahan ini mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk lemah dan memiliki ketergantungan terhadap Tuhan.
Kedua, nilai keteladanan. Ramadan mengajarkan bagaimana nilai-nilai keteladan itu diajarkan melalui serangkaian ibadah yang dilakukan. Orang tua mengajarkan kepada anaknya bagaimana berpuasa. Mulai dari membangunkan ketika sahur, menanti berbuka bahkan menjalani ibadah bersama-sama di masjid atau musala serta rangkaian ibadah lainnya seperti berbagi takjil maupun sedekah. Semua itu akan berjalan dengan baik, bila dimulai dengan keteladan dari orangtua terutama ayah sebagai kepala keluarga.
Ketiga, nilai kebersamaan. Pada bulan-bulan selain Ramadan boleh jadi intensitas dan kualitas pertemuan dengan anggota keluarga tidak maksimal. Seperti orang tua asyik dengan pekerjaan, bahkan tak jarang orang tua berangkat kerja ketika anak masih tidur dan pulang kala anakpun sudah tidur. Sehingga rumah hanya menjadi tempat singgah dan peraduan saja, yang jauh dari nilai kehangatan kebersamaan. Alhasil, hubungan orang tua dengan anak menjadi kering kerontang. Ruang-ruang percakapan dan kehangatan tidak hadir dalam rumah. Semua asyik dengan tugasnya masing-masing, sehingga tak jarang anak kehilangan sosok tempat berpagut dan berpaut. Relasi suami istri juga hanya sebatas pemenuhan legalitas dan penuh kehambaran. Namun dalam bulan Ramadan, nilai kebersamaan yang semakin jarang bisa dimaksimalkan kembali dengan intensitas pertemuan dan terbukanya ruang percakapan seperti saat berbuka, sahur, ibadah bersama.
Keempat, nilai kepedulian. Dalam keluarga kepedulian adalah nilai penting yang harus terus tumbuh dalam keluarga. Seorang suami harus peduli terhadap istri dan anak-anaknya. Demikian juga istri dan anak-anak terhadap orangtuanya. Kepedulian tidak hanya ditunjukkan dalam perhatian dan sapaan, namun juga dalam bentuk penghargaan sesama anggota keluarga. Sebab hidup tidak akan bermakna dengan baik, manakala tidak hadirnya kepedulian antara sesama anggota keluarga. Kebersamaan dalam keluarga akan menjadi bangunan yang meneduhkan bila masing-masing merasakan apa yang dirasakan oleh anggota keluarga yang lain. Nilai kepedulian ini diajarkan oleh Ramadan. Artinya rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan, rasa itu juga yang dirasakan oleh orang yang kekurangan. Sehingga memunculkan rasa kesadaran, sensitivitas, empati, dan peduli terhadap orang lain.
Kelima, nilai keseimbangan. Cenderung pada satu titik dan meninggalkan titik yang lain dalam hidup hanyalah jalan mundur dalam kehidupan. Menjalani kehidupan dunia dengan mengejar dan mengumpulkan segala atribut duniawi hanya akan membuat hidup penuh dahaga dan tak akan pernah mencapai titik kepuasan. Sebaliknya asyik masyuk dengan balutan baju ukhrawi tanpa menghiraukan tanggung jawab sebagai khalifah di Bumi juga bertentang dengan fitrah yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Padahal Allah sudah jelaskan dalam Surah Al-Qasas Ayat 77 yang artinya: Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia”. Hal ini kita perkuat dalam bait doa kita sesudah salat. “Hai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan akhirat”.
Ramadan mengajarkan keseimbangan itu. Hal ini terlihat bagaimana puasa tidak diperintahkan sepanjang waktu, namun ada jeda, yakni berbuka. Artinya, bandul keseimbangan itu harus wujud dalam kehidupan agar kehidupan itu bermakna dan selaras dengan yang menciptakan kehidupan.
Menilik banyaknya nilai-nilai yang diajarkan Ramadan, sejatinya harus mampu menyadarkan manusia untuk menghadirkannya dalam kehidupan. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi hiasan bibir di langit-langit kehidupan dengan segala kelebihan dan nilai yang membalutnya, namun tak mampu membumi apalagi menyelami kedalaman hati serta menjadikannya sebagai pakaian diri.
Semoga Ramadan yang datang menyambangi, mampu memantik kesadaran untuk mengambil setiap nilai pelajaran yang diberikan dan diejawantahkan dalam kehidupan keluarga.***
Oleh:Suhardi Behrouz, Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Riau
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

